6 bulan lalu · 31 view · 1 menit baca · Puisi 42174_23503.jpg
Ilustrasi: pixabay

Dua Kotak

Dua Kotak

: abinaya ghina jamela

ia lebih dulu jemu pada
nikmat-nikmat semu
yang tayang di teve, berleleran
di kotak-kotak pemakan kepingan keju
bersaus emas murahan

ibunya pengamat yang baik
sehingga segala perubahan
diri yang tergesa-gesa
cukup begitu adanya

ibunya lanskap semesta
yang ngungun kata
ibunya kertas angka
penuh algoritma

ibunya dunia kedalaman
bagi ensiklopedia
rumah kebatinan bagi anak-
anak nilai hormer



Gaun Ibu

sebait api meluapkan
airmata jadi lelehan-lelehan
yang melumuri kue-kue ulang tahunku

kalau sudah begitu
ia bergegas kenakan blus kawakan
hendak mewartakan bahwa dirinya
tetap memaguti jarum-jarum
yang disebar ayah tiap petang
sembari menimangku di gendongan
dengan popok setengah basah setengah
resah


Gabriela

muka dekilmu digilas polesan
pupur
sementara kain tubuhmu segera lungsur
oleh badai kekosongan

kendati sepatu dan kaus kaki
seperti yang kau pahami
tak sekadar melindungi jemari sebab kerap
jumawa kaki olehnya
dan tali mengikat kebebasan

sapuan
mematahkan akar-akar kesederhanaan
maka kau tebus mata
rantai kesialan dengan arak-arakan
segala bahan keangkuhan



Yang Hilang

yang hilang seiring tumbuh-kembang diri
kemampuan basa-basi


Swara Klakson

Itu klakson apa mesiu
swaranya bikin kelu orang-
orang yang belum ikhlas hidup
di kota