1. Dul Gemblong dan Mat Jepret Sebelum Pilpres

"01"
"02"
"Saya pilih 01!"
"Saya pilih 02!"
"01 ke Kampung Melayu."
"02 ke Kota."
"Pokoknya 01!"
"Pokoknya 02!"
"Lho!"
"Kenapa lho? 

Dul Gemblong menarik nafas. Mat Jepret mengikutinya.

"01 sudah banyak berbuat! 02 belum punya bukti!"
"Wajarlah Blong! Capres petahana berkuasa. Presiden nggak boleh nganggur. Harus giat mbangun ini mbangun itu. Anggarannya kan ada. Tapi utang luar negerinya juga nggak ketulungan."
"Ah, itu hoaks!"
"Bukannya kamu yang suka menebar hoaks? Banyak janji yang belum ditepati. Banyak rencana yang belum terlaksana."  

“Hoaks bagaimana? Presiden kok buat coba-coba! Jalan masih panjang, Blong! Dua periode baru akan terlaksana lebih dari lima puluh persen. Jadi harus menang lagi untuk periode yang kedua,, tho!

 “Nggak bisa!  Pokoknya 02 harus menang!”

Mat Jepret tersinggung. Emosinya melambung. Ia memegang leher baju Dul Gemblong. Dul Gemblong menepis. Kali ini Dul Gemblong melayangkan tinjunya ke perut Mat Jepret. Mat Jepret kesakitan. Akan tetapi,  dengan  cepat Mat Jepret membalasnya. Tiinju Mat Jepet tepat mengenai dada Sul Gemblong. 

Ketika Dul Gemblong dan Mat Jepret sedng  adu mulut dan adu jotos, melintas Pak RT di  depan pos ronda tempat mereka berselisih  pendapat. Pak RT mendekati mereka. Tanpa basa-basi Pak RT berbicara lantang.

“Kenapa kalian berselisih pendapat soal pilpres hingga kalian saling jotos!. Mau memilih 01 atau 02 itu hak kalian. Luber. Langsung, umum, bebas, dan rahasia. Yang menjadi pemenangnya nanti 01 atau 02 itu harus kita terima dengan legowo. Apalagi kalian kan masih bersaudara. Jangan terpengaruh oleh hoaks yang merebak di Facebook atau WA! Kalian tak perlu cekcok seperti itu!”

 Dul Gemblong dan Mat Jepret mendengarkan nasihat Pak RT Mreka saling menatap dengan sorot mata yang kian melemah. Pak RT kemudian melanjutkan bicaranya.

 “Jangan dilanjutkan bertikai! Stop! Itu tak perlu! Ayo, sekarang kalian saling berpelukan! Ayo saling memaafkan! Pilpres itu bukan bogem mentah!”

Dul Gemblong dan Mat Jepret mematuhi nasihat Pak RT. Mereka saling memaafkan, kemudian saling berpelukan

.2. Dul Gemblong dan Mat Jepret Ketika Pilpres

Ketiika Pilpres berlansung, Dul Gemblong dan Mat Jepret satu Tempat Pemungutan Suara (TPS). Mereka bersalaman saat berjumpa. Setelah saling menanyakan kesehatan masing-masing, mereka menyerahkan surat undangan dari Kelompok Petugas Pemungutan Suara (KPPS). Nomor panggilan mencoblos mereka berurutan.

"Uber Mat>"

"Luber Dul, bukan uber!"

Setelah mereka mencoblos surat suara, mereka pun meninggalkan TPS. Mereka juga tidak menunggu hingga waktu penghitungan suara dimulai. Mungkin mereka lelah.

3. Dul Gemblong dan Met Jepret Setelah Pilpres

Pemilu Pilpres sudah berlalu. Hiruk-pikuk 17 April 2019 warga negara Indonesia menjelang dan pada saat Pilpres telah berakhir. Telah mereka lunaskan isi hatinya di bilik suara. Pemenangnya pun sudah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Seorang kandidat presiden telah mengakui kekalahannya dan memberikan ucapan selamat kepada kandidat presiden sang pemenang.

Tidak lama lagi sang pemenang akan dilantik menjadi presiden negeri ini. Angin bulan Oktober yang kering  akan menjadi saksi bisu. Orang-orang sudah kembali tenggelam dalam kesibukannya masing-masing. 

Suatu ketika, menjelang petang, Dul Gemblong bertemu Mat Jepret di gang dekat pos ronda. Dul Gemblong menyalami Mat Jepret. 

"Hampir setengah tahun setelah pilpres tempo hari, nasib kita tidak berubah, Blong," kata Mat Jepret membuka percakapan.

"Oh, nggak tahu ya. Barangkali nanti setelah dilantik nasib kita akan lebih baik,: Dul Gemblong membalasnya.

"Belum dilantik menjadi presiden aja, apa-apa sudah naik. BPJS naik iurannya. Tarif listrik naik. Harga cabai pun ikut naik. Hidup terasa pedas kalau begini jadinya," kata Mat Jepret.

"Itu tidak naik kok. Cuma disesuaikan," balas Dul Gemblong.

"Aduh, sama saja itu Dul! Lagi pula, elum dilantik menjadi presiden, sudah bikin heboh soal RUU KPK dan RUU KUHP.," Mat Jepret menimpali. 

"Kamu sok tahu, Mat."

"Lho! Kalau KPK menangkap penjahat koruptor mosok harus minta izin dulu. Keburu bocor itu operasi tangkap tangannya. Koruptor kan bisa melarikan diri dan menghilangkan barang bukti. Waduh, sontoloyo banget ini penggagas RUU KPK."

"Eh, Mat ... kalau nggak begitu hotel prodeo di Guntur, Sukamiskin, Rutan Salemba, atau di LP Cipinnang, akan sepi penghuni terpidana koruptor dong."

"Jadi kamu setuju Dul kalau RUU KPK jangan disahkan dulu oleh presiden?"

"Iya setuju deh, Mat. Para koruptor itu secara tidak langsung membuat hidup kita ini menjadi makin susah."

"Eh, Mat! Soal RUU KUHP yang mana sih pasalnya yang kelihatan ngasal?"

"Yang saya denger-denger sih banyak. Cuma yang saya ingat itu tuh soal hewan peliharaan. Mungkin nanti saya nggek akan miara ayam kate lagi. Kalau ayam atau hewan peliharaan kita merusak  tanaman orang lain, kita bisa dipidanakan."

"Waduh! Cilaka wutut!" Eh, ngomong-ngomong bagaimana nasib kita ke depan?"

"Hidup makin susah! Mencari nafkah tak seperti dulu. Sepi pembeli. Saya sebagai penjual sekoteng merasakan betul. "

"Saya sebagai penjual es dawet pun mengalami seperti yang kamu alami. Nilai duit juga tak ada artinya.  Bagaimana kita harus mengencangkan ikat pinggang kalau pinggangnya sakit rematik?"

Pembicaraan Dul Gemblong dan Mat Jepret berakhir karena suara azan maghrib berkumandang. Mereka melangkah ke rumah masing-masing , bersiap-siap hendak menunaikan ibadah shalat maghrib.

Cibinong, 8 Oktober 2019