Karya sastra lahir dari pandangan atau kehidupan pribadi pengarangnya. Inilah mengapa tidak sedikit karya sastra digunakan sebagai wadah pengarang untuk berpendapat bahkan mengkritik sesuatu, baik secara eksplisit maupun implisit.

Dalam dunia drama, dikenal istilah aliran realisme. Aliran realisme dalam teater adalah penggambaran kenyataan hidup sehari-hari dalam sebuah naskah atau pementasan. Cukup banyak dramawan yang menulis naskah drama realis yang mengandung kritik sosial, salah satunya adalah Utuy Tatang Sontani.

Selayang Tentang Utuy Tatang Sontani

Utuy Tatang Sontani merupakan sastrawan kelahiran Cianjur, 13 Mei 1920. Sastrawan berdarah sunda ini mempunyai segudang karya, mulai dari cerpen hingga naskah drama. Utuy pernah bekerja di berbagai tempat, seperti Balai Pustaka, Kantor Pendidikan Masyarakat, Jawatan Kebudayaan, Lembaga Bahasa dan Kesusasteraan, dan sebagainya.

Utuy lahir dari keluarga seorang saudagar yang kaya raya. Meski berasal dari keluarga yang kaya, Utuy tidak pernah merasakan kekayaan itu. Utuy tinggal di sebuah rumah sederhana di perkampungan becek belakang stasiun Jatinegara bersama istri dan anak-anaknya. Kehidupan yang sederhana atau bahkan serba kekurangan ini sudah dijalani Utuy sejak masih kecil.

Lika liku kepahitan hidup yang dilalui Utuy, menjadikan karya-karyanya terasa nyata dan dekat. Karena karya-karyanya banyak memuat latar sosial yang terjadi pada masanya. Pembaca seolah bisa menemukan kehidupan Utuy dalam karya-karyanya. Di antara karyanya yang sarat akan kritik sosial adalah naskah Bunga Rumah Makan dan naskah Awal dan Mira.

Ada Apa dengan Bunga Rumah Makan?

Bunga Rumah Makan merupakan naskah drama Utuy yang pertama kali terbit, yaitu pada Januari 1947. Seperti namanya, naskah ini berlatar rumah makan. Bunga yang dimaksud di drama ini adalah seorang perempuan cantik yang menjadi pelayan di rumah makan tersebut. Mengapa bunga? Karena layaknya bunga, pelayan perempuan itu dijadikan sebagai hiasan di rumah makan tersebut.

Naskah drama ini sarat akan kritik sosial, yang dihadirkan melalui dialog-dialog antar tokoh, khususnya tokoh Iskandar yang digambarkan sebagai laki-laki bebas yang merdeka. Tokoh Iskandar inilah yang akhirnya menyadarkan Ani bahwa selama ini dirinya terbelenggu di rumah makan sebagai hiasan atau penarik pelanggan.

Lewat naskah ini, kesederhanaan Utuy seakan menyinggung orang-orang yang bekerja mati-matian sampai tidak sadar bahwa dirinya terbelenggu dengan pekerjaan tersebut. Selain itu, naskah ini juga menyinggung oknum-oknum yang menjadikan kecantikan perempuan sebagai ‘penglaris’ atau ‘promosi’ suatu barang (usaha).

Bagaimana dengan Awal dan Mira?

Hal pertama yang menarik dari naskah drama Awal dan Mira adalah cara penulisannya yang lebih seperti sebuah cerpen. Awal dan Mira melukiskan kehidupan masyarakat Indonesia pada tahun 1960-an, dengan latar sebuah warung kopi. Dan naskah drama ini merupakan drama karya Utuy yang paling sering dipentaskan serta mendapat Hadiah Sastera Nasional dari BMKN pada tahun 1952.

Kau bagiku bukan tukang kopi, Mira” menjadi dialog yang banyak dihafal oleh anak-anak muda yang pernah membaca atau menonton drama ini. Dialog ini berkali-kali diucapkan oleh tokoh Awal yang mencintai Mira, perempuan cantik pemilik warung kopi. Namun dinginnya sikap Mira yang seolah tidak acuh terhadap Awal, membuat Awal berputus asa.

Awal merupakan sosok yang kehilangan kepercayaan dan menganggap semua orang badut. Penyiar radio yang asal bicara, rakyat biasa yang banyak bicara, sampai orang tua yang bijak, semua dianggap badut oleh Awal. Lewat sosok Awal ini, Utuy seolah melukiskan kekecewaan masyarakat terhadap hasil perjuangan kemerdekaan.

Pemakaian kata ‘badut’ ini merupakan kritikan bahwa kedudukan sosial (jabatan) yang dimiliki seseorang, tidak menjadikannya seseorang yang paling benar, bijak, dan nasionalisme. Terkadang, orang-orang itu layaknya badut yang melawak dengan bualan-bualannya.

Selain tokoh Awal, tokoh Mira juga turut menyampaikan kritikan sosial dengan sikapnya dalam menghadapi kehidupan. Tidak berbeda jauh dengan Awal, Mira merupakan sosok perempuan yang cerdas. Lewat tokoh Mira, pembaca disadarkan bahwa sejatinya orang yang paling bisa dipercaya adalah diri sendiri. Dan di akhir cerita, kenyataan tentang Mira merupakan sebuah plot twist yang sulit untuk ditebak di awal cerita.

Naskah-naskah drama karya Utuy ketika dipentaskan, selalu menjadi pementasan yang sepi dan kosong, karena tidak ada properti-properti atau make up khusus. Semuanya hanya bertumpu pada dialog-dialog tokoh yang sudah mencerminkan kondisi mental sosial pada masanya.

Jika membaca karya-karya Utuy, maka kita akan mudah mengetahui bahwa Utuy mempunyai topik permasalahan yang sama atau berkaitan. Tokoh utama dan tokoh pendukung dalam setiap karyanya menjadi wakil dari kondisi sosial secara umum. Utuy sangat mahir mengorek masalah-masalah mendasar hubungan antar manusia tanpa harus lepas dari keseharian yang masuk akal.

Lewat naskah-naskah dramanya, Utuy mencoba untuk menggambarkan kenyataan sekaligus kritik sosial. Utuy juga selalu berhasil menghadirkan sosok dirinya dalam setiap karya-karyanya. Begitulah Utuy, raksasa dramaturg terbesar pada masanya.

Sumber Bacaan

  • Naskah Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani.
  • Sontani, Utuy Tatang. Awal dan Mira: Drama Satu Babak Karya Utuy Tatang Sontani. Bandung: Pustaka Jaya. 2014.
  • Supartono, Alex. Rajawali Berlumur Darah: Karya-Karya Eksil Utuy Tatang Sontani. Jurnal Kalam. 2001.
  • WS, Hasanuddin. Drama: Karya dalam Dua Dimensi. Bandung: Penerbit Angkasa. 1996.