Apakah telanjang itu berdosa?

Tabik sebelumnya saya sampaikan kepada Anda yang berkenan membaca tulisan ini. Semoga tidak ada yang sampai tersinggung, karena memang tidak ada niat pada saya untuk menyinggung atau melecehkan siapa-siapa. 

Sebagai disclaimer, saya bukan ahli agama. Saya hanya seseorang yang masih memercayai eksistensi Tuhan Sang Maha Pengasih, dan sering berpikir tentang-Nya – dalam cara yang mungkin tidak selalu sesuai dengan tata cara agama konvensional yang ada.

Saya seorang Katolik – setidaknya sampai saat ini saya masih menganggap diri demikian, meski belum tentu semua orang setuju. Karena itu, wacana yang saya sampaikan di sini berdasarkan pada ayat-ayat kitab suci yang saya yakini kebenarannya, yaitu Alkitab – dalam hal ini, Perjanjian Lama.

Kitab Kejadian bab 2 menceritakan tentang penciptaan manusia-manusia pertama, Adam dan Hawa, pembuatan Taman Eden untuk tempat tinggal mereka berdua, dan hidup mereka di sana bersama ciptaan lain yang nonmanusia. Kejadian 2 ditutup dengan ayat 25 yang berbunyi:

“Mereka keduanya telanjang, manusia dan istrinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.”

Barulah pada Kejadian 3 dikisahkan tentang proses jatuhnya manusia ke dalam dosa. Dalam ayat 1, ular, si binatang paling cerdik di darat yang digambarkan sebagai jelmaan iblis, membujuk Hawa dengan mula-mula bertanya:

“Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”

Di ayat 2, Hawa awalnya menjawab apa adanya:

Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.”

Tetapi dalam ayat 4-5 ular berargumen kepada Hawa:

“Sekali-kali, kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya, matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

Maka Hawa pun:

“Melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian.” (ayat 6)

Ia pun mengambil dan memakannya, lalu memberikannya kepada Adam dan Adam pun memakannya. Setelah itu, apa yang terjadi? Ayat 7 menjabarkannya sebagai:

“Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.”

Kisah berikutnya, mereka berdua mendengar langkah kaki Tuhan yang sedang berjalan-jalan di taman itu, lalu bersembunyilah mereka terhadap-Nya. Tuhan memanggil-manggil mereka, yang dijawab dengan:

“Ketika aku mendengar bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” (ayat 10)

Tuhan pun membalas dengan:

“Siapakah yang memberitahukan kepadamu bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” (ayat 11)

Lanjutan cerita berikutnya nyaris semua sudah tahu. Adam dan Hawa diusir dari kenyamanan hidup di Taman Eden. Mereka harus hidup menderita di bumi. 

Menurut Kejadian 3:16, sebagai hukuman bagi Hawa, Tuhan berfirman:

“Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.”

Dan bagi Adam (Kejadian 3:17):

“Terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu.”

Dan sejak saat itu, menurut doktrin iman Kristiani, semua manusia keturunan mereka harus menanggung dosa asal, atau dosa sejak lahir, yang awalnya diperbuat Adam dan Hawa.

Dulu, saya memahami kisah dalam Kitab Kejadian itu dengan gampang: manusia begitu gampang tergoda oleh bujukan ular yang menjanjikannya bisa melebihi Tuhan, dan itulah dosanya. 

Waktu saya masih kecil, interpretasinya malah lebih sederhana lagi: manusia melanggar perintah Tuhan, dan itulah dosanya.

Akhir-akhir ini, perkara ketelanjangan tubuh manusia kembali ramai dibicarakan, sehubungan dengan maraknya pemberitaan kasus pemerkosaan. Perdebatan yang sebenarnya sekadar replay dari yang sudah-sudah: ketelanjangan dan akhlak manusia.

Tapi benarkah ketelanjangan manusia sejalan dengan tidak adanya akhlak?

Kejadian 2:25 menegaskan bahwa sebelum manusia jatuh dalam dosa dan terusir dari Eden (dalam iman Kristiani, dosa diartikan sebagai jarak yang tak terjembatani antara manusia dengan Tuhan; saya membayangkannya, mungkin seperti bagian bumi tempat Adam-Hawa diusir dan Taman Eden), manusia itu telanjang dan everything’s fine

Justru setelah manusia memakan buah larangan, mereka mulai merasa malu dan harus menutupi ketelanjangannya, bahkan di hadapan Tuhan. Dan sejak itu mulai membentanglah jarak antara manusia dengan Tuhan.

Jadi apakah ketelanjangan terkait dengan dosa asal? Dari rangkaian ceritanya, kok, tidak sinkron.

Ketelanjangan saat ini, selain dikaitkan dengan akhlak, juga digandengkan dengan martabat manusia. Barangsiapa telanjang, dia manusia yang dianggap rendah secara sosial. Makhluk marginal. “Ngapain telanjang? Emangnya orang gila?” begitu kata orang biasanya.

Begitu juga biasanya pendapat segelintir orang soal perempuan yang tidak “berpakaian pantas”. Mereka sering dianggap “murahan”, “gampangan”, dan semacamnya. Bahkan sampai level dianggap layak/minta diperkosa atau dilecehkan. Istilah di Barat sana: She looks like she’s asking for it.

Sebagai feminis yang masih belajar, saya suka membagikan ilustrasi berupa gambar dan kutipan anti-kekerasan seksual dan pemerkosaan di media sosial. Salah satunya berbunyi: If I’m a woman and I’m walking down the street, naked, you still don’t have the right to rape me.

Dalam bahasa Indonesia, Jika saya seorang perempuan yang sedang berjalan telanjang sepanjang jalan ini, Anda tetap tidak punya hak apa pun untuk memerkosa saya. 

Pesannya bagi saya cukup jelas: jangan memerkosa perempuan, apa pun yang ia kenakan, sebab tubuhnya itu miliknya, bukan milikmu. Tapi apa yang terjadi? Komentar-komentar yang diberikan di bawah ilustrasi itu malah seringnya menyangka saya menyuruh perempuan telanjang di tengah jalan. *tepuk jidat*

Jadi, ada apa dengan ketelanjangan ini? 

Saya mulai membayangkan begini: begitu Adam dan Hawa memakan buah terlarang (baca: jatuh dalam dosa), yang pertama kali mereka sadari adalah mereka telanjang. Dan mereka malu karenanya. Padahal di Kejadian 2, jelas-jelas dikatakan bahwa mereka sudah telanjang ke mana-mana sejak semula, hidup bahagia, dan tidak pernah malu.

Malu adalah sebuah perasaan yang menggambarkan posisi atau martabat diri yang rendah atau direndahkan di hadapan orang lain. Ditelanjangi di hadapan umum adalah salah satu bentuk hukuman yang dianggap merendahkan manusia, misalnya yang terjadi pada wanita-wanita anggota Gerwani pasca-G30S yang dituduh sebagai wanita tak bermoral, gila seks, yang menyiksa jenderal-jenderal.

Maka bolehlah kita katakan, buah larangan telah menjadi semacam trigger yang membuka mata Adam dan Hawa tentang posisi atau martabat mereka. Yang tadinya telanjang, bahagia, dan setara, sekarang menjadi tetap telanjang, namun merasa rendah dan dipermalukan. 

Kalau menurut bahasa bujukan si ular, Adam dan Hawa mendapat “pengetahuan” tentang yang baik dan yang jahat; ketelanjangan mereka yang awalnya baik-baik saja, sekarang menjadi “jahat” dan harus disembunyikan.

Kepolosan dan kemurnian mereka sebagai ciptaan Tuhan yang serupa citra Allah sendiri menjadi tercoreng. Mereka “mati” secara jiwa. Mereka dikutuk untuk mulai mengotak-ngotakkan, menciptakan kasta berdasarkan harkat dan martabat. Sesuatu yang sebenarnya bukan kodrat mereka sebagai ciptaan tertinggi. Sesuatu yang rupa-rupanya harus ditanggung manusia hingga sekarang.

Miris juga jika membaca bahwa salah satu akibat yang diterima Hawa akibat dosa asal adalah ia akan dikuasai oleh suaminya, suatu hubungan tak setara, tidak seperti semasa mereka di Eden dulu (lampu neon berbunyi “patriarki” berkelap-kelip di otak saya).

Jadi sesungguhnya, apakah yang dimaksud dosa asal yang berusaha diiming-imingi oleh si ular itu sebetulnya? Sekadar suatu pembangkangan terhadap perintah Tuhan, atau ketika manusia memilih untuk menciptakan dan memberlakukan tingkatan-tingkatan martabat di antara sesama mereka sendiri? 

Dan apakah sesungguhnya maksud Tuhan saat Ia melarang Adam dan Hawa memakan buah terlarang itu? Hanya karena Ia adalah suatu pribadi otoriter yang tidak suka jika ada yang membangkang, atau karena Ia tahu, manusia yang Ia ciptakan menurut gambar dan rupa-Nya sendiri sesungguhnya sedari awal adalah makhluk-makhluk setara, sama berharga di mata-Nya? 

Ingat, dalam Kejadian 2:18, pada awalnya Tuhan menciptakan Hawa karena Ia melihat Adam sendirian, hanya bersama hewan-hewan, dan Ia berpikir:

"Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

Ah, mungkin saya memang terlalu banyak berpikir. Ada sebagian orang yang bilang bahwa terlalu banyak berpikir (soal agama dan Tuhan) itu tidak baik. Termasuk menjadi seorang feminis, mungkin menurut mereka itu juga tidak baik.

Tapi, entahlah, makin dipikir rasanya makin membingungkan: kenapa sekarang kita gemar sekali merendahkan sesama kita, padahal dulu sebelum jatuh dalam dosa, Adam dan Hawa telanjang dan santai-santai saja? Tidak ada satu pun ayat di Alkitab yang menyebutkan bahwa di Taman Eden Adam pernah memerkosa Hawa atau sebaliknya.