Hidup di dalam sistem demokrasi yang masih begitu muda saat itu, masyarakat Yunani kuno tahu benar bahwa ada satu bentuk pemerintahan yang tidak akan lagi mereka alami: tirani. Namun begitu mereka juga senang melihat drama-drama yang menceritakan tentang penguasa tiran di atas panggung. Para penguasa tiran ini biasanya digambarkan sebagai seorang yang keras kepala dan tidak mau mendengarkan nasihat atau pendapat orang lain.

Salah satu alasan mengapa para penguasa tiran tidak mau mendengarkan orang lain adalah karena mereka berpikir bahwa mereka tahu segalanya - lebih baik daripada orang lain. Sikap ini adalah bentuk keangkuhan - harga diri yang terlampau tinggi - yang mustinya tidak boleh dimiliki oleh pemimpin mana pun.

Alasan lain mengapa penguasa tiran tidak mau mendengarkan orang lain adalah karena mereka menganggap bahwa menerima nasihat dari pihak yang berada di bawah mereka hanya akan menjadi ancaman terhadap otoritas mereka. Para tiran tersebut takut jika pemerintahan mereka akan digulingkan. 

Itulah mengapa apabila mereka menerima suatu kabar atau isu tertentu yang mereka anggap akan mengancam posisi dan integritas mereka, mereka akan mengatakan bahwa kabar atau isu tersebut adalah bagian dari konspirasi dan/atau sejenisnya yang bertujuan untuk menjatuhkan dan memfitnah mereka. Hal ini guna agar mereka dapat menekan isu berbahaya tersebut dan agar supaya mereka dapat memonopoli opini rakyat terhadapnya. 

Ada beberapa drama Yunani kuno yang menggambarkan tema kepemimpinan tiran seperti ini dengan baik. Sebagai informasi, kata "tyrannos" sebagai akar kata "tirani" dalam bahasa Yunani pada mulanya hanya bermakna "penguasa/pemimpin", namun kemudian Sophocles sedikit memperluas makna kata tersebut. Ia menuliskan bahwa kata tersebut merujuk pada suatu jenis pemerintahan yang dipimpin oleh satu orang yang merasa tidak terikat dengan hukum dan memiliki kuasa penuh dalam pengambilan keputusan. 

Salah satu drama populer yang menggambarkan kepemimpinan tiran ini adalah kisah Oedipus, yang digambarkan sebagai penguasa tiran dalam lakon epik Sophocles - 'Oedipus Tyrannus'. Di sana ia menceritakan bahwa Oedipus memimpin sebuah kota bernama Thebes; dia termasuk penguasa yang hebat namun sayang kesombongannya adalah hal yang lebih mencolok daripada kualitas pemerintahannya. Dia sangat bangga dengan kecerdasannya, bahkan dia juga suka mengatakan kepada orang-orang betapa jeniusnya dirinya.

Namun suatu waktu kota itu tiba-tiba menghadapi krisis besar. Telah terjadi wabah penyakit yang menyebabkan ekonomi anjlok dan integritas kepemimpinannya mulai diragukan. 

Pada masa itu, banyak orang yang percaya bahwa munculnya wabah penyakit tersebut diakibatkan oleh pelanggaran atas norma-norma agama. Seorang peramal terkenal saat itu mengabarkan kepada orang-orang bahwa penyebabnya ialah karena ada seorang pembunuh yang tinggal di tanah mereka. Peramal tersebut mengatakan bahwa wabah itu tidak akan berakhir sampai pembunuh tersebut ditemukan dan diasingkan.

Di tempat lain, Oedipus juga berjanji kepada rakyatnya bahwa ia akan segera menemukan cara untuk bagaimana mengakhiri wabah tersebut lalu kemudian menyelamatkan kota. Namun sayang, karena sifat tiran dan arogannya, dia gagal. 

Andai Oedipus mau mendengar suara-suara di bawah kakinya, dia mungkin akan menyadari bahwa selama ini dia lah masalahnya! Namun sayang, dia justru menanggapi apa yang disarankan orang lain padanya dengan kemarahan - bahkan ia tak segan-segan mengeksekusi mereka yang berani mengguruinya itu di alun-alun kota. Inilah yang membuat kisah ini menjadi kisah yang menarik.

Di akhir hidupnya, sekitar tiga puluh tahun setelah menulis drama tersebut, Sophocles kemudian menulis drama kedua tentang Oedipus. Dalam drama kali ini, Oedipus diselamatkan dan dihibur oleh seorang yang arif yang tahu bagaimana cara menghargai dan mendengarkan nasehat atau pendapat orang lain - Theseus.

Oedipus yang malang sudah buta, lumpuh, tua, lesu, dan kotor karena selama bertahun-tahun hanya hidup sebagai tunawisma. Konon, penderitaan yang ia alami tersebut ia dapatkan sebagai ganti atas keangkuhannya di masa lalu. 

Ketika semua orang mengusir Oedipus, Theseus datang menolongnya dan dengan senang hati mau mendengarkan ceritanya. Theseus menunjukkan sikap terbuka dan belas kasih kepada pria tua itu dan meminta semua orang agar mau menerima dan mengasihinya juga. Sebagai ganti kebaikan hatinya, Theseus pun kemudian menerima banyak sambutan dan pujian di masyarakat.

Di sini Sophocles menutup karyanya dengan menggambarkan seorang pemimpin sejati - yang dengan senang hati mau mendengarkan masukkan dari orang lain, bertindak dengan penuh kasih sayang, dan juga membawa manfaat kepada banyak orang. Inilah contoh pemimpin ideal yang banyak diidamkan oleh semua orang.

Jadi, bisakah kita menemukan seorang yang memiliki kualitas tersebut - di mana - orang tersebut mau terbuka dan mendengarkan masukkan dari orang lain dan tidak berpikir bahwa dia lah yang paling tahu?

Semoga saja bisa.