Setelah nyaris seharian penuh duduk bekerja di depan laptopnya, Diva memutuskan untuk berihat sejenak dan mencari udara segar di luar rumah. Hari ini, entah mengapa, dia menguap setidaknya sepuluh kali dalam semenit.

"Tanpa istirahat dan jalan-jalan, tidak ada produktivitas," gumamnya. Dia butuh sedikit waktu untuk menikmati hari dan menyegarkan kembali pikirannya.

Dia lalu menjetikkan jari jemarinya dan kemudian menutup laptopnya, memandang ke luar jendela memastikan di luar adalah cuaca favoritnya.

Ternyata di luar langit sedang mendung.

Namun itu bukan masalah besar baginya. Dia pun meraih jaketnya dan bersiap pergi.

“Mau kemana, sayang?” tanya suaminya, yang kadang menjadi lawan debatnya di rumah karena tidak suka dengan cara berpikirnya.

"Mau jalan-jalan. Tidak jauh. Di sekitar sini saja," jawabnya.

Suaminya tidak membalas.

Ia pun berlalu meninggalkan rumah.

Di luar rumah, ia merasa lega bisa menghirup udara bebas lagi setelah seharian duduk menatap layar laptopnya seolah segala bebannya satu per satu lenyap begitu saja.

Ia melihat-lihat lingkungan di sekitar rumah mereka. Lingkungan yang tidak sepi, juga tidak ramai; salah satu hal yang dia dan suaminya sependapat adalah keinginan untuk tinggal di lingkungan sederhana yang tidak sesunyi pedesaan dan tidak seramai perkotaan.

"Ya, sesuai dengan yang aku butuhkan," ujarnya tersenyum.

Dia kemudian pergi ke tempat di mana toko seni kecil dan juga kafe, tempat dia dan suaminya sering menghabiskan waktu, berada. Dia suka melihat pigura yang sering dipajang di depan toko itu meskipun ia tidak begitu mengerti tentang seni. Di kafe itu juga dia melihat orang-orang yang tengah bersantai menyeruput kopinya seraya menikmati makanan mereka.

Tidak begitu jauh dari kafe tersebut, dia melihat sebuah mesin tik tua. Dia lalu pergi mendekat ke etalase dan membungkuk untuk melihat mesin itu lebih dekat.

'Tertarik boleh, tapi jangan sentuh. Aku tidak dijual,' tulis tulisan yang ditempelkan si pemilik di mesin itu. 

Ia tersenyum. Dia suka dengan bagaimana cara si pemilik berkomunikasi dengan pelanggannya, membuat seolah-olah mesin itu berbicara sendiri.

Dia lalu bangkit dan di balik kaca etalase di depannya dia melihat sesuatu yang ganjil namun tidak asing: siluet seorang perempuan yang sedang berdiri di seberang jalan.

"Itu….?"

Dia mencoba fokus - melihat lebih dekat ke pantulan di kaca itu.

Perempuan itu agak mirip ... tidak, itu bahkan sangat mirip dengan dirinya. Dia lalu berbalik melihat siapa perempuan itu, namun perempuan itu dengan sigap memalingkan wajahnya dan berlalu pergi ke arah yang berlawanan.

Dia berteriak memanggilnya. Tidak ada balasan. Penasaran, dia lalu bergegas mengejar perempuan itu, namun alih-alih berhenti, perempuan itu justru semakin mempercepat langkahnya, dan, laiknya hantu, dia lenyap begitu saja di balik sebuah bangunan tua dekat persimpangan.

Diva lalu bergegas lari menuju persimpangan jalan, namun di sana dia tidak melihat perempuan itu sama sekali. Dengan bingung dan rasa penasaran yang bercampur aduk, ia lalu berputar melihat-lihat sekelilingnya.

"Barangkali perempuan itu bersembunyi di suatu tempat di sekitar sini," pikirnya.

Benar saja, dia melihat perempuan itu lagi dan sekarang dia sedang menuju ke sebuah taman tepat di seberang jalan.

Dia mencoba memanggil perempuan itu lagi. Secara mengejutkan, kali ini perempuan aneh itu berhenti dan menoleh ke arahnya.

Perempuan itu memang terlihat sangat mirip dengannya, terlalu mirip jika itu memang sekadar kebetulan. Orang-orang dan bahkan dirinya sendiri pun mungkin akan salah mengira bahwa mereka adalah saudara kembar. Memikirkan itu membuatnya lupa bahwa dia sedang berdiri di tengah jalan persimpangan dan menghalangi kendaraan yang melintas. 

Untung saja dia dengan cepat tersadarkan ketika mobil-mobil yang melintas mulai membunyikan klaksonnya. Dia pun menyingkir.

Sayangnya, segera setelah dia menyeberang dan mengelih ke taman itu lagi, perempuan itu menghilang. Meskipun demikian dia tetap berdeging untuk mencarinya di taman - tempat di mana perempuan itu, ia percaya, bersembunyi.

Sayangnya, sesampainya di taman dia tidak menemukannya, karena di sana ada banyak orang.

"Sial, kenapa aku harus melakukan hal konyol ini. Sangat sulit mencari sesuatu di tengah kerumunan bahkan manusia," keluhnya.

Hujan pun perlahan mulai turun. Ia hampir kehilangan harapan untuk menemukan perempuan itu, sampai akhirnya dia melihatnya lagi. Perempuan itu kini tengah berlari menuju hutan. 

Tidak mau kehilangan kesempatan, ia pun menyusul perempuan itu lebih cepat. Dia memutuskan untuk mengambil jalan pintas dan menuruni langkan batu. Sembari berlari di bebatuan, dia tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari perempuan itu laiknya elang yang sedang melihat targetnya muncul ke permukaan.

Namun ketika ia melangkahkan kakinya di salah satu batu yang cukup licin, tak sengaja dia menginjak tepi langkan batu itu dan sekonyong-konyong tergelincir jatuh, lalu dalam waktu yang begitu singkat, bagian belakang kepalanya terbentur ke permukaan batu yang menonjol.

Semuanya tiba-tiba menjadi gelap.

Orang-orang di sekitar taman, yang mendengar seperti ada sesuatu yang terjatuh, berlarian menuju sumber suara. Sesampainya di lokasi, mereka melihat seorang perempuan yang tidak sadarkan diri di atas batu yang sudah berselimut darah. Salah seorang dari mereka pun bergegas memanggil ambulans meminta pertolongan.

Namun mereka sudah terlambat.

***

Di rumah, sang suami yang sedang menikmati siaran tv favoritnya tiba-tiba mendengar suara ambulans menggema melewati jendela rumahnya. Ia sangat penasaran apa yang terjadi, lalu melihat-lihat keadaan sekitar. Namun tidak lama kemudian, dia mendengar bel rumahnya berbunyi.

Ada yang datang.

Ia pun segera membuka pintu.

Diva sudah berdiri di hadapannya.

"Ada yang ketinggalan?" tanyanya.

"Iya, aku tadi terburu-buru. Aku lupa membawa uang," jawab Diva.

"Ngomong-ngomong, kau tahu apa yang terjadi di sana?" tunjuk suaminya ke arah taman.

"Aku tidak tahu."