Kira-kira tiga belas tahun lalu, ketika mendapat amanat mengajar Bahasa Inggris – bidang yang sebenarnya tidak terlalu saya kuasai – bagi siswa kelas 1 SMA di sebuah sekolah berasrama khusus putra, saya harus memberi para siswa tugas membuat karangan, tentu berbahasa Inggris. Tapi apa yang harus mereka tulis?

Tugas mengarang terbilang sulit bagi siswa-siswa saya yang hidup di tengah masyarakat lisan dan berada di lingkungan sekolah berbasis pendidikan tradisional. Apalagi tulisannya harus berbahasa Inggris. Tapi di sisi lain, saya menyadari bahwa para pemuda seumur mereka sedang berada pada fase hidup yang menggelora, khususnya dalam urusan cinta.

Inspirasi pun datang. Saya tugasi masing-masing siswa menulis surat cinta.

Lebih dari perkiraan saya, siswa-siswa itu mengerjakan tugas dengan sangat gigih dan penuh semangat. Seakan-akan tak pernah terjadi keadaan serupa dalam penugasan-penugasan sebelumnya.

Selama sepekan itu, mereka menghabiskan sebagian besar waktu mencari inspirasi demi sepucuk surat cinta. Ada yang terlihat menyendiri beberapa lama sebelum menorehkan tinta di atas kertas, ada yang mendengarkan musik romantis, ada pula yang bertapa di perpustakaan, di sekitar rak buku-buku sastra.

Hasilnya jelas tak mengecewakan. Jika ada tiga puluh siswa dalam satu kelas, maka ada tiga puluh surat cinta dengan beragam gaya bahasa. Ada yang menggunakan bahasa sederhana, ada pula surat cinta yang berisi puisi-puisi dan kalimat-kalimat pujangga.

Pengalaman mengajar kala itu, untuk pertama kalinya dan nantinya didukung oleh fenomena-fenomena lain, mengajari saya satu hal: bahwa tiada dorongan yang lebih kuat dan lebih hebat bagi seseorang untuk melakukan sesuatu selain dorongan cinta.

Sejarah hidup manusia penuh dengan kisah-kisah cinta – bahkan orang boleh saja mengatakan sejarah manusia adalah sejarah cinta. Dalam kisah-kisah itu cinta digambarkan sebagai daya, kekuatan, energi yang menggerakkan segalanya, mulai dari setiap perbuatan kita sehari-hari hingga lahirnya keputusan terbesar dalam hidup kita.

Anda merasakan pengalaman yang berbeda dari biasanya ketika anda sedang jatuh cinta. Demi dapat berjumpa dengan kekasih yang dirindu atau memenuhi segala yang kekasih mau, anda rela mendaki gunung, menyeberangi laut, bahkan menerjang maut. Itu bukan sekedar kata-kata rayuan, tapi gambaran sastrawi atas kenyataan.

Kenyataannya dorongan cintalah yang menjadi alasan paling pribadi dan secara psikologis paling fundamental yang menggerakkan setiap perilaku dan tindakan, apapun objek cinta itu. Pecinta akan melakukan apa saja karena cinta pada kekasihnya, orangtua bekerja dan menuntut upah hasil kerjanya karena cinta pada putra-putrinya, penggila boyband Korea pergi menonton konser karena cinta pada idolanya. Mereka semua adalah orang-orang yang diliputi rasa cinta.

Tak heran jika cinta melahirkan miliaran puisi, lukisan, lagu, film dan drama televisi. Bukan karena para seniman kehabisan ide, lalu menjadikan cinta dan ketakjuban terhadap tubuh objek cinta sebagai materi karya seni mereka, bukannya moralitas relijius yang dituntut hukum-hukum agama, melainkan karena cinta merupakan sesuatu yang inheren dalam diri manusia. Kita semua pernah, sedang, atau akan mengalaminya.

Dengan demikian, cinta bukan sekedar pendorong setiap tindakan, energi bagi setiap gerak, tapi cinta juga punya daya yang lebih tinggi, yaitu daya mencipta. Jika cinta dapat menghasilkan karya-karya seni, maka cinta ilahi adalah energi bagi penciptaan alam semesta. Demikian para sufi memberi pelajaran.

Tiada yang lebih meresapi dan menghayati hakikat cinta ilahi selain para sufi dan orang-orang yang meniti jalan mereka. Bagi para sufi, cinta adalah dasar penciptaan dan, karena itu, segala ciptaan diliputi oleh cinta. Dalam kata lain, Tuhan menciptakan dunia karena cinta-Nya.

Sebuah Hadis Qudsi yang masyhur dalam tasawuf menyebut Tuhan berkata: “Aku adalah perebendaharaan yang tersembunyi. Aku cinta (uhibbu) untuk dikenal, maka Aku mencipta agar Aku dikenal.”

Syams Tabrizi, sufi dan guru spiritual salah satu sufi cinta teragung, Maulana Jalaluddin Rumi, menyatakan dalam potongan syairnya: “Cinta sendiri adalah suatu dunia. Entah apa kau berada di tengah-tengahnya, di dalam baranya, atau di luar itu, senantiasa dalam kerinduannya.”

Sang murid sendiri, Rumi, turut menggambarkan hakikat penciptaan dalam cinta dalam puisinya: “Tuhan menciptakanku dari cawan anggur cinta. Dialah kasihku jika kematian menghampiriku. Aku telah mabuk dan asalku dari anggur cinta. Katakan pada anggur, apa ada yang mampu dia berikan kecuali kemabukan?"

Sungguh puisi-puisi itu sempurna, tidak hanya komposisi makna yang dilukiskanya – tentang cinta sebagai energi penciptaan, melainkan juga pertalian antara perasaan cinta dan karya seni sastra. Pertalian yang mewakili penciptaan alam semesta sebagai karya seni Tuhan.

Betapa indah dan dahsyatnya cinta itu. Tak peduli apakah itu cinta dari dan kepada Tuhan, atau cinta duniawi nan metaforik, pangkalnya tetap sama, yakni keindahan. Muhammad Nur Jabir dalam Tafsir 40 Kaidah Cinta Syams Tabrizi (2020) bahkan menulis: “sang pecinta yang sedang jatuh cinta pada kekasihnya, ia seolah tertawan oleh keindahan dan keagungan kekasih. Alangkah merugi jika dalam hidup ini tak pernah merasakan keagungan cinta.”

Karena memiliki daya pendorong gerak dan daya mencipta, cinta kadang menghasilkan perbuatan di luar kebiasaan: berkat cinta, sang pecinta yang takluk dengan pesona kekasihnya melepas identitasnya dan meniru sifat-sifat kekasihnya. Karena cinta pula, penggemar sepakbola dan  boyband Korea meniru perilaku idola dan menyerap budaya dunianya, dari gaya hidup sampai bahasa.

Cinta bahkan bisa menghasilkan tindakan yang dinilai mengusik nurani. Misalnya, penguasa yang memanfaatkan kekuasaannya demi menyiapkan jalan bagi keturunan atau keluarganya untuk meneruskan kepemimpinan – Ben Anderson menyebutnya “politik putra mahkota”. Ia melakukan itu karena dorongan cinta... cinta pada keturunan dan keluarganya.

Bagaimanapun, apapun bentuk dan objeknya, cinta tetaplah indah dalam rasa, agung dalam karsa. Tinggal kemudian bagaimana cinta mendorong lahirnya keindahan dan keagungan lainnya, seperti Sang Cinta melahirkan keindahan dan keagungan alam semesta.

Dalam hal ini, Abu al-Hasan ‘Ali al-Hujwiri dalam kitabnya Kasyf al-Mahjub menyatakan: cinta (hubb, mahabbah) adalah biji (habbah) yang nantinya akan tumbuh menjadi batang dan dahan sebagai tempatnya bersemainya buah dan bunga-bunga.[]