Banyak orang yang suka drakor (drama Korea), bahkan sampai ada yang lupa memberi makan anaknya karena sudah kecanduan akut dengan serial-serial Korea yang belakangan ini sangat merajalela. Terlebih lagi dengan akses yang begitu mudah, “Pecandu” drakor dapat dengan gampang memenuhi hasrat menonton drakor favorit mereka.

Namun, tidak dengan drakor yang satu ini, drama Korona. Tidak terasa sudah lebih dari satu tahun kita hidup di dalam bayang-bayang ketakutan akan virus Korona yang tak satu orang pun sampai saat in berhasil memprediksi kapan  wabah ini akan berakhir.

Banyak orang-orang pintar yang berusaha memprediksi akhir dari wabah ini namun ramalan-ramalan mereka meleset semua. Bahkan ketika saya mengetik tulisan ini, virus Korona sedang gila-gilanya berkeliaran.

Saya masih ingat ketika Korona berhasil menjebol dan masuk ke Indonesia dengan adanya Patient Zero yang tinggal di bilangan Depok, Jawa Barat. Saya bingung, tidak percaya, rasanya seperti bermimpi. Setelah itu, hampir semua media yang saya baca, lihat, dan dengar saat itu memperlihatkan warga yang ketakutan.

Mereka menyerbu toko-toko ritel dan melakukan panic buying, memborong makanan, minuman, dan benda-benda yang menurut mereka esensial untuk bertahan hidup.  Pemandangan seperti itu hanya pernah saya lihat di suatu serial di saluran National Geographic berjudul Doomsday Preppers.

Tahun lalu saya masih kos di Pulau Bintan, Kota Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau. Saya bekerja di sebuah pulau privat yang terpaksa harus ditutup karena tidak ada tamu sampai sekarang. Walaupun saat itu Kepri masih zona hijau, rasa parno dan takut tetap menghantui hari-hari warga Tanjung Pinang, termasuk saya yang hanya berdiam diri di kamar, keluar kamar jika memang ada keperluan saja (mencari makan).

Kota yang sudah sepi itu menjadi lebih sunyi di minggu-minggu pertama. Warung –warung kopi yang biasanya menjadi tempat nongkrong favorit ditutup semua. Bubur ayam langganan saya yang lokasinya hanya 2 menit jalan kaki dari kos-kosan pun tutup selama beberapa hari walaupun akhirnya buka kembali dan kami hanya boleh membeli untuk dibungkus.

Kawan-kawan yang bekerja di industri pariwisata banyak yang berteriak. Banyak di antara mereka yang dirumahkan, gaji dipotong lebih dari 70 persen, diberhentikan secara sepihak karena perusahaan tidak mampu lagi membayar karyawannya walaupun ada juga yang di-PHK dan dapat pesangon, sedikit beruntung.

Saya masuk di golongan yang mendapat potongan gaji pokok sebesar 70 persen. Ya Alhamdulillah karena saya masih ada pemasukan walaupun nilainya jauh lebih sedikit sehingga banyak perubahan gaya hidup yang mau tak mau harus diubah, seperti pindah ke tempat tinggal yang lebih murah, ganti bensin dari Pertalite menjadi Premium, dan menghitung pengeluaran dengan super ketat.

Puncak kepahitan adalah tidak bisa mudik lebaran. Terasa begitu aneh dan kosong ketika mendengar kumandang takbir dari kamar kos saya yang kecil itu. Saya yang tidak pernah punya masalah ketika harus menghabiskan waktu sendiri, pada saat itu merasa sangat kesepian.

Akses ke internet semakin mengamplifikasi kerinduan dan kesedihan saya. Panggilan video sedikit membantu namun tidak dapat menghilangkan rasa rindu keluarga yang teramat sangat itu.

***

Perusahaan tempat saya bekerja pun saat itu menetapkan kebijakan yang mereka klaim membantu upaya pemerintah dalam menegakkan prokes. Karyawan diwajibkan menginap di pulau selama 14 hari, Manajemen memutuskan kapal hanya akan datang sebanyak 3 kali, mengantar masuk pulau, mengantar logistik di hari ke 7, dan menjemput di hari ke 14. Selain itu kapal tidak akan bersandar ke pulau kecuali keadaan darurat.

Kawan-kawan penduduk tempatan merasa tidak mampu meninggalkan keluarga mereka selama itu. Cerita saya yang sudah berpisah untuk bekerja dengan keluarga lebih lama dari mereka pun tidak dapat meredam kegundahan itu. Pada harinya, Kami berangkat menuju di karantina di pulau selama setengah bulan. Melihat wajah mereka, saya menjadi ikutan pesimis.

Harus gerak cepat! Saya nyolong start pada briefing perdana yang diadakan saat kita menginjakkan kaki di pulau. Berbagai macam pelatihan saya ajukan ke para manajer yang hadir pada briefing tersebut. Palu sudah diketok, semua setuju. Namun, saya kok masih belum yakin jika rencana ini akan berjalan lancar.

Setelah menjalaninya beberapa hari, ternyata menghabiskan waktu di pulau tidak seburuk yang saya asumsikan. kegiatan yang sudah saya rancang sedemikian rupa dihadiri dengan antusiasme yang, yah, bisa dibilang cukup tinggi Walaupun ada saja orang-orang yang menggerutu.

Namun, hal tersebut adalah kendala minor yang masih bisa ditoleransi, yang penting laporan dan target pekerjaan kelar semua.

***

Ternyata saya sudah suudzon dengan masa depan. Semua yang saya khawatirkan xebelum masuk pulau, satu pun tidak ada yang terjadi. Malah sebaliknya, semua rencana saya berjalan dengan baik.

Para manajer sangat kooperatif dan antusias. Mereka malah memberikan pelatihan-pelatihan impromptu seperti membuat pizza, menyulap kayu bekas menjadi handycraft, berkebun sampai dengan belajar basic scuba diving yang harganya sangat fantastis jika kita jual produk jasa ini ke tamu. Kami mendapatkan semua pengetahuan itu secara gratis.

 

Tidak hanya itu, setiap hari kami memakan ikan-ikan segar hasil tembakan seorang kawan, Awan, seorang staff di departemen rekreasi, badannya kurus, kecil. Namun, Awan adalah pemburu ikan nomor satu di pulau itu. Dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di dalam laut untuk berburu ikan.

Pada malam hari, jagoan-jagoan masak mengeksekusi hasil perburuan Awan menjadi barbeque ala resort bintang lima. Makanan yang  biasanya cuma kami antar ke meja-meja tamu, sekarang dapat kami nikmati bersama di samping api unggun besar yang apinya menjilat-jilat ke langit, di pinggir laut yang pantainya berwarna putih dan bertekstur seperti bedak bayi dan di bawah langit malam yang cerah dengan bintang-bintang terang yang terlihat begitu banyak dan dekat seakan-akan dapat kita petik.

Muka-muka yang lecek itu tidak lagi terlihat. Semua terlihat bahagia. Bahkan Larajimu, seorang kawan yang sudah tersohor medit dalam menebar senyum, pun ikut bisa tertawa lepas.

Wabah memang membuat kita susah, usaha yang hancur, karyawan yang di-PHK, dan masih banyak lagi cerita-cerita yang dapat membuat hati hancur lebur, belum lagi drama-drama yang sudah menjadi jatah kami sendiri.

Namun, kebahagiaan kolektif yang dihibahkan oleh sang Maha membuat kami sejenak melupakan semua kesusahan dan kesedihan di sebrang laut sana.  Sepertinya, selama setengah bulan karantina di pulau, kami hidup di dimensi yang berbeda.