Pagi tadi (kebetulan saya nulis ini tengah malam), untuk kali pertamanya saya mengikuti perkuliahan daring yang itu benar-benar kuliah. Ada dosen menyampaikan materi, mahasiswa menyimak dan menanggapi, sehingga terjadi dialog dalam kelas seperti perkuliahan tatap muka biasa.

Kuliah-kuliah daring sebelumnya hanya menyimak materi yang diunggah, lalu disediakan kolom diskusi—nggak ada yang ngisi juga sih ujung-ujungnya—dan ditinggal pergi dosennya begitu saja. Tanpa ada dialog sama sekali. Mahasiswa yo maleslah diskusi sendiri, dikiranya kita unjuk kebolehan cuma buat keren-kerenan, biar dianggep yang paling dominan oleh teman-teman. Tentu untuk nilailah, kalau yang menilai tidak ada ya, ogah amat! Buang-buang energi!

Iya, itu masih mending daripada tugas yang mengalir terus-menerus, kayak takdir, nggak bisa lagi ditawar, sudah ketentuan.

Tapi saya sedikit terganggu dengan sistem perkuliahan daring dosen saya ini, yang menurut saya sangat posesif. Beliau mengharuskan mahasiswanya untuk meninggalkan jejak dalam setiap kelasnya di Google Classrom. Walaupun sekadar omong kosong. Sore itu menjelang berbuka puasa (untuk Semarang dan sekitarnya, bagi yang menjalankan), beliau berkirim pesan:

“Tolong teman-teman yang belum meninggalkan jejak di classroom ya karena presensi saya berdasarkan ada tidaknya nama kalian di tiap diskusi, meskipun hanya 'terima kasih saja' dan 'baik pak'. Tentu saja bagi yang aktif berpendapat dan bertanya akan mendapat poin plus untuk nilai.”

Namanya mahasiswa, presensi bisa jadi segalanya daripada harus mengulang tahun depan. Apalagi beberapa dosen ada yang memberikan nilai dengan pertimbangan presensi. Mahasiswa makin menjadi-jadi. Saya tidak perlu menuliskan berbagai macam cara mahasiswa dalam memenangkan tantangan alamnya itu. Saya kira setiap mahasiswa punya cara alamiahnya sendiri.

Dengan sistem perkuliahan yang seperti itu, saya sebagai mahasiswa, bukan, saya sebagai orang, yang menyukai keefektifan, saya merasa sangat terganggu dengan tingkah teman-teman saya. bagaimana saya tidak terganggu? Coba simak cerita saya!

Memulai perkuliahan dosen saya bertanya, “Selamat pagi semua. Sudah diberi materi apa saja dengan dosen sebelumnya?”

Mengingat sistem perkuliahan beliau, teman-teman saya hampir semua menjawab pertanyaan itu. Ada yang singkat saja. Mungkin pikirnya dia, yang penting meninggalkan jejak. Ada yang berpanjang-lebar, mungkin dengan tujuan biar dapat nilai plus. Mau itu singkat, atau panjang-lebar, secara garis besar intinya sama.

Terlebih lagi ketika dosen saya menanyakan suatu konsep, “Apa perbedaan antara sastra profetik dengan sastra sufistik?”

Tidak sampai satu menit, dinding obrolan sudah penuh dengan jawaban pasaran. Lagi-lagi secara garis besar jawaban mereka hampir sama. Sangat tidak efektif, kata saya. Kenapa sih menjawab pertanyaan yang sudah terjawab dengan jawaban yang sama? Supaya kelihatan hadir dan aktif, begitu? Yaelah, masih banyak cara lain, Bro!

Pikir saya, ini diskusi apa ujian semester? Kenapa semua menjawab, padahal perwakilan cukup, kecuali kalau punya jawaban yang berbeda. Bukan malah nyampah kayak gitu.

Setelah dosen puas dengan jawaban teman-teman, lanjut memberikan materi. Di sinilah waktu yang kata saya tepat untuk mereka nyampah, dengan nanggapi dan melempar pertanyaan kritis, alih-alih presensi. Tapi yang terjadi malah, “Terima kasih, Bapak, atas materinya.” Hampir serentak orang-orang.

Untung saja ada beberapa yang sepemikiran dengan saya, mulailah kami menghidupkan dinamika diskusi. Lagi-lagi saya dibuat mangkel, di tengah-tengah diskusi yang lagi hangat-hangatnya dengan bapak dosen, ada beberapa lagi yang berkirim jawaban, “Sastra profetik adalah ….” Ya Allah, ada ya mahasiswa model beginian. Batin saya.

Tapi saya kira itu semua bukan salah mahasiswa, melainkan dosen yang terlalu posesif. Sehingga mahasiswa kehilangan kebebasan.

Bapak dosen yang terhormat, sebetulnya kuliah itu kebutuhan siapa tho? Nggak perlu ngoyo dalam memberikan ilmu. Sing suanteee aja gitu lho. Mahasiswa tanpa disuruh belajar juga udah pasti belajar! Tanpa diminta ikut kelas juga udah pasti ikut berpartisipasi, walaupun sekadar menyimak. Tentu berlaku kecuali, hehehe.

Kalau kami anak SMA masih sewajarnya diperlakukan sedemikian itu, tapi kami mahasiswa. Kami butuh kebebasan ruang belajar. Kami butuh tempat belajar dengan dinamika belajar yang santai bukan dengan paksaan. Percayalah! Sistem perkuliahan yang sedemikian itu akan sangat membosankan!—untuk tidak mengatakan menjengkelkan