'Seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anaknya meskipun ia harus melakukan sebuah kejahatan'. Kalimat tersebut adalah ungkapan dari Shim Su Ryeon, salah seorang peran di drama ini kepada Yon Hee.

 Drama Korea yang dikemas dalam tiga season ini berhasil mendapat rating yang tinggi baik di Korea mau pun dari penonton Indonesia. Maka tak salah jika drama ini bisa dikatakan drama yang populer.

 Lantas, apa hubungannya drama Penthouse ini dengan gerakan childfree?  Penthouse secara keseluruhan menggambarkan konflik tajam yang tak jauh-jauh dari perebutan kekayaan. Perebutan kekayaan dan posisi penting ini kemudian dibumbui oleh kisah perselingkuhan hingga bagaimana tokoh-tokoh di drama ini memerlakukan anak-anak mereka.

 Peran utama Yon Hee adalah  single parent dengan seorang anak gadis. Anaknya yang masih SMA ini bercita-cita menjadi penyanyi seriosa. Dengan latar belakang kondisi ekonomi yang pas-pasan dan tidak memiliki koneksi, Bae Ro Na, anak gadis Yon Hee harus gagal untuk masuk ke sekolah musik yang dipinpinoleh Ceo So Jin yang ternyata dulunya adalah rival Yon Hee dalam kontes bernyanyi.

Ceo So Jin memenangkan penghargaan karena ia adalah putri pemilik sekolah musik dan Yon Hee harus sengaja dikalahkan demi ambisi orang tua So jin agar keturunannya menjadi primadona dan juara menyanyi.

 Ini baru awal konflik. Konflik-konflik berikutnya yang hadir di Hera Palace sebutan untuk sebuah Penthouse 100 lantai yang dimiliki oleh Jo Dan Tea itu terus berkembang dan semakin rumit. Para penghuni dan anak-anak mereka ikut terseret dalam konflik yang pekat.

Yang menarik dari drama ini adalah bagaiman para tokoh di drama ini menggunakan anak-anak mereka untuk meraih tujuan yaitu meraup banyak kekayaan.

 Anak adalah investasi. Ungkapan ini sangat tercermin dalam Penthouse. Anak dilahirkan untuk mewujudkan keinginan orang tuanya dan meningkatkan pamor orang tuanya apa pun itu. Begitu juga sebaliknya, orang tua memiliki tanggung jawab untuk memenuhi seluruh kebutuhan anak-anak dan melindunginya.

Pernyataan Shim Su Ryeon pada In Yoo Hee membuktikan bahwa cinta dan kasih sayang orang tua pada anak bisa sangat membutakan. Sekaligus bisa menjerumuskan.

Anak Sebagai Pengemban Ambisi Orang Tua

Tak beda dengan budaya kita yang menjadikan anak sebagai pemungkas impian orang tua yang tidak menjadi nyata. In Yoo Hee bisa jadi gagal dalam mewujudkan impiannya untuk memperoleh trophy. Maka Bae Ro Na, putrinya memiliki misi untuk meuwujudkannya. Atau lebih tepatnya ia memiliki beban untuk mewujudkannya meskipun awlanya In Yoo Hee tidak menginkan putrinya terjun dalam dunia yang dulu ia geluti.

 Sebagian besar orang setelah  menajdi orang tua akan memiliki ambisi yang berbeda. Ambisi-ambisi itu kemudian bergeser untuk kepentingan anak-anak mereka. Akan tetapi tetap saja ambisi yang dibebankan pada anak adalah ambisi atau keinginan dari orang tua sendiri.

 Memang, orang tua pastinya tidak menginginkan anak-anak mereka hidup bergelimang kesulitan. Orang tua akan mengusahakan apa saja agar anak bisa hidup dalam kesuksesan dan pastinya kesejahteraan berupa kekayaan materi.

Drama Korea Penthouse ini menggambarkan betapa peliknya permasalahan yang ditimbulkan akibat ego masing-masing orang tua untuk anak-anaknya. Hubungan darah lebih kental dari apa pun. Begitulah hubungan orang tua dan anak. Anak adalah bentuk cermin dari orang tua baik karakter mau pun fisik. Dan itu sangat terlihat pada karakter masing-masing tokoh di drama ini.

Setelah menonton drama ini membuat saya berpikir, jangan-jangan saya atau banyak orang juga memaksakan kehendak pada anak yang alih-alih bukan untuk kebahagaiaannya tapi untuk keuntungan kita sendiri.

Kita memasukkan anak ke pondok agar menjadi hafidz quran demi membuat kita masuk surga. Kita memasukkan anak ke sekolah mahal, ya tentunya agar potensi anak kita bisa tergali dengan baik, dan kemudian tentunya saat anak kita menjadi pintar, kita sebagai orang tua mendapat stempel sebagai orang tua yang baik. Kita dulu punya impian untuk menjadi dokter tapi gagal, kepada anak kita bisikkan doa-doa agar anak kita menjadi dokter.

Tentu saja, dari permukaan ini kedengaran begitu tulus namun akhir dari segala usaha tidak jauh-jauh adalah bentuk keuntungan pada orang tua. Segala sesuatu pencapaian pada anak akan kita tasbihkan sebagai bentuk keberhasilan kita.

Tidak beda bagi orang tua kaya atau menengah. Pada keluarga menengah, anak adalah harapan untuk keluar dari kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan. Anak dibebani cita-cita serta perwujudan perbaikan kesejahteraan. Jika pada orang kaya, anak dibebani tuntutan untuk mewarisi usaha atau perusahaan orang tua, pada keluarga miskin anak dibebani sebagai kunci untuk mengeluarkan mereka di gelimangan kemiskinan.

               

Childfree Sebagai Pelepasan Ego

Drama Penthouse bisa jadi gambaran rumit permasalahan yang tiada akhir yang kemudian berakibat pada anak-anak mereka. Akan tetapi, tanpa disadari ego seperti ini juga muncul diam-diam apda sisi kita sebagai manusia baik secara relijius atau pun duniawi. Secara relijius, kita mengharapakan anak kita memberi pahala jariyah pada kita kelak kita mati. Pada duniawi tentunya beban cita-cita untuk sejahtera secara ekonomi sebagai bentuk keberhasilan mendidik anak.

Childfree atau bebas anak adalah paham untuk secara sadar tidak ingin memiliki anak. Menikah tanpa menginginkan kehadiran anak bisa terdengar janggal tetapi ini bisa menjadi cara melepaskan ego sebagai manusia. Dengan tidak memiliki anak, tentu kita terlepas dari ego untuk menurunkan atau melestarikan jabatan kita, kita juga terlepas dari ego untuk memperkaya diri sendiri serta keluarga.

Di sisi lain yang lebih relijius, menjadi chidlfree adalah uji keikhlasan kita sesungguhnya untuk tidak terpaut pada kekayaan dunia serta tidak menyuburkan oligarki. Kita tidak perlu susah-susah rebutan warisan karena toh memang tidak ada pewaris. Roda-roda gerakan sosial bisa digerakkan. Kita bisa dengan mudah mendermakan kekayaan.

Mungkin saja drama ini juga bisa membuat kita berpikir matang sebelum punya anak. Apakah kita bisa melepas ego kita kelak pada anak? Karena setelah punya anak secara naluriah kita akan menyisipkan impian-impian dan diam-diam kepentingan kita pada jiwa anak.