Selama dua pekan, film Dua Garis Biru sudah menembus 2 juta penonton. Setelah menonton 103 menit, saya merasa sangat beruntung bisa menikmati film bagus ini. 

Rasanya, tidak benar jika film ini mengajarkan “hubungan kebablasan” seperti penolakan oleh sebagian orang di Jawa Barat. Justru saya mendapatkan powerful insight sebagai orang tua muda yang punya dua anak. 

Dua Garis Biru menceritakan kisah cinta dua pelajar SMA, Dara dan Bima. Keduanya menjalin hubungan yang ceria dengan dukungan dari teman, keluarga, dan lingkungan. Namun, kegembiraan tersebut sirna ketika Dara hamil. 

Konflik dengan keluarga mereka masing-masing menjadi tidak terhindarkan. Namun, Bima yakin akan tetap bertanggung jawab apa pun yang terjadi. Dara yang sempat tidak diterima keluarganya pun harus berhenti sekolah dan menepis cita-citanya. 

Sebagai orang tua dan guru, saya mendapatkan banyak pelajaran dari film ini. Berikut 5 pelajaran penting dari menonton film Dua Garis Biru:

1.  Tidak sekadar ngobrol, bangun komunikasi penuh empati

Baik orang tua Dara yang modern maupun orang tua Bima yang tradisional-agamis terlihat gagap. Mereka sama sekali tidak terbayang bahwa kedua anaknya bisa mendapatkan kasus seperti ini. Mereka cenderung melihat problem ini dari salah satu sudut pandang, orang tua. 

Salah satu pelajaran penting yang saya dapat adalah bagaimana Bapak Bima berkomunikasi secara efektif. Dia mendengarkan keluh kesah Bima dengan tulus. Di saat semua orang ingin berbicara, Bapak Bima bisa mendengarkan dengan tenang. 

2. Percayalah, manajemen emosi itu sangat penting

Sahabat sekaligus keponakan Nabi Muhammad SAW, Ali Bin Abi Thalib, pernah bicara, “Jangan pernah membuat keputusan saat sedang marah.” 

Berpikir tenang adalah kunci keluar dari segala macam persoalan. Kedua orang tua Dara adalah ciri orang tua modern yang cerdas, terdidik, dan melek teknologi. Namun keduanya tidak mampu mengontrol emosi sehingga problem makin membesar. 

Professor Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligent mengatakan, orang yang terlalu emosional, seperti terlalu sedih, gembira, takut, atau marah, akan susah untuk berpikir rasional. Proses ini dinamakan pembajakan amigdala. Amigdala adalah bagian otak yang mengolah informasi, ingatan, terhadap reaksi emosi kita. 

3. Sekolah dan proses pendewasaan diri

Meskipun tidak memberikan solusi dan terkesan lepas tangan, saya meyakini harusnya film Dua Garis Biru bisa mengangkat praktik baik sekolah. Sayangnya, film ini tidak memberikan adegan cukup banyak bagaimana seharusnya sekolah memberikan dukungan. 

Selama ini, sekolah kita pahami hanya mengajar ilmu pengetahuan, misalnya fungsi organ tubuh dan kesehatan reproduksi. Tetapi bagaimana dengan proses pendewasaan anak murid? Bagaimana seharusnya mereka bertanggung jawab, minimal terhadap organ tubuh mereka sendiri? 

Kita juga perlu mengingat bahwa belajar di kelas terbatas hanya di sekolah atau perguruan tinggi. Tapi proses pendewasaan diri bisa berlangsung sampai kapan pun. Di film ini, terlihat beberapa kali adegan Dara sebagai anak justru lebih bijak dan bersifat dewasa dari pada kedua orang tuanya.

4. Orang tua bukan polisi di rumah

Stop judgement anak. Anak-anak bisa saja melakukan kesalahan. Namun, sebagai orang tua, jangan pernah menghakimi anak dengan satu sudut pandang. Anak-anak perlu dilakukan sebagaimana manusia yang punya perasaan dan hati, sebesar apa pun kesalahan mereka.

Polisi melakukan tindakan terhadap pelaku yang melanggar peraturan. Artinya, siapa yang salah, maka polisi akan bertindak. Pola ini tidak cukup bagus untuk diterapkan di keluarga dan pendidikan secara umum. 

Percayalah, pendekatan positif terhadap anak akan membawa dampak yang jauh lebih besar. Anak-anak butuh dukungan untuk terus berkembang secara positif. 

5. Tidak cukup pendidikan agama, ajari juga kesadaran ruang dan waktu 

Orang tua perlu membedakan antara pengetahuan dan kesadaran. Pengetahuan bisa didapatkan dari membaca buku, ceramah, atau mencari informasi dari berbagai media. Tapi kesadaran itu perlu dilatih. Misalnya, kita tahu bahwa menyerobot lampu merah itu melanggar hukum, tapi banyak orang masih melakukannya. 

Di film ini, Bima adalah siswa yang taat beragama dan Dara adalah siswi yang berprestasi. Tapi mereka tidak sadar dengan tanggung jawab sebagai remaja. Mereka tidak sadar dengan tanggung jawab menjadi orang tua. Memberikan penyadaran ini membutuhkan pendekatan hati dan perasaan. 

Secara umum, Dua Garis Biru rasanya berhasil memotret fakta sosial kita dengan sangat apik. Kegagapan keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam mengajarkan tanggung jawab, pendidikan seksual, dan kesehatan reproduksi pada remaja terekam dengan baik. 

Selain itu, film ini menarik dan cocok dinikmati bersama keluarga.