I said: what about my eyes?
He said: Keep them on the road.
I said: What about my passion?
He said: Keep it burning.
I said: What about my heart?
He said: Tell me what you hold inside it?
I said: Pain and sorrow.
He said: Stay with it. The wound is the place where the Light enters you.

- Jalaluddin Rumi

Secara umum, duka adalah suatu kondisi ketika seseorang sedang merasa tidak nyaman oleh karena keadaan/kejadian tertentu. Namun dalam makna yang lebih luas, sebetulnya duka hanyalah ilusi. Pikiranlah yang menyematkannya dengan makna negatif sehingga membuat seseorang menjadi gelisah.

Seseorang mengalami duka karena di dalam dirinya ada penolakan terhadap apa yang sedang terjadi. Penolakan ini disebabkan karena seseorang menggenggam terlalu kuat suatu objek yang dikira hanya itulah satu-satunya yang bisa membuatnya bahagia. Biasanya yang digenggam ini adalah suatu bentuk keyakinan yang berasal dari orang lain/lingkungan, dan sudah tertanam dalam benaknya sebagai suatu kebenaran.

Misalnya, kebanyakan orang meyakini bahwa uang bisa membuat seseorang bahagia. Kemudian keyakinan ini diikuti dan dipercayai juga sebagai suatu kebenaran. Apabila keyakinan ini tertanam begitu kuat, maka seseorang bisa mengalami penderitaan luar biasa ketika sedang mengalami kesulitan finansial.

Padahal di balik semua itu, banyak orang yang tidak punya cukup uang tapi hidupnya jauh lebih bahagia. Maka, dengan demikian, duka menjadi sangat relatif, tergantung pikiran yang melabelinya. Pikiranlah yang membuat seseorang merasa berduka atau tidak.

Atau sebaliknya, ketika seseorang telah berhasil memiliki uang melimpah seperti yang diinginkannya, apakah uang itu benar-benar bisa membuatnya bahagia seperti yang diyakini sebelumnya?

Kenyataannya pada satu titik tertentu, dia justru menginginkan objek lain yang tidak/belum dimilikinya dan belum bisa merasa bahagia jika apa yang diinginkannya belum tercapai. Pencarian ini akan terus-menerus dilakukan tanpa ada akhirnya. Lalu, kapan bahagia itu akan dicapai?

Pada awalnya secara umum orang mencari kebahagiaan dari sumber-sumber yang berada di luar dirinya. Pada uang, pasangan, jabatan, popularitas dan lain sebagainya. Semua itu wajar dan sama sekali tidak salah.

Manusia memang butuh pekerjaan dan uang untuk bekal perjalanan hidupnya. Butuh pasangan untuk saling berbagi dan bekerja sama. Dan apabila diberkahi, seseorang wajar saja menduduki jabatan penting, atau menjadi populer dan lain sebagainya.

Namun bila dikaitkan dengan konteks kebahagiaan, apakah semua itu bisa memberikan kebahagiaan? Bila memang bisa, apakah kekal?

Seseorang mungkin bisa bahagia karena satu objek tertentu, tapi bersamaan dengan itu bisa jadi dia juga berduka karena objek lainnya, yang juga berasal dari luar dirinya. Misalnya, seseorang sangat berbahagia karena punya banyak uang, namun ia juga menderita, karena tidak punya cukup waktu untuk keluarga dan teman-teman, atau kesehatannya terganggu karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

Contoh lain misalnya, seseorang sangat bahagia memiliki pasangan yang cantik/tampan, namun di sisi lain ia juga menderita karena pasangannya tidak setia dan tidak berperilaku baik misalnya. Apa yang selama ini dianggap sebagai sumber kebahagiaan, ternyata juga bisa menimbulkan penderitaan.

Dengan demikian kebahagiaan yang bersumber dari luar diri sebetulnya bukanlah kebahagiaan sejati yang kekal, karena selalu hilang timbul bergantian, dan objeknya pun bisa berubah-ubah. Mungkin bisa diraih dengan mudah tapi bisa juga hilang tanpa dikehendaki.

Lalu, adakah kebahagiaan sejati yang kekal dan tidak terganggu oleh apa pun juga?

Dalam perjalanan batin seseorang, duka sebetulnya merupakan fase yang cukup penting. Karena bisa jadi justru penderitaan inilah yang menyebabkan seseorang tergerak untuk mencari kebahagiaan sejati, dan kemudian mendapat berkah untuk bertemu dengan ajaran-ajaran yang bisa membimbingnya untuk menemukan True Happiness.

Dalam makna yang sempit, seseorang mungkin menolak duka. Namun dalam makna yang lebih luas, penderitaan justru menjadi titik balik bagi seseorang untuk mengubah arah pencarian, yang awalnya mencari keluar, berputar arah untuk menemukan sumber kebahagiaan sejati yang sudah ada di dalam diri.

Dengan mengenali The True Happiness Inside, maka segala duka yang berasal dari luar diri tidak akan terasa sebagai gangguan lagi. Seseorang mungkin bisa mengalami apa pun oleh karena sebab-sebab yang berasal dari luar dirinya, bisa sakit, bangkrut, gagal, dicampakkan, dihina dan lain sebagainya. Namun semua itu tidak lagi membuatnya menderita.

Sementara itu tidak salah juga untuk mencari kebahagiaan yang berada di luar diri, namun bukan untuk dilekati dan bukan untuk digenggam sebagai satu-satunya kebahagiaan mutlak.

Samudra kehidupan selalu membentuk suka dan duka sebagai ombak. Namun kita tetap bisa berselancar di atas pasang surutnya gelombang kehidupan ini.

Rumi berkata, "Wound is the place where the light enters you." Luka adalah tempat di mana cahaya masuk ke dalam dirimu.