Bahasa dapat kita lihat sebagai alat kekuasaan, menurut Sarah Mills (2001). Perlu digarisbawahi bahwa bahasa di sini adalah pesan dalam bentuk apa pun, tidak hanya dalam bentuk lisan dan tulisan. 

Kekuasaan yang dimaksud Mills juga tidak melulu kekuatan otot maupun politik. Bahasa sebagai alat kekuasaan menurutnya berupa normalisasi yang hidup dan tumbuh dalam masyarakat. 

Dalam masyarakat patriarkis, misalnya, normalisasi ini tumbuh sebagai stereotip yang diwajarkan, pemberitaan vulgar yang menormalkan kekerasan seksual, dan masih banyak lagi.

Mendomestifikasi Perempuan Melalui Sinetron

Dalam banyak sinetron Indonesia, perempuan dicitrakan dengan sangat dangkal. Citraan perempuan yang berseliweran di sinetron-sinetron Indonesia menjadi simbol betapa masih patriarkis pemikiran masyarakat kita.

Dari sinetron kita juga dapat melihat betapa media terus mereproduksi pemikiran itu menjadi menjadi rupiah .

Peran perempuan protagonis sering digambarkan sebagai perempuan yang 24 jam selalu siaga untuk melayani anak dan suami, selalui siap sedia di dapur, bahkan tak jarang pula pasrah menghadapi suami yang kasar. Perempuan seakan harus meyimpan rapat-rapat isi kepala dan hatinya dan mengiyakan segala perkataan suami.

Menangis tersedu-sedu dalam doa pun seakan menjadi satu-satunya solusi apabila perempuan mengalami KDRT.

Adapun peran perempuan antagonis kerap dimunculkan dari golongan wanita karier. Di konflik cerita, perempuan berkarier ini akan menjadi hedon, mengutamakan gelimang harta, dan segala deskripsi menggelikan yang tentu saja jarang disematkan kepada peran laki-laki antagonis. 

Baik atau buruknya seorang perempuan pun akhirnya dinilai dari patuh atau tidak kepada suami, selalu siaga atau tidak di rumah, dan segala citra. Perempuan yang tidak memenuhi kriteria yang ada—bila menurut penutup kisah sinetron—akan sengsara di dunia maupun di akhirat.

Berita Cabul Tanpa Simpati

Bukan mengajak pembaca untuk memahami dan peka terhadap kasus kekerasan seksual, pemberitaan yang dilakukan media malah sering kali memantik imajinasi para pembaca cabul. Gampang sekali bagi kita untuk menemukan berita yang menarasikan kekerasan seksual dengan cabul, bahkan menormalisasinya.

Sebelum mata kita menjumpai isi berita, kita sudah terlebih dahulu disuguhkan dengan judul yang amat bermasalah. Salah satunya judul pada berita “Hendak Mencari Ikan, Namun Nafsu Paman Sudah Memuncak Melihat Keponakan, Honda Revo Jadi Saksi Bisu” dari Tribun Madura.

Kata “Paman” dan “Keponakan” dimunculkan di judul untuk menggambarkan situasi skandal dalam keluarga. Judul pada bagian “Namun Nafsu Paman Sudah Memuncak Melihat Keponakan” mengesankan seakan-akan si keponakan adalah penyebab kasus pemerkosaan terjadi. 

Si keponakan yang telah membakar hawa nafsu pamannya yang berujung pemerkosaan.

Nafsu si paman adalah sesuatu yang lumrah dan naluriah. Kesan ini malah makin dipertegas dalam isi berita “Tiba-tiba timbul nafsu dan hasrat sang pelaku terhadap korban”. Seperti belum cukup, pernyataan ini ditambahi dengan deskripsi kejadian yang eksplisit dan cabul.

Pemilihan kata, frasa, dan kalimat dalam memberitakan kasus kekerasan seksual tidak hanya bermasalah pada contoh yang saya berikan. Kita dapat dengan gampang menemui kata “gadis” sebagai simbol perempuan yang belum pernah berhubungan seks. “Janda muda” yang berarti perempuan muda yang sudah pernah berhubungan seks. 

Deskripsi korban “sangat cantik” yang menyampaikan bahwa kecantikan korban membuat pelaku menjadi birahi sehingga terjadilah pemerkosaan. “Digagahi” sebagai simbol penaklukan dan maskulinitas pelaku. 

Apabila mau lebih mencermati berita-berita, akan gampang bagi kita untuk menemukan pemilihan kata, frasa, dan kalimat yang menormalisasi kekerasan seksual.

Pemberitaan kasus ini dan juga pada kasus lainnya seringkali abai terhadap perasaan korban, keluarga, dan orang-orang terdekatnya. Dalam berita yang saya angkat di tulisan ini, media menyebutkan nama lengkap dan foto pelaku sekaligus paman si korban. 

Dalam berita-berita lain yang saya dapati, media bahkan turut menyertakan foto korban pemerkosaan. Korban, keluaraga, dan orang-orang terdekatnya berhak atas perlindungan privasi. Mereka sudah terpukul oleh kasus yang ada, bahkan trauma berat dapat dialami korban dalam jangka waktu panjang.

Apa yang ada di otak awak media ketika membongkar privasi mereka? 

Memengaruhi  Masyarakat

Media memiliki kekuatan untuk membuat dan menyebarluaskan narasi atas sesuatu, bahkan dalam skala yang massif. Kekuatan ini bisa menjadi berbahaya karena media dapat memanipulasi narasi dan menyebarluaskannya. 

Memang masih ada beberapa media yang memilih untuk tidak memanipulasi. Dalam isu kekerasan seksual, Tirto.id, Vice Indonesia, dan Jakarta Post mempunyai proyek kolaborasi “Nama Baik Kampus”. Proyek ini mengekspos fenomena gunung es kekerasan seksual di kampus dengan liputan yang tentu memahami perspektif korban. 

Namun, tidak banyak media memiliki iktikad baik yang serupa. Seperti yang kita ketahui bersama, banyak media yang memilih untuk menjadi manipulatif. Sinetron dengan domestifikasi perempuan yang mereka tampilkan. Berita dengan menyorot kekerasan seksual dengan sensual dan sensasional. 

Narasi-narasi patriarkis ini akan terakumulasi dan tertanam dalam ruang kesadaran masyarakat apabila terus-menerus direproduksi media. Bukan tak mungkin masyarakat kita akan menajadi benar-benar apatis dan antipati dalam memanusiakan perempuan, bahkan di antara sesama perempuan itu sendiri.