Amerika memilih. Pertanyaan itu tentu muncul ketika kita menyaksikan penghitungan suara Pilpres AS beberapa hari lalu. Trump saat ini sudah mengamankan 276 electoral votes (data terakhir pukul 14.37 WIB). Hanya perlu 270 electoral votes untuk memenangkan Pilpres.

Mayoritas orang meyakini bahwa Hillary akan menang. Sebab, kebanyakan hasil survei yang dilakukan sebelum Pilpres AS digelar menyatakan bahwa Hillary. Alhasil, dewa fortuna berkata lain dengan menyatakan Donald Trumpt jadi jawara dalam merebukut kursi nomor satu negara adidaya tersebut.

Menurut saya, ada beberapa indikator yang perlu kita telaah bersama, Donald Trump terpilih jadi Presiden U.S dan konsekuensi bagi Indonesia antara lain:

1. Masalah imigran gelap. Indonesia salah satu negara yang memiliki cukup banyak imigran gelap yang tersebar di seluruh negara bagian amerika data terakhir (15.000 org). Hal ini akan berdampak pada warga Indonesia yang siap dideportasi.

2. Pertumbuhan ekonomi. Fokus Donald Trump untuk membangun ekonomi dalam negeri dan mengabaikan ekonomi China misalnya, maka akan sangat buruk terhadap Indonesia.

3. Pengaruh ini tidak saja soal politik luar negeri tapi juga soal kebijakan ekonomi Amerika terhadap Indonesia. Persaingan antara Donald dan Hillary memang sangat ketat dan itu dibuktikan dengan hasil survei beberapa lembaga survei di AS.

Dinamika politik AS juga mengalami perubahan khususnya, pemilih Muslim yang hampir 70 persen lebih memilih Hilary ketimbang Donald Trump tentu kondisi ini tidak terlepas dari rasa ketidaksukaan kalangan Muslim AS terhadap sosok Donald yang banyak menyinggung rasisisme saat kampanye. Dan terbukti sekitar 1 persen pemilih Muslim Amerika memilih Trump.

4. Hillary sosok calon yang memiliki kemampauan politik luar negeri apalagi dia mantan Menlu AS yang telah banyak melakukan kerja sama dengan negara-negara di Asia termasuk Indonesia dalam banyak hal. Jika Hillary menang, maka hubungan AS dengan Indonesia tetap terjalin dengan baik apalagi Hillary paling mengerti dengan Asia termasuk indonesia. Tetapi, apa daya sudah bisa dilihat Trumpt terpilih orang nomor satu negara adi daya tersebut

5. Kalau Hillary menang maka, kebijakan-kebijakan luar negeri AS terutama dengan Indonesia yang telah dirintis Obama akan terus berjalan mengingat Hillary bagian dari Obama sendiri, tetapi karena Donald Trump menang tentunya banyak kebijakan luar negeri yang terputus.

Donald Trump dengan tegas akan menaikan bea masuk barang-barang impor seperti inpor dari China tentu pengaruh terhadap Indonedia dimana indonesia sudah kerja sama dengan China sebagai mitra perdagangan.

Jika Hillary menang, banyak keuntungan bagi negara lain di dunia, termasuk Indonesia karena Hillary tetap konsen dengan kebijakan luar negerinya dibanding Donald Trumpt yang lebih menekankan pada kebijakan dalam negeri AS seperti yang dia sampaikan berulang kali saat kampanye.

Namun, kita tetap percaya Indonesia perlu optimis dalam melihat peluang peningkatan hubungan dengan AS di bawah presiden terpilih. Kita percaya keduanya Indonsia tetap memiliki posisi menguntungkan di mata kedua kandidat. Hillary yang didukung Demokrat lebih konsen dengan masalah Hak Asasi Manusia, sementara Donald Trumpt dari Republik lebih konsen dengan masalah terorisme.

Untuk mempertajam analisis saya ini, alangkah baiknya kita bisa menganalisis lebih dalam, dunia tercengang saat Donald Trump terpilih jadi presiden Amerika Serikat, dan pengaruh terhadap dunia, Asia dan Indonesia khususnya .

Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS dinilai berdampak pada situasi keamanan dan politik dunia.
Kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden Amerika Serikat merupakan salah satu 10 risiko tertinggi yang dihadapi dunia, menurut kajian the Economist Intelligence Unit (EIU).

Divisi riset dan analisa majalah the Economist itu memperingatkan bahwa keberadaan Trump pada kursi presiden AS bisa berdampak pada situasi keamanan dan politik dunia. Pada skala risiko 1 hingga 25, naiknya Trump sebagai presiden AS dikategorikan 12. Berdasarkan angka tersebut, Trump menduduki peringkat enam dalam 10 risiko tertinggi.

Persis di bawah Trump, juga dengan angka risiko 12, adalah peningkatan ancaman terorisme jihadi yang menggoyang stabilitas ekonomi dunia. Trump klaim pendukungnya akan merusuh jika dia gagal jadi kandidat presiden. Trump batalkan kampanye menyusul bentrokan di Chicago dan Donald Trump minta kaum muslim dilarang masuk AS.

Bahkan, potensi duduknya Trump di kursi nomor satu AS dinilai lebih berisiko dari hengkangnya Inggris dari Uni Eropa (peringkat delapan), bentrokan di Laut Cina Selatan akibat ekspansionisme Cina (peringkat sembilan), dan kenaikan harga minyak bumi akibat ambruknya investasi di sektor perminyakan (peringkat 10).

“Secara khusus dia menunjukkan sikap bermusuhan terhadap perdagangan bebas, terutama kawasan perdagangan bebas Amerika Utara (Nafta). Dia juga berulang kali mencap Cina sebagai ‘manipulator mata uang’.

Trump juga telah menyerukan pendirian “tembok besar” di sepanjang perbatasan AS-Meksiko, yang didanai Meksiko, demi membendung arus imigran tak berdokumen resmi dan penyalur narkotika ke wilayah AS. Trump juga telah menyerukan pembangunan “tembok besar” di sepanjang perbatasan AS-Meksiko, yang didanai Meksiko, demi membendung arus imigran tak berdokumen resmi dan penyalur narkotika ke wilayah AS.

Dalam rangkaian kampanyenya, Trump menghendaki semua keluarga teroris dibunuh. Dia pun ingin menginvasi Suriah guna membasmi kelompok ISIS dan merebut minyak di sana.

“Tendensi militeristiknya terhadap Timur Tengah dan seruan pelarangan terhadap umat Muslim ke AS akan menjadi alat perekrutan yang potensial bagi kelompok-kelompok jihadi sehingga meningkatkan ancaman baik di kawasan (Timur Tengah) dan lainnya.

Pada daftar peringkat risiko tersebut, kejadian yang dinilai bakal menghadirkan risiko paling tinggi adalah krisis ekonomi di Cina. Insiden tersebut masuk kategori 20 dari skala 1-25. Krisis ekonomi Cina dipandang sebagai risiko terbesar dunia, menurut the Economist Intelligence Unit.

Daftar peringkat risiko bagi dunia (skala 1-25)

  • Cina mengalami krisis ekonomi. (20)
  • Intervensi Rusia di Ukraina dan Suriah memulai terjadinya ‘perang dingin’ yang baru. (16)
  • Volatilitas mata uang yang berpuncak pada pasar suatu krisis utang korporat di pasar yang berkembang pesat. (16)
  • Terguncang akibat tekanan internal dan eksternal, Uni Eropa mulai retak. (15)
  • Hengkangnya Yunani dari Uni Eropa disusul dengan terpecahnya zona mata uang euro. (15)
  • Donald Trump memenangi pemilihan presiden AS. (12)
  • Peningkatan ancaman terorisme jihadi yang menggoyang stabilitas ekonomi dunia. (12)
  • Hengkangnya Inggris dari Uni Eropa. (8)
  • Bentrokan di Laut Cina Selatan akibat ekspansionisme Cina. (8)
  • Kenaikan harga minyak bumi akibat ambruknya investasi di sektor perminyakan.

Selain Nate Silver dan Helmut Norpoth, ada pula Allan Lichtman yang mengembangkan sistem 13 kunci menuju Gedung Putih sejak 30 tahun silam. Lichtman memprediksi bahwa Trump akan unggul dalam Pilpres AS tahun 2016. Hal itu tidak didasarkan pada hasil jajak pendapat, pergeseran demografis maupun opini pribadinya. Sistem 13 kunci merupakan serangkaian variabel yang bisa menunjukkan apakah kepresidenan akan berganti partai atau tidak.

Menurut Lichtman, Pilpres Amerika pada dasarnya merupakan putusan atas performa partai yang saat ini menduduki Gedung Putih. Maka dari pendapat ini, baik debat maupun kampanye tidak akan berpengaruh signifikan terhadap hasil Pilpres.

Menariknya, beberapa hari lalu, Kongres AS melalui voting menolak veto Presiden Obama dalam Rancangan Undang-Undang Keadilan Melawan Pendukung Terorisme (Justice Against Sponsors of Terrorism Act/JASTA). Hal ini berarti, Kongres AS menyetujui RUU JASTA yang memungkinkan tuntutan sebagai hukuman bagi negara yang mendukung terorisme di wilayah AS seperti Arab Saudi dalam kasus 9/11.

Keputusan Kongres AS dalam RUU JASTA ini, nampaknya bisa memverifikasi prediksi dari Lichtman, bahwa performa partai berkuasa saat ini tidak memuaskan banyak pihak dan orang-orang mulai menginginkan perubahan.

Unggulnya Trump dalam prediksi Norpoth dan Lichtman, mesti kita jadikan bekal untuk memperkirakan hasil Pilpres AS pada tanggal 8 November kemarin, sebab dengan begitu, sebagai negara yang punya banyak kaitan dengan AS, kita bisa menyiapkan diri, menghadapi pergantian kekuasaan di Amerika beserta perubahan-perubahan kebijakan yang muncul setelahnya.