Dalam bahasa Arab, kata mâhiyyah terangkai dari kata , hiya, dan setelah itu dibubuhi ya nisbah, sehingga terangkailah kata mâhiyyah. Jika digabung, kata mâhiya itu—yang terangkai dari dan hiya—secara harfiah bermakna "apa itu?" 

Dan ketika dibubuhi ya nisbah maka makna harfiahnya menjadi “ke-apa-an” atau "ke-apa-itu-an". Jadi, makna harfiah dari mâhiyyah itu ialah “ke-apa-itu-an”. Itu makna harfiahnya. 

Adapun secara istilah, mâhiyyah bisa kita artikan sebagai “makna universal yang berguna untuk menjawab pertanyaan apa itu?” (mâ waqa’a fî jawâb mâ huwa). Sekali lagi, dia adalah makna universal (umum), yang disertakan untuk menjawab pertanyaan “apa itu?”. Definisi ini sebangun dengan makna harfiahnya yang kita artikan dengan “ke-apa-itu-an”. 

Jadi, kalau ada pertanyaan apa itu A, B, dan C, maka makna universal yang dikemukakan untuk menjawab pertanyaan tersebut bisa kita namai sebagai mâhiyyah, yang dalam bahasa Indonesia biasanya diterjemahkan dengan kata esensi, atau hakikat.

Contoh: Kalau ada pertanyaan: Apa itu Lenovo, Acer, Dell, dan Asus, maka jawabannya adalah laptop. Nah, makna laptop itu, dalam bahasa filsafat Islam, bisa kita sebut sebagai mâhiyyah. Mengapa? Karena, sekali lagi, dia diletakkan sebagai jawaban atas satu pertanyaan yang diawali dengan “apa itu”.

Begitu juga kalau Anda bertanya apa itu Lia, Tamara, dan Sabrina, maka jawabannya mereka adalah manusia. Manusia itu adalah esensi (mâhiyyah) bagi ketiganya, sebagaimana ia adalah esensi bagi individu-individu yang lainnya.

Tak begitu sulit untuk memahami istilah ini. Bahwa yang disebut sebagai mâhiyyah itu ialah makna universal yang disertakan sebagai jawaban atas pertanyaan yang diawali dengan: apa itu? Inilah arti sederhana dari mâhiyyah yang biasa kita jumpai dalam buku-buku filsafat Islam.

Para filsuf Muslim menyebut makna mahiyyah seperti yang saya kemukakan di atas ini dengan istilah mâhiyyah bilma'na al-Akhassh (esensi dengan makna yang lebih khusus). Selain definisi yang satu ini, ada lagi yang disebut dengan istilah mâhiyyah bilma'na al-'Aam (esensi dengan makna yang umum).

Mâhiyyah dalam pemaknaan yang kedua ini diartikan sebagai “sesuatu yang dengannya sesuatu itu menjadi dirinya sendiri” (mâ bihi al-Syai huwa huwa), seperti yang pernah saya singgung dalam salah satu tulisan yang lain.

Buku, pulpen, meja, kursi, laptop, handphone, manusia, monyet, kambing, kuda, kebun, pohon, dan kata-kata universal lainnya itu disebut sebagai mâhiyyah. Karena mereka adalah jawaban atas pertanyaan yang ditujukan kepada individu-individu yang berada dalam cakupannya. 

Mereka adalah makna-makna universal, yang tanpanya, individu-individu yang berada dalam cakupannya itu tidak akan menjadi dirinya sendiri. Itulah yang dimaksud dengan mâhiyyah dalam arti yang kedua ini.

Memang, kalau kita perhatikan secara sepintas, dua definisi tersebut pada dasarnya hampir tidak jauh berbeda. Hanya saja, perbedaan itu akan terlihat manakala istilah tersebut dikaitkan dengan Tuhan. Kita tahu bahwa segala sesuatu yang berwujud pastilah memiliki esensi (hakikat), atau mâhiyyah tadi.

Sekarang muncul satu pertanyaan: Tuhan itu kan berwujud. Lalu, kalau begitu, Tuhan itu memiliki esensi (mâhiyyah) atau tidak? Pertanyaan ini sah diajukan, karena kita percaya bahwa Tuhan itu memiliki wujud. Dan segala sesuatu yang berwujud pastilah memiliki esensi.

Tapi bagaimana kita menjawab pertanyaan itu? Dalam konteks ini sebagian filsuf mengajukan jawaban bahwa Tuhan itu memiliki esensi. Tapi bukan esensi dalam makna yang khusus. Sebab, kata mereka, esensi dalam pemaknaan yang khusus meniscayakan adanya ketersusunan dengan penyertaan jins (genus) dan fashl (differentia).

Sementara Tuhan tidak tersusun. Sangat sulit—kalau enggan berkata tidak mungkin—untuk menentukan genus dan differentia dari sesuatu yang kita sebut sebagai Tuhan itu. Kalaupun ditemukan, maka konsekuensinya Tuhan menjadi tersandra dalam batasan. Dan kalau sudah terbatas ya namanya bukan Tuhan lagi.  

Karena itu, kata mereka, kalau yang dimaksud dengan esensi itu adalah esensi dengan makna yang khusus (bilma’na al-Akhassh), yang meniscayakan ketersusunan jins dan fashl, maka jawabannya jelas bahwa Tuhan tidak memiliki esensi, meskipun dia memiliki wujud.

Tapi, apabila yang dimaksud dengan esensi itu ialah esensi dalam pemaknaan yang umum—yakni “sesuatu yang dengannya sesuatu itu menjadi dirinya sendiri”—maka ketika itu Tuhan bisa kita katakan memiliki esensi.

Ketika kita katakan bahwa Tuhan memiliki esensi, itu artinya ada “sesuatu” yang dengannya Tuhan itu menjadi dirinya sendiri. Apa sesuatu itu? Kita tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu. Para nabipun tidak ada yang tahu dengan “sesuatu” itu. Yang jelas esensi Tuhan itu ada, tapi tidak diketahui (majhûlah). Esensi Tuhan adalah esensi yang tidak diketahui (mâhiyyah majhûlah).

Mengapa bisa begitu? Karena kalau esensi Tuhan bisa diketahui, itu artinya Tuhan menjadi sesuatu yang terbatas. Tuhan ada dalam batasan nalar manusia. Dan sangat tidak logis kalau kita berkeyakinan bahwa nalar manusia yang terbatas bisa mengetahui hakikat Tuhan yang tidak memiliki batas.

Di samping itu, apapun yang kita kemukakan tentang hakikat Tuhan adalah sesuatu yang tercipta (makhlûq). Sementara Tuhan merupakan Sang khaliq (maha pencipta). Bagaimana mungkin kita menjelaskan sesuatu yang diklaim sebagai pencipta dari segala sesuatu, lalu hakikatnya dijelaskan oleh sesuatu yang diciptakan dan penuh dengan keterbatasan itu? Rasanya tidak mungkin.

Karena itu, kendatipun kita berpandangan bahwa Tuhan memiliki esensi—dengan makna yang umum—esensi Tuhan tetaplah ada sebagai sebuah misteri. Baik di dunia ataupun di akhirat, esensi itu tidak akan pernah bisa kita ketahui. Karena kalau ia bisa diketahui—dan pengetahuan kita menggambarkan Dia sebagaimana adanya—maka ketika itu dia tidak lagi menjadi Tuhan, tetapi sudah jadi ciptaan.

Itulah cara termudah untuk memahami perbedaan antara mâhiyyah bilma'na al-Akhassh (esensi dengan makna yang lebih khusus), dengan mâhiyyah bilma'na al-'Aam (esensi dengan makna yang lebih umum). 

Jika yang pertama kita artikan sebagai makna universal yang digunakan untuk menjawab pertanyaan yang diawali dengan kata apa itu? Maka yang kedua kita artikan sebagai sesuatu yang dengannya sesuatu itu menjadi dirinya sendiri. Demikian, wallâhu 'alam bisshawâb.