Terseret, aku terserat dalam pusaran gelombang dosa, dosa akibat nafsu, ego dan kesombonganku. Dosa ini membuat aku malu dan merasa teralienasi dengan diriku sendiri. Aku merasa malu karena aku selalu jatuh dan terseret dalam dosa dan kesalahan yang sama setiap saat.

Meskipun hampir tiap jam aku bersujud dihadapanNya untuk memohon ampun atas semua dosaku dan memohon kekuatan untuk melawan dosa, namun diriku tetap saja jatuh dan tersesat lagi dalam dosa.

Tuhan apakah aku masih pantas menerima dan mengalami cintah dan kasihMu. Tuhan apakah doa dan tapahku belum menembus istanaMu sehingga sulit didengar atau apakah kata-kata dalam doaku tidak seindah mazmur Daud. Atau apakah doaku terlalu panjang dan bertele-tele seperti doa orang-orang Farisi.

Tuhan kadang aku hendak menyerah dan memutuskan untuk berhenti berdoa dan memohon padaMu. Sebab setelah aku berdoa dan memohon padaMu aku kembali terseret dalam dosa dan kesalahan.

Dan parahnya lagi aku sering jatuh dan terseret dalam dosa dan kesalahan yang sama. Tuhan aku harus bagaimana dengan semua ini?

Sial

Aku terjaga dari tidurku pagi ini saat jarum pendek weker tuaku tepat di atas angka 4, masih terlalu pagi aku terjaga hari ini. Entah ada pertanda apa, aku heran dan bingung dengan diriku sebab tidak seperti biasanya aku terjaga sepagi ini apalagi tepat pada jam keramat.

Jam keramat karena menurut kepercayaan nenek moyang di kampungku jam 4 pagi adalah waktunya para roh jahat kembali ke kediamannya. Akh tapi aku tidak percaya dan masih skeptis dengan kepercayaan orang-orang di kampungku.

Karena masih terlalu pagi, aku merapatkan kembali selimut ke tubuhku, kujepitkan lebih dalam dengan kadua kakiku lalu kupeluk dengan erat bantal guling kusam miliku. Mencoba untuk terlelap kembali dalam buaian mimpi yang sempat terputus tetapi mata ini tak kunjung terlelap dan pikiran ini tak mau tidur bersama raga yang lelah.

Pikiran ini justru pergi melelang buana, pergi meninggalkan raga yang terbungkus selimut. Pikiran ini terus bergerak menembusi batas alam pikirku dan menjumpai ribuan kisah yang pernah terjadi namun tak ada satu kisahpun yang diajak berbicara. Pikiran ini seolah-olah hanya datang untuk memastikan apakah semua kisah yang pernah terjadi itu masih tersimpan rapih sebagai kenangan di sudut memori.

Asik bermain dengan pikiranku sendiri dan menikmati hangatnya tubuh yang terbungkus selimut. Tanpa disadari kini jarum pendek wekerku tepat di atas angka 6, sial tanpa mempedulikan lagi permainan pikiran dan kehangatan raga dalam selimut.

Secepat kilat kini aku sudah berjubah dan langsung berlari menuju Kapela untuk ibadat pagi dan merayakan Ekaristi. Namun apa yang terjadi, keadan Kapela sepi, tidak seperti biasanya. Aku mulai bertanya-tanya dalam kebingunganku, apakah aku bangun terlalu pagi atau, akh aku lupa ternyata ibadat pagi dimulai jam 6:30.

“Sialan”, gumamku sambil tersenyum aku kembali ke kamarku menertawai kekonyolanku sendiri.

Biarlah Mereka Tahu

Setelah sekian lamanya. Aku memenjarakan kenangan tentang kita dalam labirin-labirin hati ini. Mencoba menutup rapat-rapat semua cela agar kenangan tentang kita tidak berceloteh sembarangan sehingga banyak orang tahu bahwa kita, kau dan aku pernah mengecap manisnya madu cinta.

Tetapi aku menyadari bahwa tak ada gunanya aku merahasiakan semuanya lagian bukan hanya kau dan aku saja yang pernah berbuat demikian. Mereka juga pernah melakukan hal yang sama, mengecap manisnya madu cinta.

Aku mengakui memang hal ini salah dan bertentangan dengan hukum, moral, adat istiadat dan ajaran kepercayaan kita. Tetapi mau bagaimana lagi semua telah terjadi. Apakah aku harus menjilat kembali ludah yang telah kuludai, tidak?

Sebab apa yang terjadi, entah itu baik atau buruk toh semua akan terkubur menjadi kenangan. Biarlah mereka tahu, dengan demikian mereka bisa belajar dari pengalaman dan kisah kita.

Clausura St. Theresia, Jogjakarta

Aku Baik-Baik Saja

Jangan tanyakan aku di mana, Sebab aku masih di sini bersama rindu dan harapku. Jangan mencemaskan keadaanku, Sebab aku baik-baik saja, tanpa kekurangan apa pun.

Jangan tanyakan aku bersama siapa, sebab aku masih seperti yang dulu. Hanya berteman sepi dalam kesendirian. Jangan tanyakan aku tentang apa pun, Sebab aku tak mau diganggu. Biarkan aku sendiri di sini. Tenggelam dalam kesibukanku menata sepi dalam kesendirian.

Aku berharap kau bisa mengerti keadaanku. Bukannya aku tidak peka dengan perhatianmu, Jujur aku bersyukur bisa memilikimu dan menjadi orang istimewa dalam hidupmu, semua ini tidak bisa kuingkari.

Tetapi untuk kali ini saja biarkan aku sendiri. Melalui hari-hariku tanpa ada senyum dan perhatianmu. Jangan cemas sebab aku akan baik-baik saja di sini.

Sudut Gang Bias, Jogjakarta.