Mahasiswa
9 bulan lalu · 471 view · 4 min baca · Budaya 35907_20945.jpg
Tebyan.net

Dua Faktor Ini Penghambat Pembaruan Pemikiran Islam

Keadaan Islam saat ini tengah mengalami proses pembekuan pemikiran. Bahkan bisa juga dikatakan sebagai pengkultusan terhadap tokoh atau pemikiran tertentu. Yang jelas, Islam di Indonesia saat ini sedang mengalami demam pemikiran.

Jalan keluar dari kemandekan berpikir yang berujung pada pelembagaan—meminjam istilah Cak Nur—pemikiran masih belum menemukan arahnya. Keadaan ini sebenarnya menjadikan saya dan teman-teman komunitas diskusi untuk mengkaji pemikiran pembaru Islam tahun 70-an, 80-an, sampai 90-an. Tahun yang sebenarnya bisa dibilang zaman produktif secara pemikiran.

Secara periodik, Zuly Qodir mengulas pembaruan pemikiran Islam—meski tidak begitu panjang pembahasannya—sejak pra kemerdekaan hingga era reformasi. Gerakan pembaruan pemikiran Islam sejak pra-kemerdekaan tidak lepas dari kondisi sosial-politik-ekonomi saat itu. Sudah menjadi kepastian bahwa suatu gerakan pembaruan pemikiran tak akan lahir di ruang hampa.

Gerakan pembaruan pemikiran Islam pra-kemerdekaan, menurut Zuly Qodir, terlihat sejak munculnya organisasi keagamaan. Syarikat Islam (SI) yang awalnya Syarikat Dagang Islam (SDI) adalah bentuk organisasi yang saat itu dibilang mewakili aspirasi umat Islam.

Memang, sejak awal kelahirannya, organisasi yang digagas Samanhudi ini disinyalir merespons gerakan dominasi pedagang Cina di Solo, Jawa tengah. Tapi ada yang perlu dilihat dari hal ini, yakni gerakan ini tidak lain sebagai bentuk pengimplementasian pemikiran Islam—terlihat jelas setelah dipimpin H.O.S Cokroaminoto—dalam praktik perlawanan terhadap penjajah saat itu.


Islam yang sebenarnya universal namun pemahamannya temporal dan menemukan arahya menjadi sebuah organisasi. Tentu gerakan pemikiran Islam yang diterjemahkan dalam bentuk Syarikat Islam bukan barang suci yang tak boleh disentuh. Ruang dan waktu yang berbeda menentukan pemikiran yang berbeda pula.

Karena itu, di saat hampir bersamaan lahirlah Muhammadiyah. Gerakan yang fokus pada keagamaan, pendidikan, dan sosial. Lagi-lagi, hal ini merupakan pengimplementasian dan pembaruan pemikiran Islam.

Gerakan pembaruan pemikiran Islam awalnya dimulai dari satu orang, kemudian merembet pada semua kalangan. Menjadi tidak bagus ketika pelembagaan pemikiran itu menjadi beku dan mengkristal. Dari sinilah kemandekan berpikir dimulai. Umat Islam yang merasa nyaman dan tenang tidak sibuk lagi memikirkan pembaruan pemikiran Islam.

Organisasi keagamaan biarkan hidup. Sekaligus, pembaruan pemikiran harus tetap jalan. Ia tidak boleh berhenti di tengah jalan. 

Saya kira benar apa yang dikatakan Cak Nur. Guna perkembangan peradaban dan kemajuan, manusia harus selalu bersedia meninggalkan setiap bentuk kepercayaan dan tata nilai yang tradisional, dan menganut kepercayaan yang sungguh-sungguh merupakan kebenaran. Hal inipun harus dimulai dari keinginan untuk berkomitmen memperbarui pemikiran Islam.

Keinginan dan kenyataan tidak selamanya berbanding lurus. Pada kenyataannya, umat Islam saat ini masih tetap terbelakang dan terpinggirkan. Kalaupun tampil di permukaan, sebenarnya mereka seolah-olah hanya jadi pelengkap permainan politik. Suara mereka hanya berguna ketika ajang pemilihan kepala daerah atau pemilihan di tataran nasional.

Akibat pemikiran yang mandek, mereka seperti buih, terhempas dan bercerai di batu karang. Lantas, ke manakah pemikirnya?

Menjadi tanda tanya besar ketika pemikir Islam saat ini seperti hilang ditelan bumi. Yang ada hanya pemikir-pemikir yang sebenarnya jadi corong politisi.

Generasi pasca Cak Nur, Wahib, Djohan Effendy, Dawam Rahardjo, Moeslim Abdurrahman, dan Gus Dur tidak lagi kendengaran gaungnya. Meskipun sebenarnya pemikir Islam seperti Budhy Munawar Rachman, Quraish Shihab, Azyumardi Zzra, Komaruddin Hidayat, Ulil Abshar, Masdar Farid Mas'udi, Zuly Qodir, Fahcry Ali, dan Luthfi Assyaukanie tetap memainkan perannya sebagai pembaru Islam, tetapi saat ini tak dipungkiri wajah Islam belepotan akibat ulah politisi yang sebenarnya hanya menumpanginya.

Harus diakui, kerinduan pada Cak Nur, Gus Dur, dan pemikir lainnya semakin menggelora. Bukan berarti dalam hal ini mengkultuskan mereka. Semangat merespons mereka pada sosial dan politik membuka kran pemikiran-pemikiran baru. Tepatnya, mengunggulkan burhani tapi tak melupakan nalar bayani sesuai kebutuhannya.

Islam transformatif, Islam subtantif, Islam inklusif, Islam pribumi, dan lainnya adalah pelembagaan. Islam dengan pelbagai corak ini merupakan ijtihad untuk merespons keadaan sosial di mana pemikiran itu lahir. Patut dihargai sekaligus dicari akar historisnya untuk dikritisi. Sebab suatu pemikiran takkan luput dari setting sosialnya.


Memang sempat terpikir, barangkali perkembangan pemikiran Islam saat ini mandek disebabkan oleh dua faktor: takut kafir atau murtad dan takut dapat sanksi sosial berupa label kafir murakkab. Inipun tak dapat dipungkiri mengingat Cak Nur yang dulu dituduh antek asing dan orientalis. Ulil Abshar yang disuruh baca syahadat lagi.

Dua faktor tersebut cukup membuat generasi saat ini sudah mengalihkan pemikirannya pada fokus jadi tukang jual somay, budi daya lele, dan sebagainya. Meskipun sebenarnya pekerjaan ini bukan pekerjaan yang hina. Tapi, dengan begitu, generasi yang sebenarnya banyak bertanya tentang keagamaannya dan bisa jadi awal pembaruan Islam, tenaganya terfokuskan pada wilayah usaha.

Dua faktor yang menjadi penghambat itu sebenarnya harus diretas. Sebab, jika tidak, pemikiran iIlam yang lebih segar takkan pernah lahir. Ketenangan pada hasil pemikiran ijtihadi tak lebih bagus daripada keresahan berpikir. Sebab dengan resah seseorang akan temukan jawaban. Wahib pernah menulis, "Berpikir yang salah lebih baik daripada tidak berpikir sama sekali."

Yang ironis, kita meyakini suatu hasil pemikiran dan tak pernah menanyakannya. Kebenarannya seolah sudah final, padahal kebenaran mutlak hanya Tuhan.

Karena kebenaran mutlak hanya Tuhan, maka proses ijtihadi dalam pemikiran adalah relatif. Yang jadi titik tolak adalah tiada tuhan selain Tuhan. Paradigma berpikir sudah jadi rongsokan seharusnya diganti. Hal itu dengan pembaruan. Pembaruan pemikiran Islam adalah sebuah keharusan. Menghidupkan kembali pemikiran muktazilah dan mendudukkan sebagian pemikirannya saat ini adalah kemestian.

Karena suatu pembaruan pemikiran tidak akan tercapai, maka organisasi kemahasiswaan seperti HMI, PII, IMM, PMII, dan KAMMI harus memulainya. Ditekennya Permenristekdikti 55/2018 adalah kran menyebarkan ide-ide pembaruan pemikiran Islam. Jangan salah gunakan! Ia bukan hanya jalan perebutan kekuasaan di internal kampus. 

Naiklah ke tingkatan homo sapiens secara kaffah, tinggalkan tingkatan homo homini lupus. Dengan begitu, panjanglah usia pengabdian kalian. Tidak sekadar meniru senior-seniornya yang sebenarnya tak lagi memikirkan organisasi yang dulu membesarkannya.


Artikel Terkait