Pada tulisan sebelumnya sudah kita terangkan bahwa yang dimaksud dengan ta’rif itu ialah pengenalan. Lebih jelasnya, pengenalan terhadap esensi utuh dari sesuatu. Ta’rif berfungsi untuk menjelaskan esensi sesuatu, yang dengan penjelasan tersebut kita bisa membedakan sesuatu itu dengan sesuatu yang lain.

Kita juga sudah sampai pada kesimpulan bahwa tidak semua ta’rif itu bisa dijadikan sandaran. Beberapa macam ta’rif yang tidak dapat dijadikan sandaran itu sudah kita terangkan dalam tulisan yang lalu.

Pada tulisan kali ini kita akan membahas tentang salah satu macam ta’rif yang bisa dijadikan dasar—dan karenanya ia menjadi fokus perhatian ilmu mantik—yaitu ta’rif bilhadd. Apa itu ta’rif bilhadd, seperti apa contoh-contohnya? Apa saja bagian-bagiannya? Mari kita simak uraiannya sebagai berikut:

Pengertian

Secara harfiah, hadd artinya batasan. Ta’rif artinya pengenalan. Dari makna harfiah ini kita bisa mengartikan ta’rif bilhadd sebagai definisi yang “membatasi” hakikat sesuatu sehingga dengan adanya pembatasan tersebut kita bisa membedakan sesuatu itu dengan sesuatu yang lain.

Ketika Anda membatasi halaman rumah Anda dengan tembok, atau pagar, misalnya, maka ketika itu Anda sedang berupaya untuk mencegah masuknya makhluk tertentu yang bisa mengganggu keamanan rumah Anda. Artinya, tembok, pagar, dan yang sejenisnya itu digunakan sebagai penghalang bagi masuknya sesuatu yang tidak diinginkan.

Nah, begitu juga halnya ketika kita menggunakan ta’rif bilhadd ini. Ketika kita membatasi makna dan esensi dari suatu kata, maka ketika itu kita sedang mencegah masuknya kata atau istilah lain yang esensinya berbeda dengan esensi kata yang hendak kita definisikan itu. 

Dari sudut kemampuannya dalam menjelaskan esensi sesuatu, definisi ini jelas lebih utama—tapi sekaligus paling sulit—ketimbang definisi-definisi yang lain. Mengapa? Karena dia mampu memberikan batasan yang tegas.

Dan fungsi utama definisi memang harus seperti itu; membatasi makna dari sesuatu yang hendak didefinisikan sehingga dengan adanya pembatasan tersebut kita bisa membedakan sesuatu itu dengan sesuatu yang lain.

Sampai di sini mungkin masih ada yang bertanya: Memangnya kenapa suatu istilah itu harus diberikan batasan? Jawabannya sederhana: Karena kalau tidak orang akan bicara seenaknya. Dan itulah yang selama ini menjadi biang kerusuhan.  

Perdebatan-perdebatan yang tidak sehat seringkali bermula dari ketidakmampuan pihak yang berdebat dalam membatasi makna dari istilah-istilah kunci yang mereka perdebatkan. Atas dasar itu, uraian mengenai ta’rif ini menjadi sangat penting.

Ta’rif bilhadd ini, seperti yang pernah saya singgung, dibagi menjadi dua: hadd tamm dan hadd naqish. Apa perbedaan antara keduanya? Penjelasannya sebagai berikut: 

Hadd Tamm

Hadd artinya batasan, dan tamm artinya sempurna. Dengan demikian, hadd tamm adalah salah satu macam ta’rif yang pembatasannya bersifat sempurna. Karena pembatasannya bersifat sempurna, maka ta’rif ini adalah ta’rif yang paling utama ketimbang ta’rif-ta’rif lainnya.

Fungsi utama dari ta’rif adalah meyingkap esensi sesuatu, yang dengan penyingkapan tersebut kita bisa membedakan sesuatu itu dengan sesuatu yang lain. Karena itu, tepat-tidaknya suatu definisi sangat bergantung pada tegas-tidaknya batasan yang ditetapkan. Semakin jelas batasan yang ditentukan, maka semakin tepat pula definisi yang digunakan.

Para ahli ilmu mantik merumuskan bahwa ta’rif hadd tamm ini harus dirangkai melalui jins qarib dan fashl qarib. Jins yang dekat, dan fashl yang dekat. (Lihat kembali uraian mengenai dua istilah ini dalam tulisan ke-23 dan 24).

Jins qarib fungsinya menjelaskan jenis sesuatu yang hendak didefinisikan, sedangkan fashl qarib memberikan titik pembeda antara sesuatu itu dengan sesuatu yang lain, yang masih berada dalam cakupan jins yang dekat itu.

Contohnya seperti manusia yang didefinisikan sebagai hewan yang berpikir (hayawan nathiq). Kata hewan dalam definisi tersebut adalah jins qarib, jins yang dekat, karena dia terletak persis di atas kata manusia, dan bawah kata tersebut tidak ada jins lagi, yang ada hanya nau’, yaitu manusia.

Begitu juga dengan kata nathiq. Ia disebut sebagai fashl qarib karena ia berfungsi untuk memberi titik pembeda antara manusia dengan seluruh individu yang tercakup oleh jins-nya yang dekat, yang dalam hal ini adalah hewan. Dia membedakan manusia dari jerapah, kuda, singa, kambing, onta dan hewan-hewan lainnya.

Kalau kita cermati, definisi “hewan berpikir” yang dilekatkan pada manusia itu betul-betul membatasi esensi manusia sehingga dengan adanya pembatasan tersebut kita bisa membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lainnya.

Dengan menyebut kata hewan, Anda baru memberikan separuh batasan. Tapi dengan menyertakan kata berpikir, maka ketika itu batasannya menjadi sempurna sehingga manusia bisa dibedakan dengan makhluk-makhluk lainnya.

Batasannya sangat tegas dan sempurna sehingga tidak memberikan ruang bagi makhluk manapun untuk masuk kedalam definisi itu. Karena batasannya yang sempurna inilah maka dia dinamai hadd tamm.

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa semakin tegas batasan yang terkandung dalam suatu definisi, semakin dekat pulalah ia dengan tujuan utama dari definisi itu sendiri, yaitu membatasi.  

Contoh lain: Khamar yang didefinisikan sebagai minuman yang memabukkan (syarab muskir). Kata minuman adalah jins qarib, karena ia terletak persis di atas kata khamar, dan di bawahnya tidak ada jins lagi, yang ada hanyalah nau’, yang dalam hal ini adalah khamar.

Lalu kata membukkan (muskir) dikategorikan sebagai fashl qarib. Mengapa? Karena kata tersebut membedakan khamar dengan seluruh individu yang tercakup oleh kata minuman. Ia membedakan khamar dari air putih, susu, teh, kopi, dan minuman-minuman yang tidak memabukkan lainnya.

Definisinya masuk kategori hadd tamm. Mengapa? Karena batasannya bersifat sempurna. Dengan mengartikan khamar sebagai minuman yang memabukkan, maka ketika itu kita mencegah masuknya minuman-minuman lain yang tidak memabukkan sehingga khamar bisa dibedakan dari minuman-minuman lainnya.

Kalau ada yang berkata: Loh, tapi kan tidak semua orang yang minum khamar itu mabuk. Ada juga yang baisa-biasa saja. Artinya ada khamar yang tidak memabukkan. Bukankah ini menunjukan bahwa definisi tersebut belum tepat?

Jawabannya sederhana: Adanya orang yang tidak mabuk setelah minum khamar itu tidak serta merta harus kita simpulkan bahwa tidak semua khamar itu memabukkan. Ketidakmabukkan itu berpulang pada orang yang meminum, bukan pada apa yang diminum.  

Dalam konteks ini, para ahli ilmu mantik kerap menyinggung apa yang disebut dengan asbab al-Tawajjuh. Bukan di sini tempatnya untuk menguraikan istilah itu. Intinya, hadd tamm adalah definisi yang terangkai dari jins qarib dan fashl qarib. Ia adalah ta’rif yang bisa memberikan batasan sempurna bagi mu’arraf (yang didefinisikan).   

Hadd Naqish

Hadd artinya batasan, sedangkan naqish artinya kurang, atau tidak sempurna. Dengan demikian, hadd naqish adalah salah satu macam ta’rif yang batasannya kurang sempurna.

Posisinya satu derajat lebih rendah dari ta’rif yang pertama. Jika yang pertama memiliki batasan yang sempurna, maka yang kedua ini batasannya tidak sempurna. Karena batasannya tidak sempurna, maka tingkat keakuratannya berada di bawah ta’rif yang pertama.

Lalu apa bedanya? Bedanya tipis. Jika yang pertama menggunakan jins qarib dan fashl qarib, maka ta’rif yang kedua ini menggunakan jins ba’id dan fashl qarib. Atau menggunakan fashl qarib saja.

Contohnya seperti manusia yang didefinisikan sebagai jism yang berpikir (jismun nathiq). Kata jism adalah jins ba’id, karena di bawahnya masih ada jins, yaitu jismun hayy (jism yang hidup) dan hayawan (hewan). Sementara berpikir adalah fashl qarib, karena dia membedakan manusia dari seluruh individu yang tercakup oleh kata hewan.

Sekarang coba Anda perhatikan. Di mana letak kelemahan definisi ini? Letak kelemahannya ialah: dia tidak menjelaskan seluruh esensi sesuatu yang hendak didefinisikan—yang dalam hal ini adalah manusia—secara utuh.

Ketika kita mengartikan manusia sebagai jism, yang maknanya ialah segala sesuatu yang menempati ruang, maka ketika itu manusia menyatu dengan kambing, sapi, kuda, jengkol, pete, toge, tahu, tempe, dan semua makhluk—baik hidup ataupun mati—yang masuk kategori jism.

Artinya, kata jism ini tidak menjelaskan walau separuh dari esensi utama manusia, yang dalam hal ini adalah hewan. Padahal manusia itu termasuk hewan, sekalipun dalam saat yang sama ia juga dikatakan sebagai jism, karena menempati ruang.

Begitu juga ketika Anda mendefinisikan manusia dengan “yang berpikir” saja (nathiq), yang dalam hal ini menjadi fashl, dan membuang kata hewan, sebagai jins. Ketika itu ta’rif-nya masih tergolong ta’rif bilhadd, karena kata berpikir itu memberikan batasan bagi manusia sehingga mengeluarkan makhluk-makhluk lain yang tidak berpikir.

Tapi batasannya kurang sempurna (naqish). Mengapa? Karena ta’rif tersebut tidak menjelaskan seluruh esensi manusia, yang dalam hal ini adalah hewan. Ketika kata hewan dibuang, maka pembatasannya menjadi tidak sempurna. Karena itulah ia dinamai hadd naqish, karena batasannya kurang sempurna.

Contoh lain yang lebih mudah: Pocong. Bagaimana kita mendefinisikan pocong? Apa kata yang pertama kali harus disertakan? Kata pocong terletak di bawah satu kata yang lebih universal, yaitu hantu. Dan kata hantu itu sendiri terletak di bawah satu kata universal yang lain, yaitu makhluk halus. Dan kata makhluk halus itu sendiri terletak di bawah kata makhluk.

Ketika kita ingin mendefinisikan pocong, maka kata yang pertama kali harus kita sertakan adalah jins. Pocong ini sejenis apa? Jawabannya dia sejenis hantu. Maka, kata yang pertama kali kita sertakan adalah hantu. Pocong itu adalah hantu. Kata hantu dalam hal ini menjadi jins qarib. Mengapa? Karena ia persis terletak di atas kata pocong itu sendiri.

Lalu, pertanyaan selanjutnya yang harus kita jawab ialah: Apa kira-kira hal mendasar yang menjadi titik pembeda antara pocong dengan hantu-hantu lainnya? Misalnya kita temukan satu pembeda bahwa pocong ini adalah hantu yang menyerupai mayat. 

Nah, kalau sekiranya frase "menyerupai mayat" ini benar-benar menjadi titik pembeda antara pocong dengan semua individu yang tercakup oleh kata hantu, maka ketika itu dia menjadi fashl. Dan fashl-nya termasuk fashl qarib, fashl yang dekat.

Mengapa ia dinamai fashl qarib? Karena dia membedakan pocong dari semua individu yang tercakup oleh jins-nya yang dekat, yang dalam hal ini adalah hantu. Ta’rif-nya ketika itu adalah hadd tamm. Karena ia terangkai dari jins qarib dan fashl qarib.

Tapi bagaimana kalau kata yang kita sertakan di awal itu, misalnya, makhluk halus? Lebih jelasnya, pocong itu ialah makhluk halus yang menyerupai mayat. Kata makhluk halus merupakan jins ba’id bagi pocong, karena dia berada di atas kata hantu, yang juga merupakan jins.

Nah, karena yang disertakan di awal itu adalah jins ba’id, jins yang jauh, maka ketika itu ta’rif-nya menjadi hadd naqish. Mengapa? Karena ia terangkai dari jins ba’id dan fashl qarib. Dan karena dia hadd naqish, maka batasannya juga menjadi kurang sempurna.

Begitu juga kalau kita mendefiniskan pocong dengan fashl qarib-nya saja, yang dalam ini ialah menyerupai mayat. Pocong itu ialah "yang menyerupai mayat". Ketika itu ta’rif-nya menjadi hadd naqish. Karena di sana tidak ada jins. Ketika tidak ada jins, maka esensi yang dijelaskan pun kurang sempurna.            

Kesimpulannya, ta’rif bilhadd adalah ta’rif yang memberikan batasan pada sesuatu yang didefinisikan sehingga dengan adanya pembatasan tersebut kita bisa membedakan sesuatu itu dengan sesuatu yang lain. Ia terbagi dua, yaitu hadd tamm dan hadd naqish.

Yang pertama batasannya bersifat sempurna, sedangkan yang kedua batasannya kurang sempurna. Yang pertama terangkai dengan jins qarib dan fashl qarib, sedangkan yang kedua dirangkai melalui jins ba’id dan fashl qarib, atau fashl qarib saja, tanpa disertai jins.

Dalam mendefinisikan sesuatu, dua ta’rif ini lebih didahulukan dari ta’rif-ta’rif lainnya. Namun, apabila tidak dimungkinkan, maka kita bisa menggunakan dua macam ta’rif selanjutnya, yaitu ta’rif birrasm. Uraian mengenai hal ini, insyaAllah, akan dibahas dalam tulisan mendatang. Sekian, wallahu ‘alam bisshawab.