SEJAUH mana Anda mengetahui Amerika Serikat? Jika disimpulkan secara singkat, kira-kira begitulah inti dari rentetan pertanyaan yang harus diisi oleh para peserta Kursus Singkat Pemikiran Politik Amerika Serikat, sebelum kami memulai kuliah pertama. Ragam pertanyaan itu terangkum dalam Pre-Program Survey yang kami isi secara online. Tiap-tiap pertanyaan harus diisi dengan menyebutkan tingkat pengetahuan peserta dengan ukuran numerik, dari 0 sampai 5. Angka 0 menyatakan tidak adanya pengetahuan. 

Sementara angka 5 adalah indikasi kepakaran. Saya menjawab 0 untuk hampir semua pertanyaan. Karena saya tidak memiliki pengetahuan (politik) tentang Amerika Serikat yang memadai. Kita semua hampir pernah mendengar tentang Amerika (Serikat), tak terkecuali saya. Namun, sejauh dan sedalam apakah informasi yang kita peroleh dari pendengaran tersebut, saya tidak bisa mengukur.

Maka, ketimbang bersepekulasi soal sejauh mana pengetahuan tentang Amerika Serikat, saya memutuskan untuk menjawab tidak tahu atau dengan angka 0 tadi. Dari sinilah saya belajar tentang pemikiran politik Amerika Serikat dari nol. Lalu dari mana mempelajarinya? Tentu mengenal Amerika sebagai sebuah negara secara umum menjadi pintu masuknya. Kemudian, saya mencari peta, dan sekali lagi melihat di mana posisi Amerika Serikat dalam peta dunia. 

Benua Amerika diapit oleh Samudera Atlantik di sebelah timur dan Samudera Pasifik di sebelah barat. Karena Amerika adalah sebuah benua, maka sebenarnya Amerika Serikat adalah salah satu negara saja yang berada di benua ini. Orang sering menyebut Amerika Utara dan Amerika Selatan untuk membedakan Amerika Serikat dan Kanada yang berada di sebelah utara benua ini, dan negara-negara di benua Amerika lain seperti Mexico, Brazil, Argentina, Ekuador, Bolivia, Chile, Panama dan Venezuela.  

Di sinilah, seringkali orang menyebut Amerika Serikat atau United States of America dengan Amerika atau America saja. Ada satu peristiwa kecil yang berkaitan dengan hal ini. Pada saat orientasi akademik program ini, Lonce Bailey, koordinator akademik, berulang kali menyebut “politics in America”. Tak lama setelah itu, dia membuat sebuah klarifikasi bahwa yang dia maksud dengan Amerika di sini adalah United States of America. 

Mengapa demikian? Karena dalam kelompok kami, ada beberapa peserta dari negara Amerika Selatan atau Amerika Latin. Oh ya, sebelum terlalu jauh, saya juga ingin berbagi pengamalan tentang persepsi atas Amerika Selatan dan Amerika Latin. Dengan berada di Amerika secara fisik inilah, lalu saya bertanya apa perbedaan antara Amerika Latin dan Amerika Selatan?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya membuka diskusi singkat dengan Veronica dari Brazil dan Bele Peralta dari Argentina. Dari mereka berdua saya menemukan jawaban sederhana bahwa Amerika Selatan merujuk pada entitas geografis, sementara Amerika Latin menunjuk kepada entitas kultural. Aha! Menarik sekali jawaban sederhana ini. Dari sinilah lalu saya mencari penjelasan yang lebih jauh. Sementara Amerika Selatan sebagai entitas geografis yang bermakna negara-negara yang berada di benua Amerika sebelah selatan, Amerika Latin sebagai entitas budaya perlu sedikit penjelasan. 

Rupanya, istilah Amerika Latin merujuk kepada negara-negara yang pernah dijajah oleh negara-negara Eropa yang basis bahasanya adalah bahasa Latin seperti Spanyol, Portugis dan Perancis. Kelompok ini sering juga dengan Hispanic, yang utamanya merujuk kepada negara-negara “keturunan” Spanyol.

Salah kaprah dalam menyebut Amerika sebagai benua dengan Amerika Serikat sebagai sebuah negara ini, rupanya tidak satu-satunya kasus. Telah saya ceritakan di atas bukan, bahwa saya memilih angka 0 untuk pengetahuan tentang Amerika Serikat, ketimbang merasa tahu, tetapi sesungguhnya tidak tahu. Nah, contoh kasus lainnya adalah tentang Washington. Sampai sebelum tiba di Amerika Serikat, saya masih belum mengetahui bahwa ada dua Washington di Amerika Serikat. Naif sekali bukan? 

Begini ceritanya. Hari itu, para peserta kursus singkat memperoleh orientasi program. Salah satunya adalah informasi bahwa kami akan pulang ke negara masing-masing di akhir program ini dari Washington DC melalui Ronald Reagen National Airport. Washington DC adalah kota tujuan terakhir dan kami  akan menuju Washington DC melalui perjalanan darat dari Negara Bagian Virginia, tepatnya kota Charlottesville.

Mengetahui rencana perjalanan ini, sekali lagi saya merujuk ke peta. Muncullah peta di internet. Karena begitu luasnya wilayah Amerika Serikat, yang segera hinggap di mata saya mula-mula adalah tulisan “Washington” di pojok kiri atas peta Amerika Serikat atau barat daya dalam dunia nyata. 

Saya termenung sebentar: berarti jarak Washington sangat jauh dari Massachusetts dan Virginia yang berada di kanan atas peta Amerika Serikat atau timur laut dalam dunia nyata. Sampai di situ, lalu saya memeriksa agenda program. Tertulis di jadwal, perjalanan ke Washington DC dari kota Charlottesville, negara bagian Virginia dilakukan melalui jalur darat. Saya tak habis fikir, bagaimana perjalanan dari ujung timur ke ujung barat Amerika Serikat dilakukan dengan perjalanan darat?

Hari berlalu, dan saya lupakan pertanyaan ini. Hingga suatu ketika, dalam sebuah obrolan singkat dengan seorang teman, dia bertanya: “Akan kembali ke Indonesia dari kota mana dan kapan?” Saya menjawab: “Dari Washington.” Mendengar jawaban ini, teman tersebut mengerutkan dahinya dan kembali bertanya: “Washington? Do you mean DC?” Tanpa banyak berfikir saya mengangguk, karena teringat ibukota Amerika Serikat adalah Washington DC. Sampai di situ saya belum faham mengapa muncul pertanyaan penegasan DC, ketika saya menyebut kata Washington. Tapi rupanya saya tidak tahan untuk tidak mencari jawaban.

Maka, dalam waktu senggang saya menyempatkan diri mampir ke perpustakaan W.E.B du Bois University of Massachusetts untuk mengobati rasa penasaran. Membuka-buka online database dan akhirnya... Eureka! Jawaban itu kini telah saya temukan. Ternyata memang ada dua Washington. Pertama adalah nama sebuah negara bagian di wilayah barat daya Amerika Serikat. Negara bagian ini berada di sebelah utara negara bagian Oregon, dan di sebelah barat negara bagian Idaho. 

Ah, rasanya sulit mengingat dan apalagi menghafal nama-nama negara bagian di Amerika Serikat. Jika Anda mengalami hal itu, Anda tidak sendirian, karena saya juga mengalami hal yang sama. Amerika Serikat terdiri dari 50 negara bagian dengan dinamika politik yang sangat menarik. (Saya akan menulis tentang hal ini di tulisan-tulisan berikutnya). 

Negara bagian Washington juga berbatasan dengan sebuah provinsi di Kanada yang bernama British Columbia. Nama negara bagian ini diambil dari nama presiden pertama Amerika Serikat, George Washington, yang berkuasa pada tahun 1789 hingga 1796.

Sementara Washington DC (ingat, huruf D dan C harus ditambahkan), adalah nama ibukota Amerika Serikat. DC adalah singkatan dari District of Colombia. Maka jika yang kita maksud adalah ibukota Amerika Serikat, sebaiknya kita sebut Washington DC atau umumnya orang menyebut DC saja. Jika kita menyebut Washington saja, dan kebetulan lawan bicara kita adalah orang Amerika Serikat, maka sangat mungkin itu bermakna dua hal: Washington state (Washington sebagai negara bagian) atau Washington DC. Sehingga, jangan heran, jika setelah menyebut kata Washington, lalu orang Amerika Serikat atau mereka yang telah tahu tentang Amerika Serikat kemudian bertanya: “Do you mean DC or state?”

Cerita ini berisikan kenaifan-kenaifan saya yang barangkali bagi sebagian orang tidak perlu terjadi. Tetapi, saya berpendapat lebih baik mengaku tidak tahu atas hal-hal yang kita tidak tahu, ketimbang mengatakan “ya” atas sesuatu yang kita tidak tahu karena terbebani oleh gengsi. Gengsi jabatan, gengsi posisi, atau juga gengsi gelar. Mungkin orang bertanya: Apa ya pantas, rektor, dekan atau ketua jurusan di kampus, ketika ditanya sesuatu kok menjawab “tidak tahu”? Apa ya wajar, sudah berpredikat “ustadz” kok ditanya sesuatu lalu merespon “tidak tahu”? Apa ya boleh, sudah menyandang gelar profesor, doktor kok menjawab sesuatu dengan “saya belum baca”?

Saya pribadi, lebih memilih menjawab “tidak tahu” atau “belum tahu” atas hal-hal yang saya belum tahu. Ya, daripada untuk menjaga gengsi lalu saya menjawab “ya”, padahal sesungguhnya saya tidak tahu, maka yang terjadi adalah berspekulasi. Bahasa gampangnya, spekulasi itu adalah “ngarang”. Ya, jika karangan saya benar; kalau salah? Saya kira begitulah manusia. Di balik hal-hal yang kita ketahui, ternyata ada masih banyak hal lagi yang kita tidak tahu. Bahkan, tidak jarang ketidaktahuan kita tentang hal-hal lain itu bersifat naif. Jadi, jika kita tidak mau mengakui ketidaktahuan kita atas hal-hal yang tidak ketahui, sungguh naif, bukan? Semoga kita terhindar dari hal-hal seperti ini.

Amherst-Massachusetts, 28 Juni 2017.