98249_98014.jpg
Ilustrator: Daioe
Cerpen · 10 menit baca

Dua Sosok Keren Bergaya Zadul
Di Sebuah Gerai Hape

Di tengah-tengah zaman milenial kini, ternyata masih ada dua sosok keren tapi bergaya zadul (zaman dulu). Dua bersaudara ini bernama Mas Projo dan Dik Karno yang potongan rambut dan gaya berbusananya tidak pernah berganti dari tahun ke tahun dan beberapa waktu lalu mereka berdua memiliki Gerai Hape dadakan setelah mendapatkan arisan keluarga.

Mas Projo dan Dik Karno memang kompak sebagai saudara sekaligus sebagai sahabat. Ya, kemana-mana mereka memang selalu berdua.

Mas Projo berambut keriting sejak dia lahir, dan tidak bisa dipungkiri itu yang selalu membuat dia merasa bangga dengan karunia Tuhan, tatkala ia dipuji banyak orang di sekitarnya. Mulai dari tukang bakso, tukang jagung bakar sampai pemilik warung lotek langganannya. Sedangkan, Dik Karno sendiri, kebalikan dari Mas Projo, rambutnya lurus dan benar-benar lurus bahkan sejak dari dalam kandungan ibunya. Ingatlah itu. 

Mas Projo sudah tidak lagi bersekolah sejak ia lebih memilih menekuni hobinya menggambar dan juga membuat komik ketika usianya 10 tahun dan waktu itu masih duduk di bangku kelas 4 SD. Kebahagiaan Mas Projo memang berada di dalam dunia menggambar dan membuat komik.

Meskipun pada saat bersekolah, ia selalu mendapatkan juara pertama, tetapi ternyata, itu malah membuatnya tak bahagia. Perutnya selalu mulas setiap kali menunggu pengumuman kejuaraan. Ada-ada saja Mas Projo ini. Tapi, memang pendidikan dan kebahagiaan seseorang itu memang unik dan berbeda-beda, jadi tentu ini masih bisa dimaklumi.

Setelah tidak bersekolah, Mas Projo kemudian membuka sanggar lukis dengan ketiga murid tetapnya, yakni Dik Karno, Dik Menthik dan Dik Sri Rejeki, adik-adiknya sendiri. Karena keuletan dan rejeki yang tiba-tiba datang mendadak karena mendapatkan arisan keluarga, maka beberapa waktu lalu Gerai Hape pun akhirnya didirikannya bersama sahabat setia sekaligus adiknya sendiri, Dik Karno.

Bagi Mas Projo, belajar memang tak hanya bisa dilakukan di sekolah formal. Ia merasa lebih maksimal dan lebih bahagia belajar sendiri di rumah sesuai dengan bakat alamnya yang ia temukan sejak kecil, yakni menggambar. 

Tak tanggung-tanggung, akhirnya Mas Projo pun juga membuka sekolah sendiri di rumah bersama adik-adiknya, yakni Sekolah Elite yang berisi les pagi dan sore, tentang pengetahuan umum dan pelajaran sekolah yang mereka sukai, meskipun di dalam praktiknya, sesempatnya saja menyesuaikan kegiatannya yang padat setiap harinya.

Tentang Dik Karno sendiri kisahnya juga sangat klasik, karena ia tidak bersekolah hanya karena sudah terlanjur bisa membaca sejak bayi dan lancar menulis dengan upayanya sendiri sebelum ia berusia tiga tahun.

Seperti kisah anak ajaib, Dik Karno pun juga sibuk dengan sekolah fantasinya sendiri yang bernama Sekolah TOA di usia dini. Tak hanya itu, berjalannya waktu ternyata juga memunculkan satu hobi Dik Karno yang berbeda dengan Mas Projonya, yakni memanah.

Dan Dik Karno pun akhirnya selalu mengisi hari-harinya dengan berlatih memanah daun kering yang digantung sebagai target di pekarangan, sendirian tanpa teman, benar-benar sendiri, kecuali bila Mas Projo sedang tidak sibuk dengan segudang hobinya selain menggambar, pasti Mas Projolah yang menemaninya.

Meskipun memiliki hobi berbeda, tetapi ada satu hobi lain yang sama antara Dik Karno dan Mas Projo. Dan itu adalah mengais-ngais sampah plastik di jalanan dekat rumahnya yang sudah bertahun-tahun dilakukannya bersama, tak hanya berdua, hobi itu bahkan sudah menular kepada dua adik perempuan mereka juga. 

Maka, setiap berjalan-jalan di pagi atau di sore hari, pasti mereka membawa oleh-oleh sampah plastik untuk makanan mesin pencacah plastik yang masih dalam angan-angan Mas Projo dan Dik Karno ini. Dan karena masih belum memiliki mesin itu, akhirnya sampah plastik itu pun mereka tumpuk di sebuah lubang tanah yang besar.

Singkat cerita pada hari Minggu kemarin, keduanya mendadak kompak penuh kebahagiaan memamerkan handphone terbaru mereka di Gerai Hape milik mereka. Handphone dengan merk Lo-tech dan Samsunk mereka tersebut, memang membuat keduanya tampak begitu bahagia, sampai euforia mereka itu tak bisa disembunyikan lagi dari binar mata mereka. 

Ini bukan karena sekedar telah memiliki sebuah handphone baru, tetapi terlebih karena ternyata teman-teman mereka yang datang hari itu, juga sangat menyukainya.

Seolah seperti penuh persaingan, mereka pun menyampaikan keunggulan handphone mereka masing-masing. Meskipun keduanya memiliki keunggulan yang sama pada layarnya, yakni sama-sama layar sentuh dan tahan banting, namun keduanya ternyata juga sama-sama memiliki kelemahan yakni tidak tahan air.

Banyak fitur-fitur dalam masing-masing handphone dan itu menjadi salah satu alasan yang membuat teman-teman mereka terpikat untuk melihat dan mencoba memakainya. Ada Wathshapp, ada Page Book dan ada pula Instantgram.

Kedua bersaudara ini memang sangat kreatif dalam mendesain handphone, yang membuat mereka seolah-olah benar-benar bersaing ketat dan akhirnya membuat mereka memoles handphone nya masing-masing dengan begitu detil. Mulai dari kualitas kamera, pilihan warna produknya, hingga tambahan fitur eksternal handphone nya.

Handphone Lo-Tech, memiliki pilihan warna  begitu memikat dengan warna ungu elegan yang menjadi andalannya. Kamera depan belakangnya pun sama-sama free focus yang tidak ada pada hape saingannya. 

Nama Lo-Tech sendiri diambil dari makanan tradisional kesukaan Mas Projo, yakni lotek, makanan tradisional dari sayuran rebus dengan saus kacang seperti pecel tetapi lebih agak lebih manis di saus kacangnya. 

Maka, Lo-Tech yang diambil dari nama makanan lokal pun, dengan penuh percaya diri akhirnya tampil manis di Gerai Hape milik Mas Projo dan Dik Karno itu.

Dan untuk handphone dengan merk Samsunk sendiri, memiliki keunggulan pada stik khusus untuk menulis pesan atau mengupload karya tulis pada sosial media dengan mudah. Tersedia pula fitur penghapus eksternal yang tidak dimiliki handphone Lo-Tech saingannya.

Desain dan spesifikasi handphone Samsunk memang selalu menjadi pilihan, apalagi ditambah dengan adanya fitur khusus. Tidaklah main-main, fitur ini pun hanya ada di handphone Samsunk saja, sehingga menjadikan handphone Samsunk semakin terkesan eksklusif.

Nah, inilah fitur khusus itu. Fitur itu bernama Sinyal Mak Samsunk, yang mampu mengoptimalkan penerimaan sinyal apapun, dan menjadikan pengguna handphone Samsunk pun semakin bergaya, di manapun dan kapan pun.

Sebenarnya kedua pemilik, yang sekaligus sebagai orang yang mendesain kedua handphone ini, tidaklah punya niat bersaing. Mereka tampil beda bukan untuk bersaing, tetapi karena masing-masing memiliki selera sendiri-sendiri. 

Dan tujuan mereka adalah untuk menginspirasi banyak anak yang ingin memiliki handphone sendiri di usia dini, maka mereka pun bersaing ketat dalam memroduksinya, dan demi menghasilkan produk unggulan yang memikat anak-anak.

Tidak bisa dipungkiri, pada zaman sekarang ini memang banyak anak-anak ingin memiliki handphone sendiri seperti teman-temannya. Dan kadangkala pula sampai menangis-nangis, seolah tidak ada kebahagiaan lain selain memiliki handphone dengan segudang alasannya. 

Rasa percaya diri sebagai anak yang memiliki keunikan dan potensi sendiri sesuai kemampuan masing-masing keluarganya pun, terkadang menjadi terabaikan lagi dan memaksakan diri untuk mendapatkan yang diinginkannya dengan segala cara. Betapa mirisnya keadaan tersebut apalagi terjadi pada anak-anak yang tentunya masih dalam masa pertumbuhan baik secara jiwa maupun raga. 

Masa Tumbuh Kembang Anak

Menurut Mas Projo, otak dan sistem imun anak masih terus berkembang sejalan dengan usianya, terutama untuk anak-anak di bawah usia 13 tahun. 

Pada masa tumbuh kembang ini, gadget yang berkembang sangat pesat pada zaman sekarang, tentu memiliki peran atau pengaruh yang besar pula. Apakah semakin membantu? Atau menjadi salah satu faktor penghambat?

Banyak konten yang tidak sepatutnya dilihat anak yang sekarang tersebar dari benda yang bernama gadget ini. Dan apabila tanpa pengawasan orang tua, tentu akan berdampak tidak baik pada perkembangan kejiwaan anak. Rasa ingin tahu yang besar pada anak dan mudahnya mendapatkan jawaban dari gadget, tentu bisa menjadikan pengaruh kejiwaan yang terkadang tidak mendidik, apalagi tanpa sepengetahuan orang tua.

Belum lagi, bila dunia pendidikan formal malah mendukung ke arah sana, seperti sering memberi solusi mencari jawaban soal dari gadget tanpa pengawasan. Tentu dampak lain, juga akan bisa timbul, yakni tidak menumbuhkan daya kreatif anak dalam mencari jawaban, seperti budaya membaca buku di perpustakaan.

Kecepatan konten di media, tentu juga bisa saja membuat anak menjadi tidak fokus pada satu hal, dan mudah berganti-ganti fokus. Maka kemampuan konsentrasi dan memori anak pun lambat laun bisa menjadi menurun, susah memusatkan perhatian dan berimbas pada kesulitan belajar. Begitu menurut Mas Projo, yang berambut keriting itu pada saat wawancara esklusif dengan koran Englondo Pos pada sesi wawancara di hari Minggu tersebut.

Sedangkan menurut Dik Karno, adiknya Mas Projo yang berambut lurus, gadget terkadang memang sangat membantu bagi anak-anak seperti Mas Projo dan dia yang tidak bersekolah formal.

Namun, apabila mencari jawaban dengan cara yang mudah (instan) dari gadget secara terus menerus, tentu bisa saja tidak melatih atau mengasah otak pada anak dengan maksimal, yang secara tidak langsung mengabaikan budaya membaca buku, mengabaikan dunia mengamati, meneliti dengan kegembiraan, bertanya kepada orang lain (hubungan sosial), dan bersentuhan langsung dengan alam yang sebenarnya tentu lebih menyehatkan, tak hanya kesehatan mata, namun juga jiwa dan raga.

Maka, sangatlah tepat kedua bersaudara ini meluncurkan produk terbaru mereka di hadapan 17 pengunjung di galeri handphone mereka, yakni Lo-Tech dan Samsunk. Dan dua pengunjung yang benar-benar ingin memiliki handphone pun, akhirnya mendapatkan satu handphone gratis dari handphone dengan merk Lo-Tech hasil dari desain Mas Projo.

Handphone Samsunk sendiri, ternyata juga memikat seorang anak berusia dua tahun yang berkunjung ke Gerai Hape hari itu. Dan senyum kemenangan pada wajah Dik Karno pun tak lagi bisa disembunyikan. 

Anak-anak berusia dua tahun pada zaman sekarang, tentu sudah pernah memegang handphone yang sebenarnya (asli). Namun, hasil kreativitas handphone daur ulang dari kardus milik Dik Karno ini, ternyata masih bisa membuat bocah berusia dua tahun itu terpikat, dan itu alasan Dik Karno menjadi besar kepala hari itu.

Tujuh belas pengunjung yang berusia 2 tahun sampai 13 tahun pun akhirnya pulang dengan segudang rasa percaya diri, dengan membawa bahan baku handphone kardus gratis untuk dirakit dan diwarnai sesuai selera, di rumah masing-masing.

Mas Projo dan Dik Karno pun akhirnya banyak belajar dari dua pengunjung yang menginginkan handphone yang salah satunya sampai menangis-nangis untuk meredam keinginan memiliki gadget, tetapi tidak diizinkan oleh orang tuanya. Dan ternyata memang tidak mudah juga menahan keinginan memiliki handphone di masa kini, dengan sejuta alasan.

Para pengunjung pun akhirnya bisa mengerti dengan penjelasan tentang bahayanya penggunaan handphone untuk anak-anak tanpa pengawasan orang tua hari itu, dan mendapatkan salah satu alternatif lain untuk membantu tumbuh kembang mereka dengan maksimal tanpa hambatan dari produk bernama gadget.

Produk Handphone Daur Ulang dari Kardus

Kedua handphone ini memang terbilang aman untuk anak. Bahkan, sangat baik untuk merangsang daya cipta anak dalam tumbuh kembangnya. Mereka tak harus membelinya, bahkan setiap anak bisa membuatnya sendiri dengan bahan dari kardus berkas. Apalagi bila orang tua memiliki waktu luang, untuk membuatnya bersama-sama sang anak.

Mas Projo dan Dik Karno memang hebat. Meskipun Mas Projo sudah berusia 19 tahun dan Dik Karno juga sudah berusia 13 tahun, pada zaman serba gadget sekarang ini, mereka sama sekali tidak memiliki handphone yang sesungguhnya, apalagi akun media sosial.

Dan mereka pun sama sekali tidak terpengaruh, apalagi menginginkannya. Selain itu, kehebatan lainnya adalah mereka bisa membuat handphone sendiri dari bahan kardus, dan bahagia dengan karya cipta mereka sendiri.

Memiliki handphone sendiri dari kardus daur ulang, ternyata tak hanya membantu tumbuh kembang anak dalam merangsang daya cipta mereka, tetapi secara tidak langsung membantu perkembangan motorik kasar dan halusnya agar berkembang dengan baik. Tidak hanya handphone, laptop dan komputer pun bisa dibuat dari kardus bekas, bebas dengan desain dan warna kesukaan sesuai dengan selera pembuatnya.

Selain itu, dengan memiliki karya cipta sederhana seperti handphone daur ulang ini, tentunya juga membantu menumbuhkan rasa percaya diri anak dengan dirinya sendiri dan juga karyanya sendiri.

Dan ini juga satu cara yang baik pula memunculkan kelebihan anak dalam berkarya cipta, yang tidak harus sama dengan yang lainnya, yang tentunya menjadi sangat penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak pada era sekarang.

Bagi anak-anak yang sudah memiliki handphone (asli) sendiri, orang tua atau orang dewasa di dekatnya tentu bisa menawarkan diri untuk membantu memberikan pengawasan dalam penggunaannya.

Singkat cerita pada akhir acara pameran handphone pada hari Minggu itu, beberapa pengunjung memesan handphone kepada Mas Projo. Mereka pun memesan handphone Lo-Tech nya Mas Projo yang hanya satu-satunya itu. Jadilah, kesibukan Mas Projo bertambah satu, menerima pesanan dari beberapa pengunjung.

Mas Projo yang terlalu baik pun tak bisa menolak pesanan. Dia akhirnya kelabakan, mendapat satu pekerjaan di antara segudang kesibukannya yang belum kelar, seperti menata kebun dan mendaur ulang kertas. Itulah salah satu kelemahan Mas Projo, yakni terlalu baik. Beruntunglah Mas Projo memiliki seorang sahabat, yakni Dik Karno adiknya sendiri, yang selalu siap membantu dan menemaninya.

Dik Karno pun akhirnya membantu Mas Projo dengan menghela napas dalam-dalam seraya tersenyum penuh misteri. Yang pasti, sahabat belum tentu saudara, dan saudara belum tentu bisa menjadi sahabat. Maka Mas Projo dan Dik Karno pun bersyukur sekali mendapatkan keduanya. Ya sahabat, ya saudara. Tanpa gadget, mereka sudah bahagia dengan caranya sendiri. Dan mereka itulah, dua sosok keren bergaya zadul ditengah-tengah semaraknya alat canggih yang kita kenal dengan istilah gadget.

Terima kasih sudah membaca sekilas tentang Mas Projo dan Dik Karno yang potongan rambut dan gaya berbusananya pun juga tidak pernah berganti dari tahun ke tahun.

Salam hangat pula dari Mas Projo dan Dik Karno buat semuanya. Mas Projo yang berambut keriting sejak dia lahir dan Dik Karno yang rambutnya sudah lurus, bahkan sejak dari dalam kandungan ibunya. Ingatlah itu. Mereka keren, kan?