Mungkin judul tulisan ini adalah kalimat yang sesuai dengan tuntutan profesi dosen kekinian dan kebutuhan peserta didik di Indonesia. Tentunya apa yang saya tuliskan di sini berdasarkan pengalaman saya dan pengamatan dari pengalaman sahabat-sahabat saya yang juga dosen, mulai dari dosen junior hingga dosen senior. 

Pengamatan juga saya lakukan mulai dari ruang kelas perkuliahan sampai di luar lingkungan kampus, baik yang ramai mahasiswa hingga yang sepi mahasiswa. Tidak semuanya mungkin harus sama atau ideal adanya yang saya tuliskan, namun semoga garis besarnya bisa memberikan gambaran yang cukup.

Tak dimungkiri jika profesi dosen masih sangat identik dengan profesi guru, identik dengan kemampuan untuk mengajar dan menyampaikan materi di depan kelas. Umumnya, mereka ingin menjadi dosen karena ingin mengajar. Hanya saja muridnya bukan anak sekolahan, tapi orang-orang dewasa. 

Selama mereka bisa menyalurkan keinginan tersebut, maka mengajar menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Melihat mahasiswanya sukses setelah diwisuda adalah kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Namun hakikatnya dosen bukanlah sekadar profesi yang dijalankan hanya mengajar. Lebih dari itu, untuk menekuni profesi dosen, seseorang dituntut untuk bisa mendidik dan memberikan komitmen dan dedikasi penuh pada bidang ilmu yang dikuasainya. 

Kedua hal tersebut akan menghasilkan buah yang manis dalam bentuk ilmu yang bermanfaat serta menggerakkan inspirasi orang-orang di sekitarnya. Hal inilah yang perlu ditanamkan pada para dosen dalam menekuni profesi pendidik ini. 

Pengabdian untuk mencerdaskan anak bangsa, menurut saya, adalah faktor terbesar mengapa seseorang ingin menjadi dosen. Pengabdian adalah ladang amal. Ya, itulah tujuan utama yang mereka cari.

“Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1017)

“Apabila anak Adam meninggal, maka terputus darinya semua amalan kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 4310)

Pemahaman ini sangat penting dimiliki agar dosen tidak terjebak pada rutinitas pengajaran semata. Di samping itu, pentingnya konseptualisasi ide menjadi hal yang nyata. Dosen dituntut tidak hanya pandai melontarkan ide, namun harus bertanggung jawab atas ide yang ia lontarkan. Minimal mewujudkan ide ke dalam tulisan sehingga bisa dikritisi oleh berbagai kalangan. Kemudian ada langkah nyata untuk mewujudkan ide itu.

Secara umum, saya mempelajari bahwa untuk mengajar dan menginspirasi mahasiswa perlu dilakukan transisi paradigma mengajar yang menekankan di mana ilmu pengetahuan itu diberikan kepada mahasiswa dengan cara membangun (constructed) pengetahuan itu secara aktif. 

Dosen di sini lebih berperan sebagai pelatih (coach) atau fasilitator, dan kultur yang dibangun dalam belajar membelajar ini adalah kultur kolaboratif dan suportif. Imbasnya, yang menjadi pembelajar bukan hanya mahasiswa, tapi juga dosen. Keduanya sama-sama terus belajar dan berkembang, dan merupakan partner dalam membangun pengetahuan bersama.

Bentuk pendidikan yang hanya mengandalkan pengajar sebagai sumber ilmu serta sekadar mengajarkan ilmu adalah sebuah praktik pendidikan yang kurang tepat di era kekinian. Tapi justru harus memberikan arahan tepat untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat bagi banyak orang, terutama terhadap peserta didik. Bukan materi yang dipaksakan masuk, namun pemahaman terhadap materi inilah yang harus menjadi sistem belajar peserta didik.

Saya sering mendengar mahasiswa yang curhat tentang preferensi mereka, bagaimana pendapat mereka tentang dosen yang ideal. Sebagai contoh, ada mahasiswa yang menceritakan bahwa seorang dosen yang baik dan menginspirasi adalah dosen yang mau mendengarkan mahasiswanya dalam mengekspresikan ide-gagasan, opini tanpa harus takut dicap salah.

Mendemonstrasikan saja, tidak cukup namun juga menginspirasi peserta didik agar menjalani kehidupan pembelajaran yang seharusnya. Praktik pembelajaran inilah justru di kuliah diajarkan dimana kita belajar tentang masyarakat-hidup- dan ilmu pengetahuan yang harus bermanfaat untuk masyarakat.

Karena tujuan akhir ilmu pengetahuan bukan hanya untuk kebutuhan dunia kerja dan industri. Namun juga memberikan pemikiran untuk kontribusi positif terhadap kehidupan masyarakat hari ini.

Pendapat lainnya, ada mahasiswa saya yang bercerita bahwa mereka enjoy dengan dosen yang mampu meyakinkan mahasiswa bahwa apa yang mereka pelajari adalah hal penting. Sehingga, mereka terus dapat termotivasi untuk belajar dengan lebih banyak lagi. 

Mereka lebih tertarik dengan proses belajar dengan topik belajar yang relevan dengan kehidupan nyata dan juga mereka dilibatkan secara aktif dalam memahami konsep – konsep yang diberikan.

Bukan hal yang mudah untuk dapat memotivasi mahasiswa giat belajar, butuh kesabaran, perjuangan serta usaha. Salah satu cara yang saya terapkan dalam mengajar ialah memberikan kebebasan sekaligus tanggung jawab yang besar kepada mahasiswa secara mandiri. 

Saya banyak memberikan tugas-tugas untuk membantu mereka berpikir kritis untuk mengonstruksi pengetahuan dan mengurangi ceramah. Untuk absen, mengerjakan tugas, dan ujian saya tidak masukkan ke dalam nilai akhir mahasiswa. Nilai akhir mahasiswa hanya berasal dari tugas akhir berupa kegiatan projek riset yang disusun dalam bentuk makalah yang dikumpulkan di akhir semester.

Saya ingin mahasiswa yang masuk ke kelas memang mahasiswa yang ingin memperoleh ilmu, bukan hanya sekedar absen. Saya ingin mahasiswa mengerjakan tugas untuk menempa dirinya, bukan hanya untuk sekedar mendapatkan nilai. Dan ini yang membuat mereka terinspirasi untuk lebih aktif mengikuti perkuliahan dan aktif belajar tentunya. 

Untuk ujian, saya hanya ingin mengetahui di bagian mana mahasiswanya tidak mengerti atau tidak bisa mengerjakan soal, karena dengan begitu, saya bisa tahu di bagian mana saya tidak mengajar dengan cukup baik.

Saya tidak lupa senantiasa memberikan arahan untuk semangat belajar di awal pertemuan sebelum perkuliahan dimulai dan di akhir sebelum perkuliahan ditutup. Pembelajaran yang saya terapkan dalam mengajar di kelas yaitu mengajak mahasiswa untuk belajar yang menyenangkan ‘learning is fun’. Rasa senang yang tercipta dalam suasana belajar memudahkan mahasiswa menerima materi pelajaran. Makin menyenangkan makin banyak informasi yang diperoleh.

Rasa senang dalam belajar adalah masalah suasana hati yang harus saya ciptakan. Saya senantiasa memulai kegiatan belajar mengajar yang bisa membuat suasana hati gembira muncul. Hal yang saya lakukan adalah memberikan sambutan dengan bahasa penyemangat di setiap awal pertemuan dan di akhir pertemuan perkuliahan dengan berbagai narasi dan cerita nyata yang menarik.

Setiap materi kuliah, diawali dengan menyuguhkan gambar, video bahkan music – lagu dengan setting yang berganti-ganti temanya menyesuaikan materi perkuliahan. Bahkan kegiatan apersepsi dan selingan berupa diskusi kelompok, kuis dan sebagainya. 

Cara ini cukup memberikan dampak perubahan, mahasiswa lebih semangat mengikuti kelas perkuliahan. Mahasiswa makin terinspirasi untuk selalu mengeksplorasi banyak hal. Seringkali justru saya banyak belajar dari mahasiswa, karena mereka pro aktif memberikan banyak sekali gagasan – gagasan bagaimana menerapkan konsep teori yang ada di kehidupan saat ini.

Multimedia Komunikasi adalah mata kuliah yang saya ajarkan, tidak melulu membahas hal-hal teknis, namun banyak hal lain yang saya berikan untuk mahasiswa seperti bagaimana menulis yang baik, teknik presentasi, Digitalpreneurship, cyber multimedia, dan masih banyak hal lainnya. 

Materi kuliah yang teknis saya kemas dan ceritakan dengan sangat baik dan menarik. Saya berusaha bisa menginspirasi mahasiswa untuk terus mengeksplor dan belajar banyak hal. Dari pengalaman yang saya dapatkan sewaktu kuliah dahulu maupun di kehidupan nyata yang terjadi sekarang ini.

Memperagakan konsep sambil memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempelajarinya langkah demi langkah, dan mendorong mereka untuk melakukan hal yang sama. Mengkaitkan kegiatan belajar dengan dunia nyata, mengkaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki mahasiswa. Mengaitkan dengan kehidupan nyata yang dihadapi mahasiswa sehari-hari. 

Membangun kegiatan belajar atas dasar partisipasi mahasiswa untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah. Serta, membangun kesadaran perilaku positif atas dasar keperluan bersama. Pembelajaran intinya mendewasakan peserta didik sesuai potensi dan kebutuhannya.

Mengatur durasi kegiatan belajar, terdiri dari 30 persen untuk menyampaikan materi dan 70 persen untuk kegiatan mahasiswa belajar. Pengaturan durasi kegiatan penyampaian materi kuliah meliputi rangkaian kegiatan yang utuh untuk seluruh pembelajaran. Sehingga fungsi tersebut lebih banyak saya gunakan sebagai fasilitator daripada sebagai narasumber.

Juga melakukan variasi kegiatan belajar agar mahasiswa bisa menyerap informasi pengetahuan yang disampaikan dengan memadukan aspek membaca, mendengar, melihat, mengatakan, mengerjakan. Penyajian materi perkuliahan sedapat mungkin mewakili modalitas mahasiswa dalam belajar yaitu visual, auditori dan kinestetik. 

Belajar dengan cara mengamati, belajar dengan cara mendengar, dan belajar dengan cara praktek langsung. Memberikan bimbingan pararel dengan duduk di sebelah mereka, bukan di depan atau di belakang mereka. Mengajak mereka berbicara berdikusi sekalipun di luar kelas perkuliahan.

Saya senantiasa memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan mahasiswa secara aktif dalam proses belajar mengajar baik secara mental, fisik maupun sosial. Mengajar dan menginspirasi mereka bukan hanya mendengar apa yang saya sedang bicarakan, tapi memberikan mereka ruang untuk juga bisa berperan, menghayati, melakukan hal spesesifik dalam pelajaran. Memberikan peran yang sesungguhnya dalam pembelajaran itu.

Menurut saya, kunci untuk mendapatkan keilmuan yang menginspirasi adalah membuat kolaborasi agar tercipta keharmonisan dalam hasil karya yang akan dibuat. Sistem-sistem pembelajaran yang dibuat, haruslah berdasarkan pada kolaborasi-kolaborasi realitas masyarakat hari ini.

Begitupun dosen juga harus melakukan kolaborasi yang dapat memberikan dampak positif kepada mahasiswanya. Setidaknya itu usaha pertanggungjawaban dari ilmu yang kita dapatkan. Menjadi dosen yang terus menginspirasi dengan membuat dan memberikan hal terbaik untuk peserta didik dengan banyak cara, banyak jalan untuk memahami permasalahan-permasalahan di masyarakat.

Kolaborasi akan menciptakan sesuatu yang mampu menginspirasi mahasiswa dan orang lain untuk membuat sesuatu karya. Produksi karya yang mampu menjadi inspirasi, dan akan menciptakan inspirasi-inspirasi baru dalam pengetahuan. Setidaknya kita mencoba untuk menjadikan mahasiswa bagian dari masyarakat dan menjadikan diri mereka bermanfaat untuk sesama.  

Jadi, Untuk menjadi dosen yang menginspirasi dalam praktiknya tentu bukan hal yang mudah. Tetapi itulah tantangan nyata dunia pendidikan kita saat ini, yang suka atau tidak suka kita harus sanggup melakukan dan menghadapinya. Kita tidak menginginkan generasi kita kelak menjadi orang-orang yang tidak berdaya, habis tergilas oleh zamannya. Intinya Inspirasi itu dimulai dari diri kita sendiri. Menginspirasi diri dan orang lain, dan dimulai dari sekarang.