Drama merupakan sebuah bentuk kesenian yang mempertunjukkan sifat dan perilaku manusia dengan percakapan dan gerakan yang dipentaskan di atas panggung. 

Drama dapat dikatakan sebagai sebuah penggambaran kehidupan yang disampaikan melalui lakon dan dialog. Drama yang sudah diketahui berasal dari bahasa Yunani yakni Draomai yang berarti berbuat, beraksi dan bertindak. Banyak yang mengatakan bahwa drama merupakan sebuah sandiwara. 

Dengan menonton sebuah pertunjukkan drama, seolah-olah penonton sedang melihat kehidupan dan kejadian yang ada di dalam masyarakat. Hal ini disebabkan karena drama merupakan potret kehidupan manusia.

Lalu, adakah hubungan antara drama dan sastra? Bagaimana sebuah drama dalam pembelajaran sastra? Berikut penjelasannya.

Menurut (Budianta dkk, 2002: 95) drama merupakan sebuah genre sastra yang secara fisik memperlihatkan secara verbal adanya dialog dan lakon antara tokoh-tokoh yang ada. Dialog atau percakapan dalam drama merupakan isi dari cerita sebuah drama. Tujuan dari adanya drama yakni untuk mempertunjukkan sebuah kisah diatas panggung, namun bisa juga hanya dibaca layaknya puisi, prosa dan novel.

Sehingga, dapat dikatakan bahwa adanya hubungan antara drama dan sastra. Di mana sebuah drama termasuk ke dalam salah satu genre sastra yang mengungkapkan kisah dan isi cerita melalui dialog dan para tokohnya. Tidak hanya itu, dalam sebuah naskah drama juga terdapat unsur sastra.

Dialog dalam sebuah naskah drama termasuk ke dalam unsur sastra karena adanya diksi atau pemilihan kata yang tepat yang digunakan oleh pencipta sebuah karya. Bahasa dalam drama juga disebut sebagai karya sastra, karena bahasanya sifat konotatif juga dimiliki. 

Pemakaian lambang, kiasan, irama, pemilihan kata yang khas dan sebagainya. Bahasa disini berprinsip sama dengan karya sastra yang lain, tetapi karena yang ditampilkan drama adalah dialog maka bahasa drama tidak seformal bahasa puisi dan lebih cair dari bahasa prosa.

Sastra bukan hanya berupa tulisan namun juga lisan. Merujuk pada sejarah kehidupan manusia, bahasa lisan merupakan awal dari kesenian yang berupa percakapan, do’a, mantra yang diucapkan di luar kepala. Hal ini jelas berkaitan erat dengan bunyi dan juga suara.

Kemudian bahasa lisan tersebut berkembang ke bahasa tulisan yang diwujudkan dengan simbol-simbol berupa gambar sampai dengan aksara seperti kaligrafi dan abjad yang maujud dan disebut seni rupa yang sebagaimana kita kenal dan gunakan.

Seiring dengan pesatnya teknologi komunikasi maka aksara atau tulisan berubah seperti simbol digital yang dapat diolah hingga berbagai ekspresi. Dapat dikatakan, masa kini telah muncul lintas batas dan juga multidimensi. Dengan demikian terjadilah proses pencairan batas yang berlangsung kolaborasi, kemudian dilakukan dalam kerja sama pekerja seni. Tentu karenanya drama yang hadir di dalamnya membentuk cerita yang kompleks.

Dalam dunia pendidikan, tentunya sudah tidak asing lagi dengan kata drama. Hal ini tentunya sudah ditetapkan dalam sebuah Rencana Pembelajaran khususnya Bahasa Indonesia. Dalam dunia perkuliahan khususnya Sastra Indonesia tentunya hal ini dapat dikaji lebih dalam lagi. Banyak sekali hal-hal yang akan dibahas dalam sebuah pembelajaran sastra mengenai drama.

Pembelajaran drama dalam sastra dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan, yakni pembelajaran teks drama yang termasuk ke dalam jenis karya sastra dan pementasan drama yang termasuk ke dalam bidang teater.

Dalam pembelajaran teks drama ini, kita akan mempelajari mengenai beberapa metode dalam menganalisis sebuah naskah drama. metode deskriptif, metode naratif, metode isi dan juga metode wacana. 

Kita akan dibimbing untuk menganalisis sebuah naskah drama dengan menggunakan berbagai macam pendekatan seperti pendekatan semiotika, psikologi, struktur drama, unsur-unsur drama, sosiologi, feminisme, realitas sosial, hegemoni dan masih banyak lagi. 

Bahkan, kita juga akan dibimbing untuk menciptakan sebuah naskah drama melalui sebuah software Stage Play khusus untuk menulis naskah drama seperti Celtx, Final Draft dan lainnya.

Tidak hanya mempelajari sebuah naskah drama saja, kita juga akan diajarkan untuk melakukan sebuah pementasan drama yang akan ditonton oleh seluruh dosen dan mahasiswa sastra Indonesia itu sendiri maupun umum. Biasanya kita akan menggunakan karya yang telah kita buat sendiri atau karya milik sastrawan terkenal.

Sehingga, dapat dikatakan bahwa dalam pembelajaran sastra sangat penting mempelajari sebuah drama, baik dari segi karya seni berupa naskah drama maupun dari segi pertunjukan berupa pementasan drama khususnya mahasiswa Sastra Indonesia. 

Hal ini dikarenakan bahwa drama merupakan salah satu kesenian yang patut kita apresiasi dan terus membantu mengembangkan sebuah drama karena ini termasuk ke dalam sebuah karya sastra.

Tidak hanya itu, dalam mempelajari kesenian drama kita juga banyak mempelajari hal-hal positif seperti meningkatkan kepercayaan diri untuk berekspresi, menjadi seorang sastrawan yang hebat dalam menciptakan sebuah naskah drama dan pementasan, serta mengetahui bagaimana proses dalam suatu pementasan drama.