2 tahun lalu · 176 view · 3 min baca · Budaya 12928312_1592959724356154_4772526465552303546_n.jpg
Foto: facebook.com

Dr. Abdurrahman Fahmi, Dosen Muda dengan Etos Intelektual Tinggi

Suatu hari, dalam salah satu pertemuan di kelas kami, ada salah seorang kawan asal Mesir bertanya kepada dosen muda yang satu ini: "Pak, kalau boleh tahu dulu ketika menjadi mahasiswa bapak membaca buku berapa jam dalam sehari."? Tanyanya di sela-sela presentasi. 

Sang dosen pun menjawab sambil menyemangati: "Wah, dulu waktu seperti kalian ini saya bisa membaca selama 13 jam dalam sehari! Terutama ketika hari-hari cuti…Bahkan saya bisa duduk dari malam sampai pagi ketika ada persoalan yang harus diteliti…Saya juga pernah salat isya dan subuh di tempat yang sama tanpa beranjak kaki…!". 

Luar biasa orang ini. Menyimak jawaban tersebut saya hanya bergumam dalam hati: "Pantesan saja orang ini wawasannya luas sekali. Ternyata membacanya saja 13 jam dalam sehari. Gile kali!

Salah satu nasihatnya yang lain yang masih saya ingat hingga saat ini ialah nasihat berikut ini: "Anak-anakku. Bacalah dan bacalah! Karena orang yang tak mau membaca akan mati!" (iqra'û ya auladî, fa inna man la yaqra yamût). 

Sungguh, etos intelektual dosen yang satu ini luar biasa sekali. Semangat membacanya sangat tinggi, kalau masuk ke kelas pun selalu datang membawa energi. 

Dia bisa mengajar dua jam penuh di kelas kami tanpa mendaratkan pinggang di atas kursi. Cara mengajarnya sambil berdiri. Kalaupun duduk, paling duduk beberapa saat dan setelah itu berdiri lagi. 

Setiap ada pertanyaan dari kami, pasti ia jawab lengkap dengan dalil dari kitab suci. Apalagi kalau yang ditanyakan tertaut erat dengan doktrin keagamaan Wahabi. 

Nah, inilah salah satu sisi menarik lain yang membuat saya suka dengan dosen ini; dia sangat anti sekali kepada ajaran Wahabi: "Saya berbeda dengan ulama-ulama Wahabi tanpa terkecuali!" (ana akhtalif ma'a al-Wahhabiyyah biduni ististnai). Ujarnya suatu hari di kelas kami. 

Jika ada mahasiswa yang berhaluan Wahabi dan berkomentar di sela-sela dia presentasi, pastilah kewahabian mahasiswa tersebut dipenggal dan tak berkutik sama sekali.

Dia mengampu materi Filsafat Skolastik di kelas kami. Tapi, meskipun materi utama yang dibahas adalah seputar Filsafat—sebagai bidang ilmu yang kami tekuni—di sela-sela presentasi dia tak absen untuk menyinggung ajaran kelompok Wahabi, dan kelompok sejenisnya yang menghitam-buramkan nalar umat Islam masa kini.

Suatu hari saya coba menjumpainya sambil cari perhatian dan basa-basi. Ya mau gimana lagi. Kalau mau dekat degan dosen caranya ya harus seperti ini. 

Saya berkata kepadanya sambil menunjukan ekspresi orang yang sedang memiliki gairah belajar yang tinggi: "Pak, aduh, bapak ini hebat sekali. Pengen saya baca buku-buku bapak sekali-kali. Adakah buku-buku bapak yang bisa saya beli?" 

Orang yang baik hati ini pun menjawab: "Oh gitu, ya sudah besok saya bawa sendiri. Nah, tapi, takutnya saya lupa tak ingat diri, tolong diingatkan lagi esok hari."

Saya hanya menimpal dengan rasa senang hati: "Serius nih pak, aduh, terima kasih sekali! Oke pak, besok saya ingatkan lagi!"

Keesokan harinya saya lupa mengingatkan dia lagi. Saya datang telat. Dan dia sudah menyampaikan materi di kelas kami. Akhirnya saya pulang dengan kecewa hati. Tapi, untungnya, di kemudian hari beliau tak lupa untuk memenuhi janji. 

Dia menghadiahkan saya sebuah buku yang merupakan kumpulan penelitian dari bidang yang dia tekuni. Yang mengesankan lagi, di bagian awal halaman buku itu tertuang pesan yang ia tulis dengan tangan sendiri: 

"Kepada saudaraku, Muhammad Nuruddin, Aku hadiahkan buku ini. Saudaramu, Abdurrahman Fahmi."

Subhanallah. Meskipun berwawasan tinggi, orang ini tetap saja rendah hati. Dia memanggil saya akhî, bukan waladî apalagi thâlibî. Suatu panggilan yang tak pernah saya dapatkan dari dosen manapun kecuali dosen yang satu ini. Luar biasa sekali kerendah-hatian orang ini. 

Di dunia maya pun dia aktif persis seperti kaum muda-mudi; update status di facebook dan tak jarang sambil ketawa-ketiwi. Di al-Azhar, rasanya dosen seperti ini jarang sekali. 

Terima kasih, pak Fahmi, aku menulis ini sebagai simbol rasa terima kasihku kepadamu atas buku yang telah kau hadiahkan kepadaku tempo hari.

Meskipun sampai sekarang buku tersebut belum sempat aku telaah lagi, tapi semoga kelak buku itu bisa aku gunakan untuk memenggal dan membumi-hanguskan ajaran Wahabi! 

Semoga kelak kau tumbuh sebagai salah satu raksasa intelektual Muslim di bumi para Nabi, dan semoga di hari nanti kau berjumpa dengan Yang MahaSuci dalam keadaan rida dan diridai.

(Kairo, Nasr-City, o2 Oktober 2016)

Artikel Terkait