Dalam tulisan sebelumnya sudah diterangkan bahwa ta’rif bilhadd itu terangkai dari unsur, yaitu jins qarib dan fashl qarib, atau jins ba’id dengan fashl qarib, atau fashl qarib saja, tanpa menyertakan jins.

Jika ia terangkai dari jins qarib dan fashl qarib, maka hadd-nya disebut sebagai hadd tamm (batasan yang sempurna). Tapi jika ia terangkai dari jins ba’id dan fashl qarib, atau fashl qarib saja, tanpa disertai jins, maka ketika itu hadd-nya menjadi hadd naqish (batasan yang tidak sempurna).  

Singkatnya, kalau mau lebih diperjelas lagi, ta’rif bilhadd itu ialah ta’rif yang menyertakan esensi. Karena jins dan fashl itu—seperti yang pernah kita kemukakan dalam salah satu tulisan sebelumnya—masuk kedalam esensi sesuatu. Artinya, keduanya membentuk esensi dari sesuatu yang hendak didefinisikan.

Nah, ketika yang disertakan dalam ta’rif tersebut berupa esensi, maka sangat wajar jika batasannya pun bersifat jelas, tegas, dan sempurna. Dan karena sifatnya yang demikian itulah dia menjadi lebih utama ketimbang ta’rif-ta’rif lainnya.

Namun, tidak semua tata peristilahan ilmiah yang kita kenal itu bisa didefinisikan dengan ta’rif tersebut. Apalagi ia cukup sulit. Karena di sana kita harus mencari batasan yang sedemikian ketat sehingga istilah yang didefinisikan itu benar-benar berbeda dengan istilah-istilah lainnya.

Kebanyakan ta’rif yang digunakan dalam tata peristilahan ilmiah itu masuk kategori ta’rif yang kedua ini, yakni ta’rif birrasm. Ta’rif artinya pengenalan. Rasm bisa diartikan sebagai gambar, bekas, jejak, dampak, pengaruh, dan lain sebagainya. Lalu apa yang dimaksud dengan ta’rif birrasm ini?

Di atas sudah disinggung bahwa dalam ta’rif bilhadd itu yang disertakan adalah esensi, bukan aksiden (sesuatu yang berada di luar esensi). Ta’rif bilhaad adalah ta’rif yang menggunakan jins dan fashl, dan kedua-duanya membentuk esensi sesuatu.

Nah, sedangkan ta’rif birrasm lebih menitikberatkan pada aksiden (‘aradh), atau hal-hal yang berada di luar esensi dari sesuatu itu. Karena itu, ta’rif ini tidak memberikan batasan yang tegas, seperti halnya dua ta’rif sebelumnya.  

Biasanya, yang disinggung dalam ta’rif birrasm ini ialah kekhususan yang dimiliki oleh sesuatu, kegunaannya, manfaatnya, dampaknya, pengaruhnya, dan lain sebagainya. Kalaupun ada penyertaan esensi, esensi yang disertakan itu hanya separuh saja, tidak seutuhnya.

Singkatnya, ia tidak menyingkap seluruh esensi dari sesuatu yang hendak didefinisikan. Karena itu derajat keakuratannya pun berada di bawah dua ta’rif sebelumnya.

Sebagaimana ta’rif bilhadd, ta’rif birrasm ini juga dibagi menjadi dua, yaitu rasm tamm dan rasm naqish. Apa bedanya? Mari kita lihat uraian sebagai berikut:   

Rasm Tamm

Rasm tamm terangkai dari jins qarib dan khasshah. Jins berfungsi untuk menjelaskan jenis sesuatu yang hendak didefinisikan, sedangkah khasshah berfungsi untuk menjelaskan kekhususan yang dimilikinya.

Contohnya, dulu, dalam tulisan ketiga, kita pernah mendefinisikan ilmu mantik dengan dua definisi: bilhadd dan birrasm. Ta’rif yang pertama menjelaskan esensi dari ilmu mantik itu sendiri. Sedangkan ta’rif yang kedua menjelaskan kegunaan atau manfaatnya.

Dengan ta’rif birrasm, ilmu mantik didefinisikan sebagai “alat pengatur (alat qanuniyyah) yang penggunaannya dapat menjaga kita dari kesalahan berpikir.

Sedangkan dengan ta’rif bilhadd, ilmu mantik didefiniskan sebagai “ilmu yang membahas tentang pengetahuan yang berbentuk tashawwur dan tashdiq sebagai jalan yang dapat mengantarkan kita pada bentuk tashawwur dan tashdiq lain yang belum diketahui”.

Sekarang kita perhatikan. Apa yang membedakan kedua ta’rif tersebut? Bedanya jelas, yang pertama lebih menekankan pada aspek kegunaan, dampak, pengaruh dan manfaatnya. Sedangkan yang kedua menjelaskan esensi dan objek kajiannya.

Jadi, intinya, ta’rif birrasm itu ialah ta’rif yang, di samping menjelaskan separuh dari esensi sesuatu, ia juga menyertakan kekhususan yang dimilikinya.

Contoh lain: Manusia yang didefinisikan sebagai hewan yang tertawa (hayawan dhahik). Kata hewan memang menjelaskan separuh dari esensi manusia. Tapi kita tahu bahwa tertawa itu bukan bagian dari esensi manusia.

Artinya, tanpa adanya tertawa pun manusia tetap dikatakan sebagai manusia. Selama dia berjenis hewan dan punya kemampuan berpikir, maka dia layak disebut sebagai manusia.

Namun, sekalipun tak mencerminkan esensi, tertawa ini merupakan kekhususan yang dimiliki oleh manusia dan tidak dimiliki oleh hewan-hewan lainnya.

Dengan demikian, ketika kita mendefinisikan manusia sebagai hewan yang tertawa, maka ta’rif-nya masuk kategori ta’rif birrasm. Ia masih disebut sebagai tamm, yang artinya sempurna, karena dalam rangkaian ta’rif tersebut masih ada jins qarib, yang menjelaskan separuh dari esensi manusia. Adapun kalimat setelahnya, yakni tertawa, hanya sebagai kekhususan saja.

Contoh lain: Jilbab adalah pakaian wanita yang berfungsi untuk menutupi bagian kepala hingga bagian dada. Mengapa ta’rif ini disebut sebagai ta’rif birrasm? Karena yang dijelaskan di sana bukan hanya separuh dari esensi jilbab—yang dalam hal ini dijelaskan oleh kata pakaian—tetapi juga kegunaan dari jilbab itu sendiri, yakni sebagai penutup aurat wanita, yang terulur dari atas kepala hingga bagian dada.

Kata pakaian menjadi jins qarib, karena dia menyatukan jilbab dengan seluruh individu yang tercakup oleh kata pakaian. Sedangkan kalimat setelahnya menjadi khasshah, karena ia menjadi kekhususan yang dimiliki oleh jilbab.

Tentu Anda boleh setuju atau tidak setuju dengan definisi ini. Yang jelas, sebelum kita sampai pada kesimpulan bahwa jilbab itu wajib atau tidak wajib, maka kita harus definisikan terlebih dahulu kata jilbab itu sendiri.

Karena kita tidak mungkin bisa menghukumi sesuatu dengan benar, kecuali setelah kita mampu menjelaskan gambaran mengenai sesuatu yang akan kita hukumi itu. Dan dari definisi yang berbeda sudah pasti akan lahir konsekuensi hukum yang berbeda pula.       

Rasm Naqish

Berbeda halnya dengan ta’rif-ta’rif sebelumnya, rasm naqish ini tingkat keakuratannya berada di tingkat paling bawah. Ta’rif ini hampir sulit untuk dijadikan sandaran, dan jarang digunakan kecuali ketika kita berjumpa dengan istilah-istilah yang tidak bisa didefiniskan dengan ta’rif-ta’rif di atas. Artinya ta’rif ini hanya opsi terakhir.

Dari istilahnya saja kita tahu bahwa ta’rif ini tidak akan mampu menjelaskan sesuatu secara sempurna. Dinamai ta’rif birrasm karena, sekali lagi, yang dijelaskan dalam ta’rif ini adalah kekhususan yang dimiliki oleh sesuatu. Dan ia dinamai naqish, yang berarti tidak sempurna, karena ia memang tidak mampu menjelaskan sesuatu secara sempurna.

Ta’rif rasm naqish ini dirangkai melalui jins ba’id dan khasshah, atau khasshah saja. Contohnya seperti manusia yang didefiniskan sebagai jism yang tertawa (jismun dhahik). Kata jism, dalam terminologi ilmu mantik, mencakup segala sesuatu yang menempati ruang; meja, kursi, buku, buah-buahan, tumbuhan, manusia, onta, kuda, dan segala sesuatu yang menempati ruang, disebut sebagai jism.

Artinya, ketika kita mendefinisikan manusia dengan kata jism, maka ketika itu kata tersebut menyatukan manusia bersama segala sesuatu yang menempati ruang, baik itu makhluk hidup ataupun benda mati. Padahal, di bawah kata jism ini masih ada kata hewan yang lebih dekat dan lebih tepat dalam menjelaskan esensi manusia.  

Karena itu, kata jism—dalam definisi di atas—disebut sebagai jins ba’id, jins yang jauh, karena dia terletak di atas jins, yang dalam hal ini adalah jism hayy (jism yang hidup) dan hayawan (hewan). Karena posisinya jauh, maka kemampuanya untuk menjelaskan esensi sesuatu juga menjadi tidak sempurna (naqish).

Begitu juga dengan kata tertawa, yang merupakan kekhususan bagi manusia. Kata tersebut juga tidak menjelaskan esensi manusia, meskipun ia merupakan salah satu kekhususan yang dimilikinya. Karena itulah ta’rif ini dinamai ta’rif rasm naqish.

Disebut rasm karena memang dia hanya menjelaskan kekhususan yang dimiliki oleh seusatu. Dan disebut naqish karena memang dia tidak mampu menjelaskan esensi sesuatu secara sempurna.

Contoh lain: Dalam tulisan yang lalu kita mengambil pocong sebagai contoh. Pocong itu ialah hantu yang menyerupai mayat. Itu esensinya. Sekarang kita lihat: Apa kira-kira kekhususan yang dimiliki oleh pocong ini? Kalau soal seram, semua hantu memang seram. Artinya kata seram tidak bisa dijadikan kekhususan.

Misalnya katakanlah bahwa pocong ini adalah hantu yang bagian atas kepalanya terikat. Atau, dia itu, misalnya, berbentuk seperti guling. Selain itu, dia juga dibungkus dengan kain kafan, dan kekhususan-kekhususan lainnya. Sekurang-kurangnya ini yang saya tahu.

Nah, sekiranya frase “yang bagian kepalanya terikat” ini menjadi kekhususan yang hanya dimiliki pocong—tidak dimiliki oleh hantu-hantu yang lain—maka ketika itu ia menjadi khasshah (proper aksiden), bukan fashl (differensia).

Mengapa? Karena “bagian atas kepala yang terikat itu” bukan bagian dari esensi pocong. Artinya, kalaupun suatu waktu, misalnya, pocong itu talinya terbuka, selama dia menyerupai mayat, maka esensi kepocongannya tidak hilang.

Kalau kita mengartikan pocong sebagai hantu yang bagian atas kepalanya terikat. Maka ketika itu ta’rif-nya tergolong rasm tamm. Mengapa? Karena ia terangkai dari jins qarib dan khasshah. Hantu menjadi jins qarib, dan frase “yang bagian kepalanya terikat” menjadi khasshah.

Tapi kalau kita mengartikan pocong sebagai makhluk halus yang bagian kepalanya terikat, maka ketika itu ta’rif-nya menjadi rasm naqish. Mengapa? Karena ia terangkai dari jins ba’id dan khasshah.  

Kesimpulannya, ta’rif birrasm adalah ta’rif yang penjelasannya lebih dititik-beratkan pada aspek kekhususan, manfaat, dampak, atau pengaruh yang dimiliki oleh sesuatu, bukan esensi dasar dari sesuatu itu sendiri.

Ia terbagi dua, rasm tamm dan rasm naqish. Yang pertama bersifat sempurna, sedangkan yang kedua tidak sempurna. Yang pertama terangkai dari jins qarib dengan khasshah. Sedangkan yang kedua terangkai melalui jins ba’id dengan khasshah, atau khasshah saja, tanpa disertai jins.

Kedua ta’rif ini hanya bisa kita gunakan apabila penggunaan dua ta’rif sebelumnya tidak dimungkinkan.   

Setelah menguraikan keempat macam ta’rif yang bisa dijadikan dasar ini, poin terakhir yang perlu dicatat ialah: Dalam merangkai sebuah ta’rif yang benar itu diperlukan beberapa syarat yang harus dipenuhi, tak cukup dengan kaidah-kaidah di atas saja.

Syarat-syarat itu diperlukan agar definisi yang dikemukakan menjadi tepat sekaligus bisa diterima oleh akal. Apa saja syarat-syarat yang diperlukan itu? Jawabannya, insyaAllah, akan kita kemukakan dalam beberapa tulisan yang akan datang. Sekian, wallahu ‘alam bisshawab.