1 bulan lalu · 149 view · 4 min baca menit baca · Filsafat 51271_13949.jpg

Dua Macam Haml

Dalam rangkaian suatu proposisi kategoris (qadhiyyah hamliyyah), kita mengenal ada yang namanya maudhu’ (subjek), dan ada juga yang disebut sebagai mahmûl (predikat). Maudhu itu adalah bagian yang menerima atribut, sementara mahmûl adalah atirbut itu sendiri yang diberlakukan kepada maudhu’.

Sebagai contoh, pernyataan: Jokowi itu dermawan. Jokowi, dalam proposisi tersebut, berposisi sebagai maudhu (subjek)sedangkan dermawan berposisi sebagai mahmûl (predikat). Makna Jokowi tentu berbeda dengan makna dermawan. Lalu, kalau ada orang bilang “Jokowi itu dermawan”, sebenarnya apa maksud yang lebih jelas dari ungkapan itu?

Logika Aristotelian akan menjawab, bahwa yang dimaksud dengan tersebut ialah: pemberlakuan makna (mafhûm) kedermawanan kepada satu individu (mishdâq/mashadaq) yang bernama Jokowi. 

Artinya, yang kita maksud dari predikat dalam proposisi tersebut ialah maknanya, sementara yang kita maksud dari subjek adalah individunya, bukan maknanya. Makna dari kedua bagian proposisi itu berbeda, tapi keduanya diberlakukan bagi individu yang sama, yaitu Jokowi.

Sekarang bagaimana kalau suatu waktu kita berjumpa dengan proposisi-proposisi semacam ini:

“Manusia itu adalah hewan yang berpikir”, “Kuda itu adalah hewan yang meringkik”, “Khamar itu adalah minuman yang memabukkan”, “Pulpen itu adalah alat tulis”, “Salat itu adalah perbuatan yang diawali dengan takbir, diakhir dengan salam, dan disertai dengan syarat-syarat tertentu”, “Al-Quran itu adalah kalam Allah”, dan ungkapan-ungkapan serupa lainnya.


Ketika itu apa yang dimaksud? Coba Anda cermati ungkapan-ungkapan tersebut dengan baik. Kita ambil ungkapan yang lebih mudah dulu. Manusia adalah hewan yang berpikir. Apa maksud dari ungkapan itu? Jawabannya tidak seperti yang pertama. Karena di sana kita tidak memberlakukan mafhûm kepada mishdâq, melainkan memberlakukan mafhûm kepada mafhûm; konsep kepada konsep, atau makna kepada makna.  

Artinya, melalui ungkapan tersebut, yang kita maksud dari predikat itu adalah maknanya, dan yang kita maksud dari subjek juga adalah maknanya, bukan individunya. Lebih jelasnya, ungkapan tersebut hendak menyatakan bahwa apa yang dimaknai (perhatikan frase ini baik-baik) sebagai manusia itu berlaku kepadanya makna kehewanan dan makna keberpikiran. Itulah yang jadi maksud utama.

Nah, dalam buku-buku logika berbahasa Arab, pemberlakuan predikat kepada subjek itu disebut dengan istilah haml, yang secara harfiah bermakna “pembawaan”. Bentuk kata kerjanya ialah hamala-yahmilu, yang berarti membawa. Dan karena itu predikat dinamai mahmûl (sesuatu yang dibawa), karena dia adalah makna yang “dibawa” kepada subjek. Proposisinya dinamai sebagai proposisi kategoris (qadhiyyah hamliyyah), karena di sana kita “membawa” sesuatu, yang dalam hal ini predikat (mahmûl), kepada sesuatu, yang dalam hal ini adalah subjek (maudhu’).  

Haml (model pemberlakuan) yang saya sebutkan dalam contoh pertama disebut dengan istilah haml syâ’i, sedangkan yang kedua disebut dengan istilah haml dzâtiy awwaliy. Apa yang membedakan keduanya? Perbedaannya sangat simpel. Kalau dalam contoh yang pertama kita memberlakukan makna (mafhûm) kepada individu (mishdâq), maka pada contoh yang selanjutnya kita memberlakukan makna kepada makna, atau mafhûm kepada mafhûm. 

Contoh lain: khamar itu adalah minuman yang memabukkan. Apa yang kita maksud dari kata “khamar” dalam proposisi itu? Dan apa yang kita maksud dari kata “minuman” yang dijadikan predikat dalam rangkaian kata selanjutnya? Yang kita maksud dari kata khamar adalah maknanya, bukan individunya, dan yang kita maksud dari kata minuman juga maknanya, bukan individu.

Dan frase yang berbunyi, “minuman yang memabukkan” itu sendiri merupakan definisi yang menjelaskan hakikat khamar. Sebagaimana “hewan berpikir” yang disebutkan dalam proposisi sebelumnya merupakan definisi yang menjelaskan hakikat manusia. Dengan demikian, merujuk pada dua macam pemberlakuan di atas, haml dalam proposisi terkahir ini tergolong kedalam haml dzâtiy awwaliy.

Kata dzâtiy itu sendiri artinya “yang bersifat esensial”. Dia dinamai dzâtiy karena predikat dalam proposisi tersebut menjelaskan esensi dari subjeknya. Adapun kata awwaliy merujuk pada apa yang oleh para logikawan sebut sebagai tashdîqât awwaliyyah, yakni proposisi-proposisi aksiomatik yang pembenarannya tidak memerlukan penjelasan.


Dinamai awwaliy karena seolah-olah proposisi-proposisi semacam itu tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut. Cukup membayangkan kedua bagian proposisi saja. Karena di sana kita memberlakukan sesuatu kepada sesuatu, dan mafhûm keduanya itu menyatu. Sebagaimana mishdâq dari keduanya juga satu. Bedanya, yang satu ringkas (mujmal), yang satu lagi terperinci (mufashhal).

Tapi bagaimana kalau seandainya ungkapan tersebut kita rubah menjadi, “khamar itu pahit”, misalnya. Ketika itu apa yang dimaksud? Jawabannya jelas, bahwa yang dimaksud dari subjek adalah individunya, sedangkan yang dimaksud dari predikat adalah maknanya. Dengan demikian, haml dalam proposisi yang terakhir ini bisa kita sebut sebagai haml syâ’i. Karena di sana kita memberlakukan mafhûm kepada mishdâq, bukan mafhûm kepada mafhûm. 

Kata syâ’i itu sendiri bermakna “yang populer”. Dinamai demikian karena inilah pemberlakukan yang populer yang banyak dipakai dalam kaidah-kaidah ilmu logika. Artinya, kalau ada ungkapan yang terdiri dari dua unsur, yakni maudhu’ dan mahmûl, dalam suatu qadhiyyah hamliyyah, maka yang dimaksud dari predikat adalah maknanya, dan yang dimaksud dari subjek adalah individunya.

Itulah dua model pemberlakuan yang banyak digunakan dalam logika Aristotelian. Sebenarnya masih ada lagi dua model pemberlakuan lain yang belum saya sebutkan. Tapi, setidaknya, dua model itulah yang lebih populer. Dan dua model itulah yang paling banyak digunakan. Demikian, wallahu ‘alam bisshawâb.        

Artikel Terkait