Sejak buku Twilight karya Stepheni Meyer terbit, agaknya peran vampir makin banyak digandrungi orang-orang. Vampir adalah makhluk fiksi pengisap darah yang ganteng, cool, dan hidup ever after. Banyak sekali drama maupun sinetron yang mengambil vampir jadi pemeran utama mereka.

Contohnya, Orange Mermeleide webtoon Korea yang diangkat menjadi drama series dengan judul serupa. Ganteng-Ganteng Serigala yang sempat booming di Indonesia. Memang bukan vampir yang jadi titik sentral, tapi ada pemeran vampir di sana.

Vampir memang makhluk fiksi yang memikat dengan segala karakter yang diciptakan. Jika ada saudara dari vampir, mungkin itu adalah Drakula. Bukan mungkin lagi, vampir dan drakula memang makhluk yang sama.

Berbeda dengan vampir yang diyakini sebagai tokoh fiksi, Drakula yang sebenarnya bukanlah makhluk fiksi, melainkan orang yang benar-benar pernah hidup di masa lalu. Dia pernah berjalan, makan, dan berkuasa pada zamannya.

Jika kalian mengetahui tentang Al-Fatih Sang Penakluk, maka kalian harus tahu kalau Drakula ini adalah ‘teman sekelas’ dari penakluk Konstatinopel itu.

Pada tahun 1443, bersama dengan Sultan Mehmed alias Al-Fatih yang masih berusia 11/12 tahun, Drakula belajar bersama di Kerajaan Ottoman dengan dua orang anak lain, salah satunya adalah adiknya yang kemudian memutuskan untuk melayani kerajaan Ottoman.

Drakula memiliki nama asli Kazikli Voyvoda, juga dikenal sebagai Vlad ke 5 ataupun Vlad Dracul. Selain belajar, alasan kenapa dia bisa sampai berada dalam Kerajaan Ottoman adalah sebagai perlindungan, dikirim oleh Vlad Tepes sendiri.

Vlad Dracul memiliki paham hedonis dan kekejaman yang tidak ada duanya selama sejarah. Sayang, kekejamannya sering kali ditutup-tutupi oleh orang-orang ‘barat’, karena mereka menganggap bahwa Vlad Dracul sebagai ‘pahlawan’ perang Salib.

Di tahun-tahun yang sama dengan masa Al-Fatih berkuasa, Vlad Dracul yang menggantikan ayahnya melakukan perlawanan kepada Kerajaan Ottoman yang sering juga disebut sebagai ‘Kegelapan Setan’ dan penyembahan patung.

Menurut buku karya Mustafa Armagan yang berjudul Muhammad Al Fatih, Dracula senang meminum minuman keras dari tengkorak manusia.

Dracula merupakan salah satu panglima perang salib yang terkejam yang pernah ada. Jumlah korban pembunuhan (atau pembantaian) yang dilakukan Dracula mencapai 300.000 jiwa. Yang terkejam dari semua itu adalah cara pembunuhan Dracula yang sadis. Dimulai dari dibakar hidup-hidup, dipaku kepalanya, hingga (maaf) disula.

Cara yang terkejam tentu saja saat penyulaan. Sejujurnya, saya enggak sanggup untuk menceritakan bagaimana proses penyulaan itu berlangsung. Terlalu kejam, rasanya. Bahkan hanya untuk sekadar dituliskan. Karena korbannya bukan hanya laki-laki, tetapi juga perempuan, anak-anak dan bayi! Ketika membaca buku dan artikel-artikelnya di internet, saya menangis.

Drakula tidak mengenal usia dalam menerapkan kekejamannya; tua, muda, remaja, bayi. Asalkan dia beragama muslim dan berasal dari kerajaan Turki, semua dibantai habis.

Saya enggak bisa membayangkan apa yang ada dalam pikiran Drakula ketika melakukan semua aksi kekejaman itu. Bagaimana seorang manusia bisa menjadi sesombong itu di bumi yang diciptakan Allah.

Ada lagi cerita asli ketika Sultan Mehmed alias Al Fatih Sang Penakhluk, yang notabene pernah menjadi ‘teman sekelas’ (mereka belajar dengan guru yang sama) mengirim pasukan untuk menangkap Dracula, hidup maupun mati, karena tidak tahan dengan segala macam kekejaman yang dilakukan Vlad Dracul itu.

Dan yang menjadi pemimpin pasukan kala itu adalah adik kandung Drakula yang di paragraf awal memutuskan untuk mengabdi pada Kerajaan Ottoman. Untuk menyambut pasukan ini, Drakula membuat Hutan Mayat yang Tersula!

Sebenarnya saya ingin sekali mengeluarkan makian-makian ketika mengetikkan ini, tapi saya sadar itu melanggar kode etik, jadi saya simpan makian itu.

Drakula mengumpulkan umat islam yang tersisa sebanyak 20.000 orang yang terdiri dari tawanan pasukan Turki, para petani, dan rakyat lainnya. Ke 20.000 orang itu digiring telanjang bulat sampai ke tepi sungai Danube dan disula secara masal. Setelah semuanya tersula, mayat-mayat itu dipancang di sepanjang tepian sungai untuk menyambut tentara Turki.

Pasukan Turki berhasil memenangkan pertempuran. Istri Drakula mati bunuh diri sedangkan Drakula sendiri melarikan diri dari lorong rahasia. Pada perang salib tahun 1475, Dracula berhasil merebut kembali wilayah Wallachia sebelum akhirnya tewas dalam pertempuran melawan pasukan Turki di bawah pimpinan Al Fatih Sang Penakhluk pada Desember 1476. Hanya selang setahun dari kemenangannya dulu.

Sayangnya, sejarah kelam yang membuktikan kekejaman Drakula, yang meninggalkan bukti sejarah baik secara lisan maupun tulisan ini, tertutupi dengan baik oleh pihak-pihak yang memanipulasi cerita.

Dalam proses penutupan cerita ini, mereka membuat sosok Dracula ini seolah-olah dia ‘hanyalah’ tokoh fiksi dan bukannya tokoh nyata. Tujuan penutupan kisah sebenarnya dari Dracula agar orang-orang tidak lagi mengetahui cerita asli tokoh itu. Alih-alih mengutuk, orang-orang akan memuja-muja Dracula.

Dan itu terbukti sekarang. begitu banyaknya orang yang ‘senang’ dengan tokoh Drakula mau pun Vampir (Vampir juga merupakan tokoh fiksi yang diciptakan untuk manipulasi Drakula. Diketahui bahwa Vampir dan Drakula memiliki ‘ciri’ yang sama).

Banyak orang yang enggak tahu bagaimana sifat asli dan kekejaman yang dilakukan drakula.

Apakah kamu termasuk yang tidak mengetahuinya?