The test of a first-rate intelligence is the ability to hold two opposed ideas in mind at the same time and still retain the ability to function. — F.Scott Fitzgerald

Pada tahun 1949, kurang lebih 4 tahun setelah selesainya perang dunia ke 2, George Orwell menuliskan sebuah karya yang cukup menggemparkan. Karya ini juga menjadi sebuah inspirasi bagi iklan Apple di tahun yang sama dengan judul yang sama dari judul karya penulis ini. Judul dari buku ini adalah 1984.

Buku ini bercerita mengenai perjalanan seorang tokoh utama, Winston Smith, yang tinggal dalam negara 'Oceania' sebagai salah satu dari tiga negara tersisa dalam dunia 'Orwellian'.

Negara lainnya yang berada dalam dunia ini adalah Eurasia dan Eastasia. Kondisi ketiga negara ini selalu berada dalam keadaan berperang, bukan karena mereka berada dalam kondisi kekurangan sumber daya, akan tetapi demi menjaga status quo.

Perjalanan yang dialami Winston Smith adalah proses mengubah pemikirannya yang rasional dan memiliki ingatan akan sejarah, untuk kemudian melalui berbagai macam proses, sehingga ia memiliki pemikiran yang seragam dengan masyarakat yang ada pada saat itu.

Pemikiran yang dimiliki sebagai standar masyarakat saat itu adalah doublethink, yang dapat diartikan sebagai proses berpikir yang memiliki 2 buah kepercayaan yang bertolak belakang dan diterima dalam pikiran manusia tersebut.

Apakah contoh doublethink yang dipaparkan dalam buku tersebut?

Contohnya ada pada keunikan penamaan kementerian di sana, seperti Ministry of Peace (Kementerian Perdamaian) yang mengurus mengenai peperangan (yang selalu berkecamuk di antara 3 negara itu), Ministry of Plenty (Kementerian Berkelimpahan) yang menangani masalah kekurangan sumber daya, juga Ministry of Truth (Kementerian Kebenaran), yang mengurusi masalah propaganda kepada masyarakat dan pengubahan sejarah yang terjadi di negara tersebut.

Lalu, apakah hal tersebut juga ada di dalam kehidupan nyata saat ini?

Salah satu contoh nyata yang terlihat, ada di Amerika, sebagai negara yang sangat menjunjung tinggi kebebasan. Pada website resmi negara bagian Idaho, kita dapat melihat program Self - Reliance Program yang dimiliki oleh bagian Health and Welfare Negara Bagian Idaho, sebagai bentuk bantuan pemerintah kepada warga untuk bantuan publik.

Adapun bentuk bantuannya berupa bantuan uang tunai, makanan, perawatan anak (child care), bantuan kesehatan, bantuan untuk memiliki anak, lansia, dan beberapa bentuk bantuan lainnya. Hal ini menjadi menarik, karena Self - Reliance sendiri memiliki arti kemandirian, dan pada kenyataannya mereka yang mengikuti program ini adalah mereka yang butuh bergantung kepada negara bagian tersebut.

Tindakan doublethink ini juga nyata ketika melihat ke dalam negeri, dari kehidupan pribadi, ketika kita berada di ruang kelas maupun kehidupan kita bermasyarakat, dan utamanya ketika kita lihat kehidupan berpolitik kita. Apa saja bentuk doublethink yang dapat kita lihat sejauh ini?

Apa yang diamati oleh Winston Smith terhadap lingkungan di sekitarnya, mungkin juga dapat kita lihat, atau mungkin kita bahkan merupakan bagian dari pelaku doublethink tersebut. Hal itu terjadi, utamanya karena sebenarnya kita memiliki pemahaman yang kurang atau bahkan karena pandangan bias yang kita miliki terhadap suatu subjek tertentu.  

Contoh nyatanya adalah ketika kita diberikan sajian berita dari 2 buah stasiun TV yang dianggap condong ke salah satu pasangan presiden pada waktu gelaran pemilu kemarin, yaitu Metro TV yang condong kepada pasangan 01, dan TVOne yang condong kepada pasangan 02. 

Hal yang menarik adalah, bagi banyak pendukung (bukan seluruh) pasangan masing-masing capres, salah satu stasiun TV tersebut sifatnya tidak netral dan cenderung mendukung pasangan lawannya dalam pemberitaan, sementara stasiun TV lainnya bersifat netral. 

Jadi, bagi pendukung pasangan 01, Metro TV melakukan pemberitaan yang bersifat netral, sementara TVOne memberitakan hal yang cenderung mendukung pasangan lawannya. 

Bentuk doublethink di sini adalah bagaimana para pendukung kedua capres menganggap salah satu stasiun TV tersebut bersifat netral, sementara pada kenyataannya, kedua stasiun TV, yang seharusnya melakukan pemberitaan yang bersifat netral, pada hakikatnya melakukan pemberitaan yang bernada positif kepada masing-masing pasangan calon presiden, sesuai dengan teguran yang disampaikan KPI.

Selain pandangan yang bias, doublethink juga dapat dimanfaatkan secara positif dalam menaikkan kualitas individu, utamanya dalam berkompetisi.

Contoh doublethink dapat dilihat ketika seorang peserta berlatih untuk bertanding dalam sebuah kompetisi. Pada saat latihan, peserta harus menanamkan sebuah pemikiran bahwa kompetisi yang dihadapi peserta adalah sebuah momen paling penting dalam hidupnya, sehingga latihan harus dijalankan dengan tujuan memberikan hasil yang terbaik dalam menghadapi kompetisi tersebut serta memberikan tekanan yang dibutuhkan agar latihan berjalan maksimal.

Apa bentuk doublethink-nya? Doublethink di sini terjadi ketika sudah waktunya berkompetisi, pada saat peserta tersebut bertanding. Pola pikir yang dipegang peserta ini adalah bahwa kompetisi tersebut bukan sebuah hal yang penting, dan peserta melepaskan beban dan tekanan yang dibebankan sendiri dalam pikirannya tersebut, sehingga ia bisa dengan bertanding tanpa tekanan apa pun. 

Ini dituliskan dalam buku Bounce karangan Matthew Syed, yang menjadi sebuah rahasia kesuksesan dari atlit dan orang-orang terbaik dalam berkompetisi.

Doublethink merupakan sebuah pola pikir, yang bila digunakan dengan tepat, dapat menciptakan sebuah individu yang unggul dalam kehidupan. Doublethink menjadi sebuah masalah, ketika ia digunakan dalam menilai sesuatu secara subjektif dan menjadi pembenaran kita dalam bertindak. Utamanya ketika menilai sesuatu dalam ranah yang tidak sesuai, yang berhubungan dengan relasi sosial kita. 

Doublethink dalam ranah hubungan sosial, dan lebih berbahaya daripada disonansi kognitif, karena 'penderita' doublethink tidak menyadari bahwa ada dua buah pandangan bertentangan yang dimilikinya. Doublethink ketika 'dianut' oleh masyarakat secara luas, dapat menimbulkan pertentangan sosial yang tajam, juga dapat menimbulkan pertikaian antarmasyarakat.

Polarisasi dalam pandangan berpolitik, yang dimanfaatkan dengan baik oleh elite politik kita, membuat pola doublethink ini makin tajam, dan tanpa sadar sudah menjangkiti kita secara luas.

Selamat datang di era Orwellian. Semoga kita tetap waras dan adil dalam berpikir!