"Agar manusia di bumi perlahan melemah mental dan fisik, beberapa waktu jelang mereka berkunjung dan berkoloni di bumi. Mereka, makhluk melata yang tertebar antara langit dan bumi."

Perihal virus dan bakteri keduanya ada perbedaan yang mendasar.

Bakteri benda hidup berkategori hewan, mulai dari yang bersel tunggal hingga multisel, kebanyakan mikrokospik. Hanya bisa dilihat wujud dan gerak geriknya melalui mikroskop. 

Hebatnya, bakteri ada yang aerob, butuh udara/oksigen. Adapula yang anaerob, mampu hidup tanpa keberadaan oksigen. Sebaliknya, jamur masuk kategori tumbuhan yang keberadaannya bisa mikroskopik juga bisa nampak dengan mata telanjang.

Kedua benda hidup tersebut ada yang berguna bagi manusia, ada pula yang bersifat parasit merugikan. Bakteri yang merugikan contohnya Staphilococcus auerus penyebab radang paru (Pneumonia).


Kecil Banget.

Seringkali, pengobatan terhadap bakteri ataupun jamur, yang menggunakan senyawaan kimia medis antibiotik, justru membuat mereka semakin digdaya karena kemampuan resistensi mereka semakin terasah.

Oleh karenanya, setiap 20 hingga 30-an tahun sekali, bisa ditemui obat antibiotik dengan embel-embel 'Neo' pada nama mereknya. Menandakan merek obat tersebut mengandung senyawa kimia antibiotik yang sama, namun berubah konsentrasi ataupun mengandung senyawaan aditif lain sebagai peningkat daya kerja.

Sementara, virus cenderung ke bukan makhluk hidup. Melainkan semacam substansi pembawa kode-kode genetika yang seringkali menjadi penyebab rusaknya sistem produksi protein, dalam makhluk hidup yang menjadi inang.

Ukuran virus jauh lebih kecil dari bakteri. Oleh karenanya virus hanya mampu dilihat wujud dan dipelajari pola berparasitnya melalui mikroskop elektron, bukan mikroskop biasa.

Semua makhluk hidup baik hewan maupun tumbuhan bisa menjadi sasaran inang si virus. Bahkan bakteri sel tunggal pun bisa 'pecah' akibat serangan virus spesial perusak sistem sintesa protein bakteri yang dinamakan Bakteriofag, virus pemangsa bakteri.


Something Out There.

Asal muasal virus sampai sekarang masih diperdebatkan. Karena pada dasarnya bumi hanya ditempati oleh makhluk hidup yang mampu berperilaku dan benda mati yang bisa dieksplorasi maupun dieksploitasi, sebagai penunjang peri kehidupan si makhluk hidup, khususnya yang paling berakal yaitu manusia.

Virus itu aneh. Cenderung berkriteria sebagai benda mati, namun mampu menebar kode genetik 'jahat' dalam Asam Ribo Nukleat, RNAyang tertanam dalam setiap kaki-kaki virus.

Tak hanya itu, kebanyakan virus tak memiliki Asam Deoksiribo Nukleat, DNA, sang arsitek proses sintesa protein dalam tubuh makhluk hidup. Sehingga mereka cenderung berkriteria sebagai benda mati.

Ibarat sebuah bangunan, DNA itu Insinyur Arsitekur Sipil, sedangkan RNA adalah tukang-tukang bangunan. Virus yang punya RNA namun tanpa DNA, ibarat sebuah bangunan tanpa rancang arsitektur. Bangunan yang langsung terbangun.

Dalam proses sintesa protein, DNA bersifat pemberi perintah, sementara RNA sebagai pelaksana kerja. Lalu, prototipe kode genetik dalam RNA yang dibawa oleh virus itu berasal dari DNA mana? Atau DNA siapa? 

Apakah virus tiba-tiba mak 'thing!' langsung punya RNA yang berisikan kode genetik jahat dalam setiap kaki-kakinya?

Ataukah virus itu sejatinya tak berasal dari bumi melainkan buah karya something out there, si pengirim pesan-pesan berkode genetik yang ditumpangkan dalam batu-batu meteorit?

Agar manusia di bumi perlahan melemah mental dan fisik, beberapa waktu jelang mereka berkunjung dan berkoloni di bumi. Mereka, makhluk melata yang tertebar antara langit dan bumi.


Melemahkan Virus?

Virus yang masih berselimut misteri, mengajak manusia terus mempelajari. Dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan bidang Imunologi, maka upaya perlemahan virus untuk tujuan vaksin, masih dalam penelaahan hingga kini.

Bagaimana bisa virus dilemahkan sejauh ini? 

Berurusan dengan virus, berarti berurusan dengan banyak kode genetik rumit. Partikel-partikel kimiawi berukuran Nano, satu per milyar.

Pemahaman tentang kode genetik pun baru terkuak sebagai bagian ilmu Biokimia sejak tahun 1950-an, bahwa mata rantai sintesa protein dalam makhluk hidup melalui peran fungsi DNA dan RNA serta asam-asam amino kode genetik yang terlibat di dalamnya.

Postulat Koch yang berlaku sejak abad 19 hingga sekarang pun masih belum dipenuhi oleh 'perilaku' virus.

Juga, saking kecilnya ukuran fisik virus, membuat penelaahan tentang virus hingga sekarang berkutat pada fenomena nyata dalam wujud reaksi makhluk hidup atas aksi-aksi si virus. Itu pun dengan beragam wujud gejala dan akibat.

Jadi, bagaimana bisa melemahkan virus sejauh ini?


Banyak Tanda Tanya.

Lalu, bagaimana bisa dalam kondisi pandemi kali ini ada klaim produk vaksin untuk virus?

Kenapa cara berpikir, mindset kebanyakan orang diajak untuk memahami bahwa pandemi kali ini biangnya hanya virus semata, Sars-Corona?

Sementara fakta penyebab radang paru adalah makhluk hidup berupa bakteri yang bernama Staphilococcus auerus, yang juga biang Pneumonia pada penderita HIV-AIDS.

Jikakalau pun vaksin telah mendapat klaim sebagai bagian terapan Imunologi dalam pandemi kali ini, kenapa tak fokus pada vaksin hasil perlemahan (Inactivated) bakteri saja?

Sekarang, mari kita luangkan waktu untuk berpikir kritis sejenak.

Vaksin yang diklaim untuk virus, dengan beragam merk dan jenis itu semua, apakah dalam setiap Lembar Data Keselamatan Material, MSDS, telah dicantumkan dengan gamblang perihal sumber dan bahan utamanya apa saja?

Karena virus masih belum dimungkinkan untuk dilemahkan, maka untuk jenis vaksin Inactivated, maka substansi hidup yang dilemahkan apa? Jika bakteri, maka jenis dan nama bakterinya, apa?

Untuk vaksin jenis m-RNA (RNA-messenger/pengirim pesan kode genetik), maka kode genetik yang di'suntik'kan pada biang senyawaan vaksin tersebut, itu berupa rangkaian asam-asam amino apa saja?

Rangkaian kode genetik, sejauh ini masih terbukti berupa hasil rangkaian mendasar 4 macam asam amino, yaitu; berupa pasangan-pasangan tetap Adenin-Timin dan Sitosin-Guanin.

Nah, vaksin m-RNA itu mengandung kode genetika yang bagaimana?

Jika vaksin m-RNA diterapkan di Eropa, apakah jenis yang sama juga bisa langsung diterapkan misalnya di kawasan UEA, tanpa uji kesesuaian 'daya terima' kode genetika manusia ras Eropa ke UEA?

Juga apakah vaksin jenis tersebut bisa langsung diterapkan untuk ras manusia yang hidup wilayah Asia Tenggara?

Bukankah penggunaan vaksin jenis m-RNA tanpa ada uji klinis kesesuaian 'cetak biru' kode genetik antar ras bisa berpotensi membuat cacat kode genetik dalam sel manusia penerimanya?

Untuk vaksin jenis Nanoparticle, bagaimana bisa diyakinkan bahwa ukuran partikel nano senyawaan garam penghambat replikasi kode genetik dari RNA jahat si virus telah sesuai dan tak justru mengganggu fungsi sel-sel normal yang dimiliki oleh si inang (manusia)?

Adapun vaksin jenis Viral Vector lebih masuk akal, karena terbukti mampu menghambat perkembangan sel kanker.

Pendekatan mencegah salah informasi perintah DNA terhadap RNA-d, yaitu RNA penduplikat kode genetik, agar tak terjadi sintesa protein berlebih dan menumpuk menjadi sel tumor, memang mendekati metode upaya untuk menghambat RNA jahat yang dibawa virus saat menyerang Ribosom, bagian 'pabrik' protein dalam sel.

Agar, dalam Ribosom tetap dihasilkan protein-protein baik, yang berfungsi menunjang kehidupan makhluk hidup.

Hanya saja, sampai sejauh mana vaksin jenis Viral Vector ini telah dikonfirmasi efektif mengawal RNA-d agar tak menduplikasi RNA jahat bawaan virus, masih belum ada penjelasan rinci dalam suatu sertifikat. Semacam Certificate of Analysis (COA), yang menyertakan setiap produk vaksin.


Disiplin Prokes.

Jadi, untuk vaksin yang diklaim sebagai 'vaksin virus', mengapa tak terbuka saja. Bahwa vaksin virus yang beredar adalah 'vaksin virus'. Masih bertanda kutip. Karena vaksin untuk virus, sejatinya masih belum memenuhi Postulat Koch.

Lalu kenapa tak fokus ke upaya perlemahan bakteri Staphiloccocus auerus saja buat bahan vaksin?

Kenapa 'memaksa' mindset bahwa vaksin yang beredar adalah untuk virus, sementara dalam MSDS ataupun COA produk vaksin, tak pernah jelas asal-usul bahan dasarnya apa saja.

Atau riset pengembangan penawar pandemi ini dialihkan bukan berupa suntikan produk vaksin, melainkan ke pembuatan serum alami hasil isolasi Lektin pisang batu (Musa balbisiana), yang terbukti efektif meredakan serangan bakteri penyebab Pneumonia pada penderita HIV, berdasar temuan dan hasil riset tahun 2010.

Penelitian dan pengembangan tentang vaksin bakal terus dilanjutkan, beriring kemampuan zat-zat renik parasit yang bertahan dan berkembang.

Perihal menghadapi mutasi, kemampuan ajaib yang dimiliki virus untuk menambah kapasitasnya menebar penyakit, maka bisa dihadapi dengan disiplin menerapkan Protokol Kesehatan, Prokes.

Ada pantun begini; 

'Pakai irus buat masak ikan teri, tongkol pepesan pembahagia hati. Apakah Virus atau Bakteri, Protokol kesehatan harus dijalankan sehari-hari.'

Apa saja itu Protokol kesehatan?

Doa, Upaya, Ikhtiyar, Tawakal, kenakan MASker, CUci tangan pakai sabun, KUrangi Pergaulan berjarak dekat, konsumsi MASakan bergizi.

Disingkat; DUIT MAS CUKUP MAS.