Di sini penulis tidak akan merumuskan apakah eutanasi itu baik atau buruk, semua itu kembali kepada pemahaman Anda. Penulis hanya akan menunjukkan beberapa pandangan terkait eutanasia yang sekiranya masih menjadi perdebatan hingga saat ini.

Menurut Cambridge Dictionary, eutanasia atau bisa disebut juga pembunuhan belas kasih merupakan suatu tindakan membunuh seseorang yang sangat sakit atau sangat tua sehingga mereka tidak menderita lagi.

Eutanasia mengimplikasikan bahwa pembunuhan ini dilakukan atas dasar belas kasih yang ditujukan untuk mengakhiri penderitaan seseorang. Beberapa alasan dilakukannya eutanasia adalah karena penyakit yang berkepanjangan dan juga alasan finansial.

Dalam prakteknya, eutanasia terbagi atas tiga bentuk yakni; eutanasia sukarela, diandaikan, dan dipaksakan.

Eutanasia sukarela atau voluntary euthanasia berarti tindakan pembunuhan yang diharapkan oleh pasien akan tetapi ia meminta orang lain untuk melakukannya padanya. Jadi ketika sang pasien berpikir dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, ia meminta bantuan tenaga medis untuk melaksanakan eutanasia.

Eutanasia diandaikan atau non-voluntary euthanasia berarti keputusan tidak berasal dari pasien atas dasar pertimbangan bahwa pasien masih terlalu muda atau terlalu tua untuk memutuskan jadi diandaikan sang pasien mengharapkan untuk eutanasia.

Terakhir yakni eutanasia dipaksakan atau involuntary euthanasia yang berarti eutanasia tanpa sepersetujuan sang pasien. Hal ini biasanya karena finansial atau keputusan yang diberikan kepada orang yang bertanggung jawab atas pasien tersebut.

Argumen seperti ‘pribadi yang rasional memiliki hak otonom untuk menentukan hidupnya sendiri’ dan ‘eutanasia sendiri sudah merupakan bentuk belas kasihan yang bisa diberikan kepada pasien yang menderita’ merupakan alasan mengapa beberapa orang memilih untuk mendukung eutanasia.

Bagi sebagian orang, eutanasia merupakan jalan keluar terbaik yang mungkin untuk dilakukan mengingat sang pasien terlihat begitu menderita. Namun perlu dipahami bahwa pasien yang tidak sadarkan diri tidaklah menderita, bahkan tidak merasakan apapun.

Lalu bagaimana para pro eutanasia bisa menyimpulkan kalau sang pasien sedang menderita sedangkan pasien sendiri tidak sadarkan diri.

Kembali pada persoalan hak otonom seseorang, pilihan individu atas dirinya sendiri harus diperlakukan istimewa. Pada akhirnya, yang menentukan hidup seseorang adalah dirinya sendiri jadi keputusan ada pada pribadi tersebut dan dimungkinkan juga dengan bantuan orang terdekat.

Kurang lebih hal tersebut berarti bahwa seseorang harus bisa menghayati secara penuh hidupnya sendiri berdasarkan keputusan dan pemikirannya sendiri tanpa paksaan dari orang lain sehingga penghormatan atas hak otonom harus dijunjung.

Namun dengan pernyataan tersebut, secara tidak langsung mengatakan jika seorang dokter diperbolehkan untuk membunuh seseorang sekalipun ia tidak sakit atau menderita atas dasar permintaan orang tersebut.

Seorang filsuf, Immanuel Kant, menyatakan kalau hak otonom tidak sama dengan hak supaya keinginannya diperlakukan sebagai kepentingan mutlak. Kant setidaknya menolak adanya eutanasia karena bunuh diri merupakan tindakan irasional dan melanggar hukum moral.

Lalu bagaimana kita memahami hak otonom ini, maka perlu ditanyakan pula tentang kepemilikan hidup ini.

Membahas kepemilikan hidup agaknya memiliki maksud yang agak khusus. ‘Memiliki’ di sini tidak diartikan sebagai kepemilikan secara penuh, semisal dengan mengatakan “dia teman-ku” apakah dengan demikian ‘teman’ itu menjadi milikku seorang?

Jadi tidak rasional dengan mengatakan “dia teman-ku” kemudian memilih untuk membunuh ‘teman’ ini karena itu milikku.

Kemudian kembali pada alasan menghindari atau mengakhiri penderitaan, menjadi salah satu alasan yang membuat orang berpikir untuk melaksanakan eutanasia.

Maka apakah eutanasia diandaikan dan dipaksakan mendapat dukungan yang sama dalam konteks membebaskan seseorang dari penderitaan? Sepertinya tidak demikian.

Hal ini tentu bertentangan dengan hak otonom karena keputusannya berdasarkan orang lain seolah-olah orang lain berhak menentukan kapan hidupku layak untuk diberhentikan.

Keputusan layak atau tidaknya hidup seseorang untuk terus dihidupi tidak bisa datang dari orang lain. Karena sekalipun orang lain melihat hidup kita hancur dan menderita, kita sendirilah yang bisa menentukan untuk hidup atau mati.

Orang cacat pun tidak selalu berpikir ingin mengakhiri hidupnya meski ia tidak bisa melakukan beberapa hal yang orang lain bisa lakukan. Dengan keputusan berada di tangan pribadi, maka hidup menjadi layak untuk dihayati.

Eutanasia mengharapkan petugas medis untuk siap melaksanakan keputusan yang dibuat oleh pasien maupun orang terdekat pasien untuk mengakhiri hidup pasien. Maka ini berarti petugas medis juga harus dididik untuk membunuh, sedangkan pada mulanya mereka bertanggung jawab untuk menyelamatkan hidup seseorang.

Sebenarnya pada pelaksanaan eutanasia kita harus menyadari kembali bahwa yang dipertaruhkan adalah nyawa seseorang. Tindakan membunuh pada dasarnya sudah salah secara moral, tidak peduli bagaimana bentuknya.

Dalam beberapa ajaran agama, hidup merupakan sesuatu yang luhur karena merupakan pemberian Tuhan oleh karenanya pembunuhan tidak dapat dibenarkan.

Maka semua kembali pada bagaimana kita menghayati kehidupan ini, karena dalam beberapa pertimbangan seseorang bisa anti atau pro eutanasia tergantung dari caranya memandang kehidupan.

Daftar Pustaka

Teichman, Jenny. 1996. Etika Sosial. A. Sudiarja, SJ. 1998. PT Kanisius: Yogyakarta, Indonesia.