Di siang bolong pada saat itu jalanan mulai sepi, pintu-pintu rumah tertutup rapat seakan tidak ada celah untuk angin yang bersliweran. Tempat-tempat ibadah seperti gereja dan masjid tampak berdebu menutupi seluruh lantai. Setiap jendela kaca terlihat kusam penuh gelisah.

Gedung-gedung pencakar langit  meninggalkan kenangan di ujung musim hujan, menyisakan pilu, terbenam dalam kekacauan dunia akibat merebaknya sebuah virus yang berasal dari kecerobohan makhluk yang bernama manusia. Kecerobohan itu berawal dari ketidakpuasan terhadap apa yang disebut kesederhanaan. Virus ini saya beri nama selotip. Sebab virus ini mengisolasi secara paksa kehendak manusia yang kerap diperdaya oleh sifat kebinatangannya yang entah datang darimana. Kini virus itu muncul karena muak dengan kerakusan manusia.

Manusia adalah makhluk (Masterpiece) terbaik Allah SWT (QS. At-Tin : 4). Benar, bahwa semua ciptaan-Nya adalah sempurna (tidak ada kekurangan dan sesuai dengan kebutuhan), namun yang disebut di dalam Al-Qur’an dengan bentuk ciptaan yang sebaik-baiknya adalah manusia. Dan surga tentu tidak lebih baik dari manusia. Apakah manusia mengejar sesuatu yang tidak lebih baik darinya? Saya jawab tidak. Watak manusia secara mendasar tidak mengejar sesuatu yang tidak lebih baik darinya. Lalu apa yang lebih baik dari manusia? Tentu Allah SWT dengan segala sifat-sifat-Nya. Rahmat salah satunya. Rahmat merupakan bentuk dari kasih sayang Allah SWT kepada makhluknya tanpa terkecuali. Begitu pula masuknya manusia kesurga atau neraka, tidak ada alasan lain kenapa manusia bisa mendapatkan surga kecuali dengan rahmat-Nya.

Surga dan neraka itu tidak jelas bagi masa depan manusia di akhirat, tidak ada seorangpun yang menjamin dirinya atau orang lain untuk masuk kedalam surga atau neraka. Buat apa menusia mengejar sesuatu yang belum jelas akhirnya. Tidak ada yang lebih jelas di dunia ini kecuali rahmat Allah yang telah di peruntukan kepada makhluk, tanpa terkecuali manusia.

Seluruh umat manusia seperti hidup dalam tempurung. Berteman gelap, berkawan pekat. Kebimbangan menjadi bantal saat malam, menjadi sepiring sarapan saat pagi, siang hingga sore hari, virus ini menjelma menjadi logam pekat yang menghalangi mentari. Manusia tersekat dalam ketakutan masing-masing. Diam-diam menyelinap kedalam pikiran orang-orang yang belum terjangkit. Sesaat menghentikan detak jantung membunuh dalam sunyi senyap.

Hingga kerajaan suatu negara menutup paksa kiblat kepercayaan umat muslim. Selama berabad-abad, kiblat itu tak pernah sepi oleh pencari ridho-Nya. Padahal beberapa waktu lalu, seorang pemuka agama di suatu negri antah berantah mengatakan: Virus ini adalah tentara Allah. Namun pernyataan ini seketika terbantahkan oleh kebijakan kerajaan yang menutup kiblat kaum umat muslim ini. Sementara orang-orang sains di penjuru dunia mengatakan sebaliknya: Virus tidak beragama, tidak tertarik dengan harta dan tahta. Virus adalah kebuasan manusia yang dapat terjangkiti siapa saja tanpa terkecuali.

Dalam semesta ini dimanakah virus-virus mengambil ruang? Dengan kesadaran yang terdalam, kita mesti akui dia ada di dalam Tuhan. Seperti kita manusia, Tuhan maha besar. Yang maha meliputi segala sesuatu. Jika ada sesuatu berada di luar Tuhan, berarti Ia tidak maha meliputi. Ada zat lain di luar sana yang tidak dalam kuasa Tuhan.

Manusia dan virus adalah makhluk yang mengambil ruang dalam kekuasaan Tuhan. Mereka tercipta untuk terwujudnya harmoni hubungan ilahiyah antar ciptaan. Persis dua kutub plus dan minus. Interaksi keduanya melahirkan kehidupan. Itulah hukum alam. Demi kehidupan, manusia jangan sok kuasa. Keangkuhan menegaskan rasa takut. Takut virus berarti takut Tuhan. Pandemi virus itu, cara Tuhan memulangkan manusia kepada-Nya. Sebab, tidak ada satu urusan pun di semesta ini yang lepas dari pengaturan Tuhan. Kalau mereka disana bisa bersatu karena Corona mengapa kita saling beradu karena sebab yang sama. Sebab orang yang takut akan sesuatu akan lari menjauh darinya. Tetapi, orang yang takut kepada Tuhan, maka ia akan berlari mendekat kepada-Nya.

Jika kita lihat apa yang terjadi.Tak semua orang memiliki instrumen dalam memerangi pandemi covid-19. Bahkan sebagian tenaga medis terpaksa menggunakan Alat Pelindung Diri seadanya. Tidak semua orang memiliki kapasitas berbuat sesuatu untuk meringankan beban sesama. Bahkan sebagian orang rela hanya mengurung diri berbulan-bulan demi keselamatan bersama. Tidak semua orang memiliki kemampuan materi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, namun harus terpaksa berhenti mencari nafkah diluar sana.

Semua orang sedang dihadapkan oleh persoalan serius. Kematian, Kesusahan, Kelaparan, dll. Namun kita harus melawan dan berjuang bersama, membangun solidaritas kemanusiaan. Jika ada rezeki lebih ulurkan tangan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Pada saat pandemi seperti ini, kita sebagai rakyat sedapat mungkin bisa membantu rakyat, agar tidak melulu mengharapkan bantuan dari pemerintah. Mari jadikan ajang “Berlomba-lomba dalam kebaikan”. Dan jika tidak dapat berbuat apapun setidaknya kita masih memiliki Allah untuk berdo’a kepadanya agar kita dan orang-orang yang terdampak covid-19 selalu dalam lindungan-Nya.

Membangun kesadaran terhadap diri sendiri dan orang-orang terdekat untuk berdiam diri dirumah. Tetaplah hidup meski hanya rebahan saja.