Pendidikan merupakan cara agar manusia mempunyai ilmu pengetahuan dari sebuah lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan pun harus memfasilitasi peserta didik hingga benar-benar mantap sebagai pribadi yang berpengetahuan serta terididik dengan baik.

Bicara mengenai Pendidikan, otomatis kita akan bicara tentang proses belajar mengajar.

Problematika dalam pendidikan sekarang bukan hanya pada minat peserta didik (siswa) atau Mahasiswa, hal yang perlu diperhatikan juga adalah siapa pengajar atau dosen yang memberikan pelajaran dan materi perkuliahan.

Masalah pada dunia pendidikan agar tidak hanya menjadi bahan diskusi saja, tentu di dalam pendidikan harus dijauhkan dari sekelumit fanatisme dan kepentingan yang selalu menjadi problem utama.

Kemungkinan terjadinya kemerosotan pengetahuan dan roda perputaran transfer ilmu yang kacau balau juga disebabkan oleh masalah kecil tentang sistem transfer ilmu itu sendiri. Karena transfer ilmu pengetahuan tentu harus mengedepankan mutu terlebih dahulu, bukan karena wajib ada.

Jika karena hanya wajib ada tentu persoalan kemerosotan pengetahuan itu malah akan semakin meningkat karena mutu telah dikesampingkan dari tujuan pendidikan untuk mencerdaskan bangsa. 

Persoalan yang sangat mengkhawatirkan dalam proses transfer ilmu adalah tentang siapa yang memberi atau mentransfer ilmu dan siapa penerimanya.

Banyak hal terjadi dewasa ini yang membuat saya heran mengapa bisa dunia pendidikan, proses transfer ilmu khususnya, mengalami kebobrokan sistem.

Entah karena kurang peduli atau memang susah mencari atau tidak mampu membayar orang yang tepat untuk menjadi Guru (Dosen pengajar) pada sebuah Fakultas di perguruan tinggi swasta yang saya ketahui belakangan ini.

Entah apa sebenarnya latar belakang semuanya. Apakah karena kedekatan dengan atasan atau memang perintah atasan sehingga pegawai (dosen pengajar) tidak berkutik hingga menjalankan sesuatu yang kurang tepat. Seperti mengajar materi kuliah yang kurang tepat dengan program pasca sarjana yang ia ambil.

Misalnya jika dosen pengajar itu program pascasarjana yang diambil atau yang telah ditempuh adalah di bidang Pendidikan, apa pun jenisnya, kemudian diharuskan mengajar Filsafat di perguruan tinggi tempatnya bekerja.

Jika demikian, tentuj mutu pengetahuan penerima ilmu pengetahuan (mahasiswa) telah dikesampingkan, atau bahkan tidak diperdulikan lagi.

Seandainya dosen pengajar seperti itu memang cerdas luar biasa, tentu orang cerdas mungkin akan membuat forum diskusi untuk berbagi ilmu, bukan malah memberikan materi karena kepercayaan mampu mentransfer ilmu pengetahuan yang dipercayakan oleh atasan (Dekan atau Kaprodi).

Kondisi seperti ini sungguh sangat miris sekali, karena sistem pendidikan seharusnya sudah tertata dengan baik di perguruan tinggi. Bukan malah terlihat seperti sekolah-sekolah swasta yang memang tidak mampu membayar pengajar profesional dan hanya berharap pada para pengajar sukarelawan.

Hal seperti ini tentunya harus segera diatasi agar tidak menimbulkan kesan bahwa perguruan tinggi mempraktikkan sistem transfer ilmu yang demikian minim dan tidak perofesional.

Sekolah Menengah Atas saja para pengajarnya harus sesuai kompetensi masing-masing. Selain itu, mereka juga harus mengajar yang memang sudah menjadi keahliannya.

Penerus bangsa harus diberikan sesuatu yang memang menjadi haknya, bukan asal mendapatkan pengetahuan.