Adakah manusia di belahan bumi ini yang mengenal sosok Cochova? Cokelat vanilla menggemaskan dengan aroma yang menenangkan. Lalu bagaimana jika seseorang menyebutkan satu kata, Lolora? Lolipop Merah yang selalu ingin terlihat cantik kapan saja dan di mana saja. 

Hmm, Bebrela? Payung Hitam dengan kepintaran yang luar biasa dan satu-satunya yang telah wisuda di antara keempatnya. Glumbul, ini yang terakhir. Awan kelabu yang selalu saja bersedih dan mengalami mimpi buruk. Glumbul bersyukur karena bersama Cochova, Lolora, dan Bebrela, dirinya selalu kecipratan gelak tawa mereka.

Sayangnya, tidak ada yang percaya! Keempat sosok tersebut hanya abadi dalam lembaran sketchbook A3 milik Angeline. Gadis berusia empat belas tahun yang saat ini sedang melanjutkan pendidikan Junior High Schoolnya, di Los Angeles-Amerika.

Sejak kecil, Angeline selalu menghabiskan waktu dengan orang-orang dewasa yang ada di sekitarnya, namun bukan Mom dan Dad. Kedua orang tua gadis itu terlalu sibuk mengurus bisnis mereka masing-masing seperti tidak ada yang mau mengalah untuk bertahan di rumah barang satu minggu saja. 

Bibi Zaha dan Ms. Angbin yang merupakan pembantu rumah tangga dan guru privat melukis Angeline pula lah yang sekaligus menjadi teman Angeline di dunia nyata.

Angeline sudah kehilangan teman seusianya semenjak satu malam dimana dirinya melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa gambar-gambar berwujud kartun yang ia beri nama Cochova, Lolora, Bebrela dan Glumbul berkejar-kejaran dan bertukar tempat di atas lembar sketchbook A3 miliknya. 

Kejadian ini tepat sekali sembilan tahun yang lalu, dan itulah yang menjadikan Angeline ditinggal oleh teman-teman karena cerita Angeline yang tak masuk akal justru menimbulkan kesan “Aneh” pada diri gadis tersebut.

Sampai detik ini, Angeline masih percaya bahwa apa yang ia saksikan malam itu benar-benar nyata meski pun semenjak kejadian tersebut ia sudah tidak pernah lagi mendapat kejadian yang serupa. Tak masalah baginya, karena ia merasa Cochova, Lolora, Bebrela, dan Glumbul adalah sahabat terbaik yang tidak akan pernah meninggalkannya sampai kapan pun.

“Hhhhffffttt.” Hela nafas Angeline terdengar berat saat membuka pintu kamar yang terasa amat sempit itu.

Ruangan yang amat kontras dengan kamar tidur lamanya di rumah mereka yang dulu. Rumah Mom dan Dad yang menyerupai istana, kini telah berpindah ke tangan orang lain lantaran Dad bangkrut. Peristiwa kelam yang bahkan saat mendengar berita tersebut jugalah, jantung Mom kumat sebelum akhirnya meninggal dunia dan Angeline harus kehilangan sosok Mom untuk selamanya.

“Angeline, kamu sudah makan sayang?” Sapa Dad sembari mendekat.

“Aku sedang tidak mau makan!”

“Kenapa sayang, Bibi Zaha sudah memasak makanan favorit kamu.”

“Kalau begitu katakan padanya, tidak perlu memasak-masakan itu lagi!”

“Iya tapi kenapa?”

“Dady tidak perlu banyak bicara! Sekarang pikirkan bagaimana caranya agar kita tidak tinggal di rumah sempit ini lagi! Aku benci rumah ini!”

“Tapi An,” Baru saja kata itu yang terucap dari mulut Dad, Angeline pun dengan tegas memotongnya.

“Dan satu hal lagi! Jangan pernah lupa bahwa aku benci Dady karena Dady telah membunuh Mom!” Angeline pun melangkah pergi meninggalkan Dad yang mulai berlinangan air mata.

Dady harus terima, bahwa semenjak dirinya bangkrut dan Mom meninggal dunia, Angeline telah menganggap bahwa dirinya adalah seorang pembunuh.

***

Ini adalah festival nomor satu di Amerika. Kompetisi doodle untuk kalangan elit yang akan berlangsung minggu depan di Canada. Penghargaan yang sama sekali tidak tanggung-tanggung dimana untuk juara pertama akan mendapatkan hadiah berupa apartemen di kawasan elit tersebut. Alasan kenapa Angeline merasa tidak ingin tau lagi hadiah apa yang akan diberikan bagi juara kedua dan ketiganya.

“Aku akan mengikuti kompetisi itu Ms, Ms harus membantu ku untuk mendapat juara pertama, dan juga mendapatkan tiket perlombaannya.” Ucap Angeline saat berkunjung ke apartemen Ms. Angbin sore itu.

“Saya akan bantu kamu Angeline, asal kamu mau berlatih lebih keras lagi dari persiapan kamu yang sebelum-sebelumnya. Soal tiket, kamu tidak usah memikirkan hal itu.”

“Hm.” Angeline mengangguk.

***

“Aku harus bagaimana Tuhan, bahkan sekarang aku dibenci oleh anak ku sendiri,” Keluh Dad di penghujung senja kala itu.

Sedang Angeline, dirinya tampak tengah serius berlatih untuk kompetisi kali ini. Begitu juga dengan keberadaan Ms. Angbin yang melecut potensi dalam diri muridnya itu berkali-kali.

***

Seperti perlombaan-perlombaannya selama ini, Angeline selalu berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. Nama Angeline kembali tercatat sebagai pemenang pertama dalam kompetisi doodle Amerika.

“Selamat ya sayang,” Ucap Dad yang hendak mengecup kening putrinya tersebut sedang Angeline justru memilih mundur beberapa langkah.

“Mulai detik ini, aku tidak mau melihat Dad lagi di hidup ku! Bibi Zaha dan Ms. Angbin silahkan datang ke apartemen ku kapan saja, tetapi tidak untuk Dad.”

“Angeline,”

“AKU TIDAK MAU SATU RUMAH DENGAN ORANG YANG TELAH MEMBUNUH MOM!” Tegas gadis itu kemudian pergi.

Tiba-tiba..

“OH GODDDD!!!”

“HONEY!!!” Teriak Dad saat mendapati Angeline yang sudah terbaring berlumurkan darah ketika sebuah mobil pribadi dengan kecepatan tinggi menabraknya.

***

Angeline buta. Gadis itu telah buta. Ia kehilangan kemampuan melihat dan itu semua menjadikan Angeline depresi bukan main.

“Bibi jangan pergi, aku mohon, Bibi tinggalah di sini bersama ku,” Pinta Angeline sembari meraba-raba Bibi Zaha setelah mereka tiba di apartemen baru milik Angeline.

“Tentu saja Angeline, Bibi tidak akan pernah meninggalkan kamu.”

“Hm. Jangan pernah biarkan Dad datang ke sini Bi, jangan biarkan Dad melihat ku dalam keadaan seperti ini.”

“Baiklah.” Bibi Zaha pun menoleh pada lelaki yang tengah berdiri di depan pintu. Angeline sama sekali tidak menyadari bahwa Dad masih menyertainya sampai detik ini.

***

Hari-hari berlalu dan tentu saja tidak seperti biasanya bagi Angeline. Perempuan yang masih saja bertahan dengan keputusannya tersebut sering mengurung diri dan bersedih. 

Sekali pun Bibi Zaha, Ms. Angbin dan Dad yang diam-diam selalu mengurusinya tanpa pernah mengeluarkan suara, Angeline tetap tidak lagi bisa melihat Cochova, Lolora, Bebrela, dan Glumbul menjadikan hari-harinya kian sepi.

Dad selalu memantau keseharian Angeline, saat gadis itu merasa haus, Dad lah yang memberikan segelas air untuk putrinya, bahkan saat Angeline mengucapkan kata “Terimakasih Bi.” Dad memilih diam karena tidak mau keberadaannya terbongkar.

Saat Angeline merasa lapar, membutuhkan ini dan itu, Dad selalu membantu Angeline tanpa sepengetahuan putrinya tersebut. Berkali-kali Dad menahan air mata dibuatnya, namun tetap merasa bahagia karena masih bisa menjaga dan mengurus Angeline.

Sampai pada suatu ketika, Angeline terjatuh. Tongkatnya terlepas, dan Dad yang panik bergegas menolong putrinya tersebut pun tidak sadar bahwa Angeline tidak sengaja menyentuh lehernya.

“HH!!” Angeline terkejut.

“SIAPA KAMU?” Teriak Angeline setelah menyadari bahwa Bibi Zaha atau pun Ms. Angbin tentu saja tidak memiliki jakun seperti laki-laki.

“SIAPA KAMU?”

“KATAKAN!”

“Angeline,” Ucap Dad dengan suara bergetar.

“Dad?”

“Honey,”

“PERGI! TINGGALKAN AKU SENDIRI! PERGI! PERGI!” Tanpa ada yang menginginkannya, cairan bening pertanda kerinduan pun mengalir begitu saja dari pelupuk mata Angeline, hanya saja ia tidak mau mengakuinya.

“PERGI!!!”

“Baik sayang, Dad akan pergi. Hhhffttttt.” Setelah menghela nafas yang terasa sangat berat terlebih setelah mendapati Angeline yang berteriak bercucuran air mata tersebut, Dad pun memutuskan untuk meninggalkan apartemen Angeline.

***

Malam itu, adalah puncak keterpurukan Angeline setelah dirinya mengalami kebutaan. Gadis itu menangis sejadi-jadinya di dalam kamar dan tidak mengizinkan seorang pun untuk menemuinya.

“Aku benci diri ku sendiri! AKU BENCI! AKU BENCI DIRI KU SENDIRI DAN AKU TIDAK PERNAH MEMBENCI DAD!” Angeline telah mengetahui semuanya dari Bibi Zaha, bahwa yang mengurus dirinya selama ini adalah Dad, dan itu semua menjadikan Angeline seperti ingin mengutuk dirinya sendiri malam ini.

“Besok adalah hari ulang tahun Dad, dan aku sama sekali tidak bisa memberikan apa-apa untuknya! Aku adalah anak yang tidak berguna! Aku benci!” Angeline menghempaskan tangannya berkali-kali di atas meja belajar. Mencoret lembar sketchbook A3 dengan sangat sembarangan.

“Bahkan membuatkan doodle untuk Dad pun aku tidak pernah,” Tutupnya lemah, terkulai, lalu pingsan.

Selang beberapa detik..

Keadaannya berubah. Ruang itu sudah tidak lagi sama. Hamparan bintang kemerahan mulai muncul dari lembar sketchbook Angeline. Sesekali hamparan tersebut mengudara dengan sangat tinggi.

“Bukankah kita adalah sahabat-sahabatnya Angeline?” Ucap sosok menyerupai batangan cokelat berwarna Putih. Ya! Itu adalah Cochova. Benar! Mereka benar-benar hidup.

“Aku sudah tertidur seberapa lama teman?” Tanya Glumbul mengucek matanya pelan.

“Sembilan tahun sayaaaaanggg, kamu sudah bermimpi selama sembilan tahun,” Sahut Lolora sembari meluruskan pita rambutnya.

“Aku rasa, kita harus melakukan sesuatu untuk Angeline. Seperti yang dikatakan oleh Cochova bahwa kita sudah bersahabat lama sekali dengan gadis itu,” Sela Bebrela segera.

“Baiklah, aku setuju! Lalu apa yang harus kita lakukan?” Tanya Lolora.

“Hmm, sebenarnya aku ingin membantu Angeline membuatkan doodle di hari ulang tahun Dad,” Ucap Bebrela.

“Caranya?”

“Karena saat ini Angeline tidak bisa melihat, ditambah lagi kondisi jiwanya yang tidak stabil, aku rasa kita harus bekerja sedikit lebih keras.”

“Kalau begitu, kita semua ikut ide kamu!” Cetus Cochova yang tidak mau berlama-lama.

“Kita harus bekerja sama membuat doodle ucapan selamat ulang tahun untuk Dad!”

“I know, tapi aku tidak mau menjadi ikon yang jelek, atau pun konyol!” Sela Lolora yang selama ini memang selalu mendapatkan ikon yang cantik dan menarik seperti Bibir Merah, Mawar Merah, dan yang lainnya oleh Angeline.

“Kamu tenang saja. Aku mau kamu membentuk segelas Red wine dan hamparan bunga di musim semi.” Bebrela memberi instruksi.

“Ok!”

“Sebagai leader, aku akan membentuk ikon yang paling besar, mungkin seperti topi pesulap, atau topi sirkus, ya sejenisnya,” Tambahnya lagi.

“Cochova, kamu harus berubah membentuk emoticon bertopi kerucut yang menggemaskan.”

“Aku mengerti!”

“Dan berhubung selama ini kamu selalu mengalah sehingga tidak pernah membentuk tulisan, kali ini giliran kamu yang membentuk tulisan.”

“Happy birthday Daddy?”

“Hm.” Bebrela mengangguk.

“Glumbul, kamu harus membentuk ikon berbagai macam kartun yang lucu untuk memeriahkan ulang tahun Dad.”

“Mana mungkin, aku kan sosok yang selalu berwajah sedih.” Glumbul keberatan, ia merasa tidak mau merusak karya teman-temannya dengan bersedih di lembar ucapan selamat ulang tahun untuk Dad.

“Ayolah Glumbul, ini semua demi Angeline!” Lolora sewot.

“Ayolah Glumbul, kamu bisa!” Tegas Bebrela.

“Kamu tidak usah khawatir, kita akan melakukannya bersama-sama. Aku, Lolora dan Bebrela akan membantu kamu agar ikut bahagia di hari ulang tahun Dad.” Seperti biasanya, Cochova paling mahir dalam menenangkan mereka.

“Hhhfftttt, baiklah.”

“Kalau begitu, mari kita lakukan, demi Angeline.” Bebrela mengulurkan tangan.

“DEMI ANGELINE!” Sahut Cochova, Lolora dan Glumbul menggenggam tangan Bebrela.

Maka dalam hitungan detik, mereka pun kembali menghamparkan bintang kemerahan. Berlalu lalang melintasi satu sama lain. Menari-nari dengan senang hati. Berbagi kebahagian, dan berbagi kekuatan dalam satu tekad, demi Angeline. Sahabat kecil mereka.

“O’ooww, teman-teman, apakah kertasnya kali ini terlalu kecil?” Cochova merasa kesakitan saat memuat tulisan Happy birthday Daddy pada permukaan kertas.

“O’oowww,” Susul Lolora.

“Hmm, kalau begitu, kamu membentuk tulisan Happy birth dad saja, bagaimana?” Susul Glumbul tiba-tiba.

“Wwaaahhaaaa?” Cochova, Lolora dan Bebrela pun saling berpandangan sebelum akhirnya memeluk Glumbul dan berteriak,

“Kami semua sayang Glumbullllllll.”

“Hahahahaaa, terimakasih.” Glumbul berhasil tertawa lepas, sama sekali tidak ada raut kesedihan dari dirinya.

Tepat pada pukul 12 malam waktu Canada, kerja keras mereka membuahkan hasil. Semua berjalan sempurna persis seperti yang direncanakan.

***

Angeline terbangun saat seseorang menyibak tirai kamarnya. Entah kenapa, gadis itu merasa ada energy positif yang merajai ruang berukuran empat kali empat meter tersebut.

“Dad?” Sapa Angeline.

“Angeline, kamu sudah bangun?”

“Bibi? Oh, maaf. Aku pikir Dad.”

“Kamu mau mandi atau langsung sarapan?”

“Aku mau mandi dulu Bi, tolong siapkan air panas ya? Sepertinya hari ini, hari ini, aku akan berkunjung ke rumah Dad.” Tanpa sadar, Angeline menabrak pensil di atas mejanya. Lehernya sedikit pegal karena tertidur di atas meja belajar.

“Biar Bibi yang ambilkan pensilnya, Angelineeeeeeee??” Ucap Bibi Zaha yang terdengar histeris.

“Kenapa Bi? Ada apa? Aku menginjak apa Bi?”

“Ti.. Ti.. Tidak! Bukan-bukan! Ucapan selamat ulang tahun ini, kamu kah yang membuatnya?”

“Ucapan selama ulang tahun? Untuk Dad? Tolong jelaskan pada ku Bi, seperti apa? Seperti apa gambarnya? Tulisannya?”

“Ehm,” Bibi Zaha pun menggambarkan apa yang dilihatnya dalam bentuk kata-kata.

“Sekarang Bibi percaya aku kan? Bahwa Cochova, Lolora, Bebrela dan Glumbul itu benar-benar hidup? Bibi percaya aku kan?”

“Benarkah? Angeline, selama ini kamu tidak mengada-ada.” Bibi Zaha pun memeluk Angeline.

“Ayo Bi, bantu aku bersiap-siap, kita harus memberikan ucapan selama ulang tahun ini pada Dad. Aku rasa, sahabat-sahabat ku juga sedang menyuruh aku untuk berdamai dengan Dad. Makanya mereka membantu aku membuat ucapan selamat ulang tahun ini.” Lagi-lagi cairan bening itu menetes begitu saja. Angeline mendekap erat ucapan selama ulang tahun tersebut.

“Terimakasih teman-teman. Sekali lagi terimakasih, aku sangat sayang pada kalian semua.”

***

“Aku minta maaf Dad, aku benar-benar minta maaf. Aku sama sekali tidak bisa membenci Dad, semua ini aku lakukan hanya karena aku tidak siap ditinggal selamanya oleh Mom dan juga aku tidak siap untuk hidup dalam kemiskinan. Hanya saja, sekali pun aku telah tinggal di apartemen yang mewah, aku sama sekali tidak merasakan bahagia. Aku justru merasa sangat-sangat kesepian dan mengutuk diri ku di setiap malam.”

“Dady sudah memaaf kan kamu sayang. Bahkan Dady tidak pernah marah atau pun membenci kamu. Dady mengerti apa yang kamu rasakan Angeline, sangat-sangat mengerti.”

“Terimakasih Dad, oh iya satu lagi, sekarang Dad percayakan bahwa Cochova, Lolora, Bebrela dan Glumbul itu benar-benar ada?”

“Ha?” Dad terkejut, dahinya seketika berkerut memandangi doodle bertuliskan Happy birth dad tersebut.

“Hahaa, iya sayang. Dad percaya!” Dad mengulas tawa saat sosok Bebrela yang membentuk topi pesulap pada lembar sketchbook berukuran A3 itu mengerdipkan sebelah matanya.

“Dad percaya sayang!” Dad pun memeluk Angeline, menumpahkan segala rasa rindu yang selama ini belum tersampaikan.