7 bulan lalu · 252 view · 6 menit baca · Filsafat 33501_66473.jpg
www.almrsal.com

Dua Syarat untuk Membangun Definisi yang Tepat

Ngaji Mantik Bag. 32

Dalam dua tulisan sebelumnya sudah kita jelaskan bahwa ta’rif yang bisa dijadikan dasar dalam ilmu mantik itu hanya ada empat, yaitu ta’rif bilhadd, dengan dua macamnya, dan ta’rif birrasm, dengan dua macamnya. Kaidah yang diberlakukan untuk masing-masing ta’rif sudah kita jelaskan di sana.

Namun, meski kaidahnya sudah jelas, kadang kita masih terjebak dalam kekeliruan. Kekeliruan itu, antara lain, disebabkan karena ketidaktahuan kita tentang syarat-syarat yang diberlakukan untuk membangun sebuah definisi yang tepat.

Ibarat orang mau salat, sekalipun sudah tahu rukun-rukun yang harus dikerjakan, salatnya tidak akan sah jika yang bersangkutan tidak mengindahkan syarat-syarat yang ditentukan. Artinya, meskipun syarat itu bukan bagian dari salat, tapi ia menjadi sebab sah atau tidaknya sebuah salat.   

Begitu juga halnya dalam membangun sebuah definisi. Sekalipun kita sudah mengamalkan kaidah, definisi yang kita rangkai belum tentu tepat sasaran jika kita tidak mengindahkan syarat-syarat yang diberlakukan.

Karena itu, meski kita sudah mengetahui sejumlah kaidah dari paparan-paparan sebelumnya, kita masih memerlukan penjelasan lain mengenai syarat-syarat agar definisi yang terangkai menjadi tepat, akurat dan bisa diterima oleh akal sehat.

Syarat-syarat yang dirumuskan oleh para logikawan itu cukup banyak. Namun, kita bisa membagi semua syarat-syarat itu berdasarkan dua aspek utama. Satu, dari aspek maknanya. Dua, dari aspek lafaznya.

Dari aspek makna yang dikandungnya, sebuah definisi yang tepat harus memenuhi dua syarat sebagai berikut:

Mampu Menghimpun

Hal pertama yang harus diperhatikan dalam membangun sebuah definisi yang tepat ialah ketentuan bahwa ta’rif/mu’arrif itu harus mampu menghimpun seluruh individu yang tercakup oleh mua’rraf (sesuatu yang didefinisikan).

Dengan begitu, apa yang dikemukakan dalam sebuah definisi itu menjadi berlaku secara universal bagi semua individu yang tercakup oleh kata yang didefinisikan.

Ketentuan ini sangat masuk akal. Karena penjelasan kita tentang suata kata yang bersifat universal—yang di bawahnya terdapat sekian banyak individu—tentu harus mampu menjelaskan esensi masing-masing individu yang tercakup oleh kata universal itu.

Kalau tidak, maka definisinya menjadi cacat. Mengapa? Karena ketika itu penjelasannya menjadi tidak menyeluruh. Hanya berlaku bagi individu tertentu saja. Sementara kata yang didefinisikan mencakup semua individu, bukan hanya beberapa individu yang tertentu itu.

Contohnya seperti manusia yang didefinisikan sebagai hewan yang berpikir (hayawan nathiq). Ketika kita mendefinisikan manusia sebagai hewan yang berpikir, maka ketika itu tidak ada satupun individu dari manusia yang tidak tercakup oleh definisi tersebut.

Itulah yang dimaksud dengan ungkapan bahwa ta’rif itu labudda an yakuna jami’an. Artinya, definisi itu harus mampu menghimpun semua individu yang tercakup oleh kata yang didefinisikan. Kalau tidak, maka ketika itu definisinya menjadi tidak tepat.

Karena itu, kalau ada ta’rif yang lebih khusus dari mu’raaf, maka ketika itu ta’rif-nya menjadi cacat. Contohnya seperti manusia yang didefiniskan sebagai hewan yang bersyair. Atau hewan yang mampu menyanyi, misalnya. Ta’rif tersebut jelas cacat. Mengapa? Karena dia tidak mampu menghimpun semua individu yang tercakup oleh kata manusia.

Artinya, ketika kita mengartikan manusia sebagai hewan yang bersyair, maka ketika itu kita mengeluarkan sekian banyak jumlah manusia yang tidak bersyair, padahal mereka juga manusia, sekalipun tidak bersyair. Beda halnya ketika kita menyertakan kata berpikir. Kata tersebut mencakup semua individu yang tercakup oleh kata manusia.

Mungkin ada yang bertanya: Lalu bagaimana dengan orang gila dan anak kecil? Bukankah mereka tidak berpikir? Ya, memang mereka tidak berpikir seperti halnya orang dewasa. Tapi mereka punya potensi berpikir. Atau, dalam istilah mantiknya, mereka berpikir bilquwwah (potentially). Karena memang pada dasarnya naluri berpikir itu dimiliki oleh semua manusia, tanpa terkecuali.

Begitu juga halnya kalau kita mengartikan Islam sebagai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw semata. Definisi ini, seperti yang pernah saya singgung dalam salah satu tulisan sebelumnya, kurang tepat. Mengapa? Karena definisi tersebut lebih khusus ketimbang yang didefiniskan.

Islam itu agama seluruh nabi. Lebih jelasnya, Agama yang dibawa oleh seluruh nabi sejak nabi Adam As hingga Nabi Muhammad Saw. Karena itu, ketika Anda mengartikan Islam sebagai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw semata, maka ketika itu ia tidak menghimpun Islam yang juga dibawa oleh nabi-nabi lainnya.

Agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim, Musa, Isa, dan nabi-nabi selain nabi Muhammad Saw itu semuanya tercakup oleh kata Islam. Artinya Islam ini adalah Agama yang universal. Karena itu kurang tepat kalau kita mendefiniskan Islam sebagai agama satu nabi tertentu saja, karena definisi yang tepat itu harus mampu menghimpun semua individu yang tercakup oleh kata yang didefinisikan.

Mampu Mencegah

Di samping mampu menghimpun, sebuah definisi yang tepat juga harus mampu mencegah masuknya segala sesuatu selain mu’arraf. Lebih jelasnya, definisi yang tepat harus mampu memberikan batasan yang tegas sehingga dengan adanya batasan tersebut kita bisa membedakan sesuatu itu dengan sesuatu yang lain.

Contohnya seperti manusia yang diartikan sebagai hewan yang berpikir tadi. Kalau kita mengartikan manusia sebagai hewan saja, maka ketika itu kata tersebut belum mampu mencegah masuknya hewan-hewan lain selain manusia. Kita belum bisa membedakan manusia dengan kuda, sapi, kambing, onta, dan hewan-hewan lainnya.

Tapi ketika kita menyertakan kata berpikir, maka ketika itu kita mencegah masuknya semua makhluk selain manusia kedalam definisi tersebut. Karena makhluk yang berpikir itu hanya manusia. Itulah yang dimaksud dengan ungkapan bahwa ta’rif itu harus mani’an. Artinya, sebuah ta’rif itu harus mampu mencegah masuknya segala sesuatu selain mua’rraf kedalam ta’rif.

Contoh lain: kata salat yang oleh para ulama fikih diartikan sebagai “kumpulan perkatan dan perbuatan yang diawali dengan takbir, diakhiri dengan salam, dengan syarat-syarat tertentu.” (aqwal wa af’al muftatahatun bittakbir wa mukhtatamatun bittaslim bisyaraith makhshushah).

Kalau saja kita mengartikan salat sebagai kumpulan perkatan dan perbuatan saja, maka ketika itu ta’rif-nya belum mani’an. Artinya, kita belum mampu mencegah masuknya perkataan dan perbuatan selain salat kedalam ta’rif salat.

Lebih jelasnya, kita belum menyertakan titik pembeda antara salat dengan ucapan dan perbuatan lainnya sehingga tidak mencegah masuknya selain mua’rraf kedalam ta’rif.

Tapi ketika kita menyertakan rangkaian kalimat selanjutnya, bahwa salat itu bukan hanya sekedar himpunan perkataan dan perbuatan, tapi ia juga diawali dengan takbir, diakhiri dengan salam, dan dengan syarat-syarat tertentu. Ketika itu kita mampu mencegah masuknya segala macam ucapan dan perbuatan selain salat.

Dengan kata lain, setelah menyertakan rangkaian kalimat di atas, kita bisa membedakan salat dengan ucapan dan perbuatan-perbuatan lainnya. Kita bisa membedakan salat dengan yoga, semedi, ngerumpi, garuk-garuk, menulis, dan semua aktivitas yang tergolong sebagai ucapan dan perbuatan. Sekaligus kita juga bisa membedakan salat dengan ritus peribadatan umat Agama lain.

Kalau mau lebih diperjelas lagi, dari dua syarat di atas kita bisa menyimpulkan bahwa antara ta’rif dan mua’rraf itu maknanya harus setara. Tidak boleh yang satu lebih umum, dan yang lain lebih khusus, atau sebaliknya.

Karena itu, kalau ada ta’rif yang lebih umum ketimbang mu’arraf, maka ketika ta’rif-nya juga cacat. Contohnya seperti salat tadi. Kalau salat itu kita artikan sebagai himpunan perkatan dan perbuatan semata, maka ketika itu tentu ta’rif-nya lebih umum, karena yang namanya perkatan dan perbuatan itu bukan hanya salat.

Karena ia lebih umum, maka ketika itu ia tidak akan mampu membedakan mua’raaf—yang dalam hal ini adalah salat—dari ucapan dan perbuatan lainnya sehingga ta’rif-nya pun menjadi cacat.

Begitu juga kalau kita mengartikan manusia sebagai hewan saja, misalnya. Anda katakan bahwa manusia itu adalah hewan. Lalu apa? Kuda, sapi, kambing, onta, dan hewan-hewan lainnya, semuanya juga tercakup oleh kata hewan.

Kata hewan lebih umum ketimbang kata manusia. Karena ia lebih umum, maka tentu ia tidak akan mampu membedakan manusia dari makhluk-makhluk lainnya.

Kesimpulannya, berdasarkan makna yang dikandungnya, sebuah definisi yang tepat itu harus setara dengan yang didefinisikan. Ta’rif itu harus jami’an, mani’an, yakni harus mampu menghimpun semua individu yang tercakup oleh mu’arraf, juga harus mampu mencegah masuknya segala sesuatu selain mu’arraf kedalam ta’rif. Barulah ketika itu definisinya menjadi tepat.

Selain dua syarat tersebut di luar sana masih ada syarat-syarat lain yang dirumuskan berdasarkan lafaznya. Apa saja syarat-syarat itu? Jawabannya akan kita temukan dalam tulisan yang akan datang. Sekian, wallahu ‘alam bisshawab.