15788_64499.jpg
Foto Pribadi Penulis
Budaya · 5 menit baca

Duka Palu yang Belum Usai
(Albert Camus tentang Solidaritas)

Gempa dan tsunami yang menghantam Palu dan Donggala menimbulkan reaksi-reaksi spontan belakangan ini. Banyak pihak memanjat doa, menggalang dana, dan memberikan bantuan spontanitas.

Inisiatif ini terjadi tanpa paksaan, sebab duka Palu dan Donggala adalah duka kolektif. Sesama yang menderita adalah aku yang lain. Karena itu, duka para korban adalah duka aku pula.

Di samping reaksi spontan yang menampilkan solidaritas, cinta, dan peduli terhadap sesama, ada juga pihak yang menampilkan reaksi berbeda. 

Pihak ini beranggapan bahwa bencana adalah kutukan Tuhan. Bencana adalah puncak amarah alam terhadap manusia. Bencana adalah kelalaian manusia mencintai alam dan kelupaan manusia terhadap kasih Allah. 

Dengan kata lain, ada ketimpangan manusia di hadapan Allah dan alam, sehingga mendatangkan bencana. Tegasnya, bencana adalah kesalahan manusia.  

Lebih parah lagi, jika ada pihak yang berkehendak nakal memanfaatkan bencana sebagai ladang meraup keuntungan pribadi maupun kelompok, maka air mata seorang bocah tengik yang kehilangan nyawa orang tua adalah sumber kelimpahan berkah.

Tangisan para korban akan menjadi kegembiraan demi kepentingan tertentu. 

Keadaan ini dapat saja terjadi pada diri seorang manusia, sebab manusia tidak pernah terpisahkan dari segala kebutuhan dan aneka kepentingan.

Lantas, bagaimana seharusnya manusia bersikap di hadapan bencana? Perlukah mempersalahkan sesama, Tuhan, dan alam, sementara banyak korban gempa belum juga ditemukan dan ratap tangis belum juga usai? 

Di hadapan bencana, manusia tidak perlu bertanya banyak hal, selain bertindak konkret menolong sesamanya. Demikian Albert Camus, Filsuf dan Sastrawan Prancis, membangun sikap solidaritas terhadap sesama yang menderita.

Tulisan ini mengangkat pemikiran Albert Camus tentang solidaritas di hadapan bencana yang dituangkannya dalam novel Sampar (La Peste)

Karya Camus dapat menjadi bahan permenungan diri di hadapan bencana.

Sampar sebagai bencana dan ragam reaksi

Novel Sampar sebagaimana dikatakan NH. Dini merupakan pagelaran kemanusiaan yang sungguh lengkap. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam ragam bahasa dan ditulis dalam gaya bahasa mengalir dengan alur maju.  

Camus ingin menampilkan reaksi manusia di hadapan wabah sampar (bencana) yang mendera dan membunuh penduduk kota Oran, kota dalam kisah ini.  

Mula-mula Camus melukiskan keadaan kota Oran dan kebiasaan penduduk sebelum wabah sampar menghantam kota ini. Bahwasanya, kota Oran adalah sebuah kota biasa yang dapat memberikan kenyamanan dan ketenangan bagi penduduknya. 

Sementara, para penduduk tampak lebih ramah, gesit, dan suka berterus terang menimbulkan keseganan bagi para pengunjung asing.

Duka kolektif penduduk kota Oran bermula ketika wabah sampar mulai mendatangi penduduk lewat kematian tikus-tikus secara tidak wajar. 

“Seekor tikus besar, bulunya basah, muncul dari ujung gelap dan berjalan sempoyongan. Binatang itu berhenti seolah-olah mencari keseimbangan, lalu berlari ke arah dokter, berhenti lagi, kemudian berputar-putar sambil mengeluarkan suara menjerit. Akhirnya, binatang itu tergeletak, darah tersembur dari moncongnya yang setengah terbuka.” (Nh. Dini, 2014:9).

Camus bergerak dengan alur semakin memuncak. Ia mulai melukiskan kematian para penduduk, pengkarantinaan penduduk yang menderita sampar, kecurigaan satu sama lain, suasana penguburan korban, perpisahan, kesedihan dan ratap tangis kehilangan keluarga. 

Bau mayat memenuhi seluruh kota. Kota Oran menjadi lebih pekat dan sunyi.

Dalam keadaan demikian, Camus lalu menampilkan reaksi penduduk. Ia melukiskan sikap pasif kebanyakan penduduk yang cepat terbiasa dan mudah berputus asa. Sementara yang lain mengambil keuntungan dalam penderitaan kolektif dengan menaikkan harga barang. 

Beberapa di antaranya enggan terlibat menolong korban, karena merasa diri bukan bagian dari penduduk kota Oran. 

Pemerintah setempat enggan pula mengambil keputusan yang cerdas. Sementara kaum religius melangsungkan perayaan pengampunan dengan kotbah panjang mempersalahkan umat. 

Bagi kaum religius, bencana sampar adalah kutukkan Tuhan ke atas penduduk kota Oran, karena telah berdosa di hadapan Tuhan. Satu-satunya cara adalah bertobat dan berdoa mohon ampun.

Camus tidak hanya menampilkan sisi gelap manusia. Ia melukiskan beberapa tokoh lain yang bersolider dan terlibat di sisi korban. 

Tokoh utama cerita, dokter Rieux adalah perwakilan pribadi Camus. Rieux dan beberapa temannya tampil tanpa ambisi menjadi pahlawan dalam penderitaan kolektif ini. 

Mereka terlibat secara jujur dan mengabdi secara total dalam pelayanan tanpa kenal lelah. Sebab bagi Camus, di hadapan bencana, manusia tidak perlu bertanya banyak hal, selain bertindak konkret menolong sesamanya.

Dalam palung duka

Duka Palu, Donggala dan Kota Oran menjadi sama dalam penderitaan kolektif. 

Bahwasanya, di sana ada kematian, ratap tangis kehilangan, derita manusia yang tak lekas hilang, dan segala rasa yang tidak akan diwakili oleh kalimat, selain sentuhan dan keterlibatan langsung sesama untuk mengurangi (bukan menghilangkan) penderitaan ini. Semua tenggelam dalam palung duka. 

Lebih dari itu, reaksi pihak lain dalam duka itu juga merupakan kesamaan yang tak dielak. Oleh karena itu, keterlibatan segala pihak manapun termasuk negara dalam duka Palu, Donggala patut diapresiasi.

Karya Albert Camus terkesan diliputi duka. Persis pengalaman duka Palu dan Donggala saat ini. 

Karya Camus mendorong manusia untuk bercermin diri. Bahwa, sejauh mana manusia bertindak bagi sesamanya yang menderita. Tegasnya, bagaimana manusia menghayati diri sebagai makhluk sosial.

Camus menawarkan satu konsep penting dalam palung duka, yakni solidaritas. Solidaritas Camus adalah totalitas keterlibatan bagi sesama yang menderita tanpa perlu bertanya banyak hal. 

Artinya, manusia terlibat dalam penderitaan dan senasib dengan sesama secara konkret tanpa perlu mencari tahu atau memvonis segala sebab. Manusia hanya perlu bertindak secara konkret bagi korban. 

Camus lebih menekankan kehadiran konkret, sebab baginya nilai kemanusiaan itu lebih utama. Kehadiran untuk sesama yang menderita jauh lebih utama ketimbang memikirkan segala sebab lainnya. Itulah solidaritas Camus.      

Dalam konteks duka Palu dan Donggala yang belum usai, solidaritas Camus menjadi relevan. 

Sejauh ini, banyak pihak termasuk negara telah terlibat riil menanggung penderitaan korban. 

Ada banyak aksi kemanusiaan terlaksana di pelosok-pelosok tanah air ini untuk duka Palu dan Donggala. Duka Palu dan Donggala adalah duka bersama, duka kolektif manusia. 

Karya Camus dapat menjadi permenungan semua manusia untuk mawas diri dalam duka ini.

Lebih jauh, konsep solidaritas Camus perlu mendapat tanggapan. Seyogianya, kehadiran riil dan perasaan senasib dengan korban adalah keharusan, tetapi pertimbangan lain yang juga penting adalah upaya memikirkan dan menerapkan langkah preventif bencana. 

Dalam tataran ini, kekurangan Camus adalah ajakan bagi banyak pihak untuk memikirkan upaya konkret mengatasi bencana.

Duka Palu dan Donggala adalah adalah duka Indonesia dan dunia. Duka ini merangkum ketakberdayaan manusia dan segala kelebihannya di hadapan bencana. Namun, bencana tetap tidak menghilangkan jati diri manusia sebagai makhluk berakal budi. 

Oleh karena itu, dalam palung duka yang belum usai, bolehlah manusia memikirkan tindakan preventif riil, seperti menyiapkan sarana prasarana tanggulang bencana yang memadai dan pencerdasan masyarakat agar masyarakat selalu siap, tidak gegabah, dan tidak panik dalam menghadapi bencana yang selalu datang tanpa ketakpastian.