Andai saja saya sedikit lebih bijaksana lagi, mungkin dia tidak akan berpendapat seperti itu. Seorang teman terkejut melihat orang yang dikenalnya sebagai preman kampung, tatoan, pemabuk, dan penjudi sedang berjalan kaki menuju ke masjid. Tujuannya untuk salat berjemaah, lengkap dengan pakaiannya yang bersih.

Ia tak menyangka dengan apa yang dilihatnya saat itu. Seorang preman yang setiap malamnya mengonsumsi minuman-minuman keras, mencoba untuk melangkahkan kakinya menuju ke tempat yang suci.

Dari pengakuannya, dia sangat begitu mengenalinya. Rumahnya bertetangga dengannya. Sesekali ia mendapat ajakan darinya untuk ikut bergabung bersamanya, namun sedikit pun dia tidak pernah menggubrisnya.

Ia juga bercerita, hampir setiap malamnya dilihatnya preman itu berjalan di lorong-lorong rumah warga sambil mabuk-mabukan. Berikut dengan sebotol minuman keras di genggamannya. Kadang hanya ditemani oleh beberapa teman laki-lakinya, dan kadang pula berjalan berdua dengan seorang perempuan yang berpakaian terbuka.

Saya menduga kebiasaan negatif preman itulah yang membuat teman saya begitu terkejut. Ketika dilihatnya preman tersebut berpakaian bersih, layaknya orang-orang saleh pada umumnya.

Seolah apa yang dipikirkannya selama ini tentang preman tersebut semuanya salah. Selama ini, ia telah menganggapnya sebagai manusia yang penuh dengan dosa. Manusia yang tidak akan mendapat ampunan dari Tuhan, dan menganggapnya sebagai calon penghuni neraka.

Namun rupanya, keterkejutannya saat itu tidak cukup membuat pikirannya terhadap preman tersebut bisa berubah. Ia tetap menganggapnya sebagai manusia yang hina dina. Bahkan keinginan preman itu untuk berubah menjadi ahli ibadah justru malah dianggapnya sebagai kebohongan belaka.

Dalam hati kecil ini, ada keinginan untuk memberikan petuah singkat namun berisi kepada teman saya itu. Tapi siapalah saya ini. Saya hanyalah orang awam yang seperti dengannya. Saya tidak sebijak dengan pak Mario Teguh yang setiap untaian kalimatnya mengandung energi kehidupan bagi siapapun yang mendengarnya.

Alih-alih akan didengarkan, justru malah akan diremehkan. Toh, kebiasaan kebanyakan dari kita memang demikian, hanya bersedia membuka telinga kepada mereka yang bergelar.

Saya ingin berkata kepadanya, bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menuju kepada kebaikan. Entah dia itu seorang preman, pencuri, atau pezina. Dan bahkan, sebanyak apapun dosa-dosanya, semuanya berhak untuk menjadi manusia yang baik.

Hamba yang taat kepada Tuhannya, ahli ibadah, dan manusia yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Preman beserta dengan berbagai embel-embel negatif yang dilekatkan kepadanya, tidak berarti akan selamanya terkungkung dalam kubangan dosa-dosa.

Ia pastinya juga sangat ingin merasakan nikmatnya berbuat kebajikan. Juga nikmatnya beribadah, saling berbagi, saling menghargai satu sama lain, serta saling menebarkan kasih sayang. Karena pada dasarnya, semua manusia memiliki keinginan untuk menjadi baik, dan itu adalah fitrahnya.

Saya teringat dengan kisah yang pernah diceritakan kakek saya dulu. Adalah Yuli, seorang perempuan yang berprofesi sebagai pelacur. Tidak banyak yang mengetahui sebab apa yang membuatnya sehingga memilih untuk menjadi sebagai pelacur.

Orang-orang di sekitarnya hanya melihat apa yang dilakukan olehnya. Keluar rumah di malam hari dengan seorang laki-laki, dan pulang pada pagi harinya hanya seorang diri. Demikianlah kebiasaan yang dilakukan oleh Yuli setiap harinya, yang membuatnya mendapat berbagai penilaian negatif dari lingkungannya.

Padahal, mereka sama sekali tidak mengetahui alasan sehingga Yuli berani-beraninya merelakan dirinya untuk dijamah oleh lelaki yang bukan mahramnya.

Berbekal informasi yang diterima oleh kakek saya, rupanya alasan ekonomi yang menjadi dalang utamanya. Semenjak suaminya menceraikannya, ia tak tahu lagi dengan cara apa ia bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

Sehingga menjadi pelacur pun merupakan jalan satu-satunya yang terpaksa ia pilih. Akibatnya, nama baik keluarganya juga ikut ternodai, tetangga-tetangganya banyak yang menjauhinya, jadilah ia sebagai orang yang terasing di kampung sendiri.

Demikianlah cerita singkat Yuli. Yang padanya, saya mengambil pelajaran bahwa apa yang kita lakukan akan menjadi bentuk lain diri kita di mata orang lain. Sekalipun bentuk itu bukanlah diri kita yang sebenarnya, orang lain tidak peduli dengan hal itu.

Mereka hanya bisa menilai apa yang mereka lihat. Karena itulah, menjadi penting bagi kita untuk senantiasa menjaga perilaku kita di depan mereka.

Baik dan buruknya diri kita hanya kita sendirilah yang mengetahuinya. Orang lain bisa saja menilai kita dengan hal-hal yang negatif. Namun, mereka tidak akan pernah tahu bahwa kita juga ternyata memiliki sebuah keinginan mulia yang hendak ingin kita lakukan.

Mereka tidak akan pernah bisa paham. Betapa kita juga pernah merasakan ketenangan jiwa dalam ibadah yang kita lakukan di malam harinya.

Inilah yang tidak diketahui oleh banyak orang. Tentang apa yang kemudian disebut dalam teori dramaturgi transendental, yang dicetuskan oleh Erving Goffman sebagai “panggung belakang” (back stage). Panggung yang hanya bisa diketahui oleh kita sendiri.

Dalam teori dramaturgi tersebut, dikatakan bahwa dalam kaitannya dengan interaksi sosial, setiap orang memiliki dua panggung. Kedua tersebut yakni panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage).

Front Stage adalah panggung yang bisa dilihat oleh orang lain. Sementara Back Stage adalah sebaliknya, yakni panggung yang hanya bisa diketahui oleh diri kita sendiri.

Front stage mengindikasikan tentang perbuatan kita yang terlihat oleh orang lain. Sebagaimana front stage seorang dokter di mata kita, adalah orang yang bertugas untuk menyembuhkan pasiennya. Front stage seorang guru, adalah ia yang bertugas untuk mendidik anak-anak didiknya. Dan begitu pun front stage seorang penulis, adalah ia yang pandai merangkai kalimat. Setiap orang memiliki front stage-nya masing-masing.

Selain itu, front stage kita di mata orang lain bisa saja beragam bentuknya, tergantung pada sejauh mana mereka mengenali kita. Front stage kita di mata si A, bisa saja berbeda dengan apa yang dilihat oleh si B. Begitu pun dengan si C yang melihat front stage kita yang berlainan dengan yang dilihat oleh si D.

Patut juga untuk digarisbawahi, bahwa front stage bukanlah gambaran jati diri kita yang sebenarnya.

Apa yang ditampilkan oleh front stage kita, tidak lebih dari sekadar apa yang kemudian disebut dalam kaca mata Dramaturgi Transendental sebagai “panggung sandiwara”.

Sayangnya, orang lain justru malah berpendapat sebaliknya. Front stage kita dijadikan oleh mereka sebagai tolak ukur diri kita yang sebenarnya. Apa yang ditampilkan oleh front stage kita itulah yang akan mereka nilai tentang kita.

Karenanya, seorang pengemis di mata banyak orang digambarkan sebagai orang yang miskin, berbau, serta tidak terpelajar. Sebab yang demikianlah ditampilkan oleh front stage-nya.

Seperti itu pula seorang pendakwah, yang digambarkan berdasarkan pada front stage yang ditampilkannya. Seperti orang yang saleh, ahli ibadah, dan berwawasan luas. Padahal kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam lubuk hati setiap orang. Kita juga tidak pernah melihat apa yang dilakukannya saat dalam keadaan sendiri.

Siapa sangka jika ternyata seorang pelacur, di setiap sela-sela waktunya hatinya selalu berdzikir kepada Tuhannya. Memohon petunjuk agar bisa kembali kepada jalan yang diridhoi-Nya.

Demikian halnya dengan ia yang dianggap memiliki wawasan yang mendalam tentang agama. Tidak berarti langkah kakinya akan senantiasa pula berada di atas jalur agama.

Dengan demikian, menjadi penting bagi kita untuk tidak dengan seenaknya menilai orang lain. Bahkan terhadap mereka yang sekalipun memiliki hubungan khusus dengan kita. Selain itu, bagaimana kita bisa menilai orang lain, sementara untuk memahami diri kita sendiri saja tidak mudah.

Karenanya, mulai dari sekarang kita harus membangun sebuah kesadaran, bahwa betapa banyak hal-hal yang tidak kita ketahui tentang orang lain. Dan yang bisa kita ketahui tentang mereka hanyalah pada aspek front stage-nya saja, ruang di mana mereka bersandiwara.

Di sinilah pentingnya sebuah pengetahuan akan adanya back stage pada diri setiap orang. Suatu ruang di mana mereka menyimpan jati diri mereka yang sebenarnya, tempat bersemayamnya nilai kemanusiaan mereka.

Pada ruang inilah, kedudukan seorang ahli ibadah di sisi Tuhannya berada. Dan pada ruang ini pulalah kata hati para pelaku maksiat menggema.

Kendati pun, tidak ada kemungkinan bagi siapa pun untuk mengetahui back stage orang lain. Namun, dengan menyadari bahwa setiap orang memiliki back stage-nya masing-masing; kita tidak akan pernah lagi memberikan penilaian dengan sesuka hati terhadap siapa pun.

Yang harus kita lakukan adalah senantiasa membenahi kedua panggung dramaturgi yang kita miliki, yakni front stage dan back stage kita.

Sehingga dengan demikian, kita akan lebih mudah untuk menetralisir timbulnya penilaian negatif dari orang lain. Dan kita pun juga tidak akan seenaknya lagi menilai orang lain.