Dua pertiga dirinya adalah tuhan dan sisanya manusia. Gilgames, demikian namanya sejak lahir. Dialah Sang Raja dari negeri Uruk. Gilgames tinggal di istana sebagai raja adikuasa, ia telah beradab. Tidak satu pun yang mampu menandinginya.

Tersebutlah seorang pelacur bernama Shamhatum, ia merayu Enkidu yang dari hutan belantara. Tidak saja berhubungan badan, tapi Shamhatum juga mendidik Enkidu menjadi seorang penggembala dan menjadi beradab. Singkatnya, Enkidu berhasil diubah menjadi orang kota. 

Shamhatum menemani Enkidu pergi ke kota menemui Gilgames. Sampai di istana, ia diajak bertarung melawan Gilgames. Keduanya sama kuat, tiada satu dapat mengalahkan satu yang lain dan tidak pula memenangkannya. 

Enkidu tidak mampu menyaingi kekuatan Sang Raja, demikian juga Gilgames yang kuwalahan melawan Enkidu yang dari hutan belantara. Keduanya sama kuat, sehingga dari pertarungan ini lahirlah persahabatan yang erat antara Gilgames dan Enkidu.

Gilgames dan Enkidu bertualang bersama hingga ke hutan Pohon Sedar. Keduanya bertemu Dewi Ninsun, ibu Gilgames yang kemudian mengangkat Enkidu sebagai anaknya. Mereka juga meminta pertolongan dewa matahari Syamasy, dan istrinya Aya. Atas petunjuk Dewa Syamasy dalam mimpi keduanya, akhirnya mereka merencanakan penyerangan terhadap Humbaba, raksasa penjaga hutan Sedar.

Dewa Syamasy membutakan Humbaba dengan angin dari segala penjuru. Ditambah dengan kekuatan Gilgames dan Enkidu yang maha dahsyat, Humbaba pun tumbang. Raksasa hutan Sedar memohon ampun kepada dua pertiga tuhan.

Gilgames kemudian kembali ke Negeri Uruk. Ketampanannya telah menyihir banyak wanita, tidak terkecuali tuhan (dewi) Ishtar. Celakanya, tuhan Gilgames menolak lamaran tuhan Ishtar bahkan Gilgames menghina Ishtar. Gilgames muak dengan Ishtar karena Ishtar telah membuat banyak manusia sengsara. 

Tidak terima, tuhan Ishtar mengadu kepada tuhan Anu, bapaknya dan memohon agar mengirim sapi jantan (taurus) dari langit untuk mengacaukan negeri Uruk. Bukan Gilgames dan Enkidu namanya jika tidak berhasil mengalahkan taurus itu. Sapi jantan dari langit itu pun binasa di tangan keduanya. Semakin bertambah alasan Gilgames untuk kembali menghina Ishtar.

Enkidu, seorang ksatria hebat itu akhirnya mati. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di ranjang, bukan di medan perang sebagaimana yang diimpikan para petarung. Awalnya, Enkidu bermimpi soal kematiannya itu. Ia mengutuki tempat bersemayamnya dewa Enlil yang ia bangun dari kayu Sedar ketika bertualang di hutan bersama Gilgames. 

Ia kecewa, ternyata persembahan terbaik yang telah ia bangun tidak mampu menyelamatkan nyawanya. Karena frustasi, Enkidu kembali bermain bersama para pelacur. Sekaligus mengingatkannya saat pertama kali Enkidu memulai kehidupannya yang beradab dengan dipandu pelacur. Enkidu pun mati.

Gilgames sangat terpukul atas kematian karibnya. Semua yang berharga dikorbankannya bersamaan dengan upacara kematian Enkidu. Gilgames gelisah. Ia takut akan mengalami nasib sama seperti Enkidu. Sekuat Enkidu bisa mati? Gilgames terus saja mencari cara agar ia terhindar dari kematian. Ia memutuskan untuk mengembara, mencari Utnapishti yang konon menyimpan obat penawar kematian.

Gilgames terus saja mencari Utnapishti hingga akhirnya tiba di lautan dan bertemu dengan Urshanabi, pelayar yang menyeberangkannya. Gilgames akhirnya bertemu dengan Utnapishti. Ia menceritakan ketakutannya akan kematian. Ia dihantui oleh bayang-bayang betapa Enkidu yang kuat itu ternyata bisa mati. 

Gilgames mengutarakan niatnya untuk bisa hidup abadi. Utnapishti menasehatinya bahwa kematian merupakan hal yang alami dan manusiawi. Pencarian obat abadi gagal. Atas petunjuk Utnapishti, Gilgames ditemani Ursanabi mencari tanaman yang dapat membuatnya kembali muda. Letaknya jauh di bawah air. 

Gilgames tak patah arang, ia menyeberangi air, berjalan di darat, dan menyelami dalamnya air. Sayangnya, tanaman keabadian itu telah dicuri ular. Pencariannya sia-sia. Gilgames tidak berbeda dengan karibnya. Ia tidak immortal. Dua pertiga tuhan itu bisa mati dan tidak abadi.