Eyang Habibie (Reza Rahadian) diminta Tiffanie (Anodya Shula Neona Ayu) menceritakan kisah neneknya, Eyang Ainun. Mengingat kondisi fisik dan mental Habibie, anak-anak sebenarnya merasa kecolongan setelah mendengar permintaan Tiffanie.

Memori Habibie pun memanggil kembali rekaman ingatan di tahun 1950-an, masa ketika Habibie muda mengejek Ainun (Maudy Ayunda) sebagai gula jawa yang hitam dan jelek. Ainun remaja sudah menunjukkan semangat pantang menyerah dan empati dalam sebuah pertandingan kasti.

Dua karakter yang membuat Habibie muda memperhatikannya sepanjang pertandingan. Namun Habibie meninggalkan lapangan saat tim Ainun merayakan kemenangan. Di jalan, mereka menempuh rute yang sama dalam waktu berbeda.

Dalam pesta perpisahan SMA Dago, Habibie memikat Ainun lewat kecerdasan dan gairah nasionalismenya yang begitu tinggi. Ainun menyatakan hasratnya untuk masuk fakultas kedokteran. Sementara Habibie mengungkap rencana kuliah membuat pesawat di RWTH Aachen.

Hasrat Ainun menjadi dokter memesona Habibie. Di zaman itu, di luar kelaziman seorang perempuan menjadi dokter. Mengingat stereotip perempuan lemah mentalnya. Sehingga pantasnya hanya jadi bidan, bukan dokter. Setelah pesta itu, mereka berdua berpisah.

Menjalani fase hidup baru sebagai mahasiswi kedokteran bukan sesuatu yang mudah bagi Ainun. Ia harus menghadapi arogansi feodalisme dari Agus (Arya Saloka) dan senior-senior lainnya. Ainun juga mesti membantah stereotip gender yang percaya bahwa perempuan tidak akan mampu menjadi dokter yang kompeten.

Stereotip yang dipercaya pula oleh Profesor Husodo (Arswendy Swara Bening), dosen senior yang berwibawa karena sikap dingin, kompetensi, dan ketegasannya. Beruntungnya, Ainun dikelilingi sahabat-sahabatnya, Arlis (Aghniny Haque) salah satunya.

Sikap tegas, kecerdasan, dan kecantikan Ainun ternyata terkenal di semua kalangan mahasiswa lintas fakultas. Sampai suatu saat, datanglah Ahmad (Jefri Nichol) yang mengajak berkenalan. Ahmad mahasiswa fakultas hukum yang cerdas, tampan, atletis, dan ulung berkelahi seakan menjadi sosok sempurna untuk melengkapi Ainun.

Gairah Ahmad yang sedikit nekat dan tahu cara bersenang-senang, selain belajar, membuat hidup Ainun lebih berwarna. Ahmad juga cukup peka memperlakukan Ainun. Ia juga bukan laki-laki yang meyakini stereotip gender di masa itu.

Sebagai seorang calon dokter, Ainun juga sempat mengalami goncangan akibat sifat empatiknya. Goncangan yang memperkuat Ainun sebagai dokter di masa datang.

Bagaimana kisah Ainun menyelesaikan masa studinya? Bagaimana pula kisah cinta Ainun dan Ahmad harus diakhiri?

Dari tiga seri film yang menyorot perjalanan hidup BJ Habibie dan Hasri Ainun Besari, naskah Habibie & Ainun 3 yang terbaik. Habibie & Ainun (2012) hanya memindahkan drama percintaan ala sinetron ke layar bioskop. Akting gemilang Reza Rahadian yang menyelamatkannya.

Kemudian, Rudy Habibie (2016) cuma mengubah buku motivasi dan acara motivator televise ke layar sinema. Caranya mengisahkan figur Habibie terasa berlebihan. Lagi-lagi, peran Reza Rahadian yang membuat film ini masih sedikit nyaman ditonton.

Namun Habibie & Ainun 3 berhasil menyajikan sesuatu yang lain. Setidaknya, film ini berusaha menampilkan pesan perlawanan terhadap feodalisme dan stereotip gender dengan cukup mulus. Walaupun dengan beberapa kejanggalan.

Isu menentang feodalisme dan pemberdayaan perempuan yang kuat hanya menjadi tempelan untuk mengglorifikasi karakter Ainun. Tidak ada deskripsi kuat bagaimana pemikiran-pemikiran maju Ainun mengubah hidupnya dan orang lain di masa depan.

Ainun hanya digambarkan berhasil meraih cita-citanya, terkait urusan cinta dengan Ahmad lalu berakhir berjodoh dengan Habibie. Semua kritik terhadap kontruksi sosial kuno menjadi mubazir karena gagal meledak hingga akhir film.

Film ini juga masih kecolongan dialog yang bernuansa stereotip gender. Dialog yang merusak isu-isu yang tampaknya ingin menjadi pemikat utama film ini, “ini urusan laki-laki”. 

Sejak kapan sebuah urusan sosial hanya jadi domain gender tertentu? Perkelahian sebagai cara menyelesaikan masalah juga justru bentuk maskulinitas beracun yang dikritik oleh feminisme.   

Teknik tata rias film ini sangat memukau. Bila pada dua seri film pertama penonton hanya teryakinkan pada bahasa tubuh dan dialog Reza Rahadian sebagai BJ Habibie, maka Habibie & Ainun 3 berhasil mengubah Reza menjadi Habibie di masa tua.

Tata rias yang mengagumkan cukup berhasil “menghilangkan” fisik Reza Rahadian. Penonton akan melihat BJ Habibie yang sedang berperan. Hanya teknik modifikasi kamera Habibie muda yang masih perlu diperbaiki. Ada pula permainan jukstaposisi kamera yang menarik, yakni saat Habibie dan Ainun muda pulang sekolah.  

Keputusan memilih Maudy Ayunda sebagai pemeran Hasri Ainun Besari muda terbukti tepat. Maudy berhasil menampilkan karakter perempuan cerdas, empatik, independen, autentik, dan punya visi yang jauh yang ingin digambarkan dari sosok Ainun muda.

Maudy Ayunda sangat meyakinkan mendominasi keseluruhan cerita. Film yang memang dirancang sebagai panggung utama karakter Ainun tidak disia-siakan Maudy. Ia jauh lebih kuat menampilkan karakter Ainun dibanding Bunga Citra Lestari dalam Habibie & Ainun (2012).

Bintang laki-laki yang cukup mengejutkan dalam film ini sesungguhnya adalah Jefri Nicol. Mengapa bukan Reza? Oleh karena kita semua sudah paham standar tinggi akting Reza Rahadian. Reza juga sudah pernah memerankan tokoh Habibie dalam dua film sebelumnya.

Jefri Nicol menjadi bintang yang mengesankan kali ini. Karakternya hidup. Ia bukan cuma menampilkan karakter maskulin yang kuat, berperut kotak-kotak, tampan dan cerdas, namun juga sosok pria egaliter dan bisa mengalami kerapuhan.

Ahmad, dalam presentasi Jefri Nichol, menjadi antitesis karakter Habibie. Habibie dicitrakan sebagai laki-laki cerdas tapi kurang maskulin dan tidak pandai memikat perempuan. Kemampuan perannya cukup berkembang. Minimal sejak perannya sebagai Nathan dalam Dear Nathan (2015).

Bagaimana dengan Reza sendiri? Sama dengan Habibie & Ainun (2012) dan Rudy Habibie (2016), bila mata penonton terpejam, penonton tidak akan mendengar Reza Rahadian berbicara. Penonton hanya akan menyimak BJ Habibie yang bicara. Seluruh air muka dan bahasa tubuh Reza pun benar-benar salin-tempel dari Habibie.

Dari deretan pemeran pendukung, Arswendy Swara Bening memukau penonton sebagai Profesor Husodo. Ia benar-benar sukses mempresentasikan sosok dokter yang dingin, tegas di awal. Namun kemudian, seiring perjalanan cerita, tersibak karakternya yang berhati lembut dan pemikirannya yang adil.

Aghniny Haque juga cukup menggigit memerankan karakter Arlis, sahabat Ainun. Aghniny relatif meyakinkan menampilkan karakter perempuan yang paling tegas dan berani menantang feodalisme serta patriarki. Karakter Arlis seakan menjadi versi pelengkap dari figur Ainun yang lebih terkendali.

Habibie & Ainun 3 relatif manis menutup (?) serial film kisah hidup BJ Habibie dan Hasri Ainun Besari. Penonton akan kecewa bila mengharapkan film ini mendasarkan cerita pada pemberdayaan perempuan dalam bingkai percintaan.

Namun, bila ekspektasinya sebatas film percintaan yang diselipkan bobot kritik pada konstruksi sosial, film ini relatif memuaskan. Isu penentangan pada feodalisme dan stereotip gender, peran Maudy Ayunda, Jefri Nicho,l dan Reza Rahadian, serta tata rias yang memukau, akan lunas membayar tiket bioskop penonton.