Ketika Indonesia tengah bersemangat menyebar buku-buku cetak menuju segala penjuru daerah Nusantara, mengangkut eksemplar buku-buku dengan perahu, vespa, gerobak sampah, kuda, angkot, dan sepeda, impian berbuku diejek dengan telak oleh gaya literasi digital ala perkotaan yang hampir diamini oleh pengasuhan modern. Kita baru saja mendapati misi suci Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyebarkan 10 ribu buku (cetak) menuju daerah-daerah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T) dalam rangka Hari Buku Nasional 2017 meski masih dalam alasan kejam bahwa peringkat membaca Indonesia amat jemblok: 64 dari 70 negara (Media Indonesia, 18 Mei 2017). Kita abaikan saja peringkat buruk ini dan membiarkannya menjadi urusan duta baca atau pejabat panikan di Jakarta sana.

Dengan niatan suci meningkatkan daya literasi nasional, pemerintah pemangku kebijakan pendidikan atau para relawan patriotik buku tentu tidak akan nekat memasok gawai, menyambung kabel-kabel, atau memastikan ada jaringan internet. Meski literasi bergawai dianggap mudah, cepat, efektif, efisien, dan konon juga murah, toh akhirnya akan mati juga saat kehabisan energi atau sambungan listrik mampet. Rasanya tidak seru kalau harus gagal baca buku gara-gara putus listrik atau energi gawai habis.

Dan, gaya literasi digital yang mengejek tubuh lelah pemanggul buku-buku tentu melakukan diskriminasi secara geografis. Buku digital dengan segala perangkat hanya memungkinkan diakses oleh orang-orang di perkotaan dengan kebutuhan membaca atau sekadar mencari dengan cepat lewat kemapanan jaringan. Sehari setelah peringatan Hari Buku Nasional 17 Mei 2017, majalah Bobo (18 Mei 2017) terbit dengan tema “Mengenal Buku Digital”. Majalah memuat profil singkat Sulasmo, pencipta aplikasi perpustakaan digital dan penjelasan dua halaman seputar buku digital. Selain godaan fitur pencari yang cepat, dengan enteng dikatakan, “…buku digital hasil pindaian, umumnya akan terlihat sama seperti buku versi cetaknya. Bedanya hanya pada medianya.”

Ah, kita barangkali tidak pernah mempermasalahkan “tipuan” buku digital yang hampir amat mirip dengan buku cetak biasa. Rupa buku elektronik pada umumnya terlihat sama. Namun, kita tetap tidak bisa mengatakan bahwa saat sedang memegang buku elektronik, kita memang sedang memegang buku. Apalagi mendapati gawai berisi banyak aplikasi, anak-anak pun tidak bisa menjamin dirinya sendiri membaca dengan tekun nan khidmat. Godaan segera beralih menuju aplikasi hiburan lain bisa berlaku dalam sekali klik. Tentu, buku bergawai bukan benda yang pantas dinikmati di wilayah terpinggir, tapi dinikmati sembari duduk manis di sofa atau rebahan berkualitas di kasur malas. Terlalu dini, anak dibuat mengabaikan kertas-kertas yang bercerita.

Turut Berlelah

Buku elektronik dalam formatnya paling canggih dan mirip buku sekalipun, tidak akan repot mencipta seutas ikatan personal raga tubuh (pembaca) dan raga buku. Ikatan personal membuku dialami oleh Meggie, bocah 10 tahun dalam novel anak apik Tintenherz (2009) garapan Cornelia Funke. Meggie memiliki bapak seorang restorator buku yang mengajari mencintai buku sebagai ekspresi kecil di keseharian. Salah satu emosionalitas tercipta dalam hal ruang. Sejak belia, Meggie memiliki hak atas buku-buku; membaca, menyimpan, menempatkan, dan termasuk menentukan buku apa yang akan turut dirinya bepergian.

Ada sebuah kota kecil yang menjadi ruang tidak terpisahkan diri dari buku-buku. Diceritakan, “Di tutup kotak itu, Mo menuliskan Kotak Harta Karun Meggie dengan huruf luar biasa indah yang saling mengait. Bagian dalamnya dilapisi Mo dengan kain tafeta hitam halus yang mengilap. Tetapi bahan pelapis ini hampir tidak terlihat lagi karena Meggie punya banyak sekali buku favorit. Dan selalu saja ada buku yang ditambahkan ke kotak itu untuk dibawa dalam perjalanan baru, ke tempat-tempat baru lain.” Pengalaman memiliki menjadi ingatan romantis berbuku. Puitis itu bukan file-file yang bisa digeser dalam sekali sentuhan elektronik.

Saat saya dan 3 esais Bilik Literasi Solo bersama tim PPPA Darul Quran Jogja melakukan perjalanan ke Desa Rukem, Purworejo, pada 17 Mei 2017 untuk menulis bersama anak-anak bukit, tidak mungkin kami mengganti buku-buku bacaan sebagai hadiah dengan ebook-ebook yang tentu tidak akan membebani. Perjalanan mengarungi belokan-tanjakan-turunan “derita” membelah Bukit Menoreh, tidak hanya membuat tubuh mual, berkeringat, dan pusing. Buku-buku bacaan yang menantikan diri bertemu anak-anak juga turut berlelah, berkeringat, dan tabah dalam tas. Mereka akan segera disentuh oleh tangan-tangan mungil penggandrung cerita.

Tentu, saya dan teman-teman tidak sedang dalam misi agung layaknya Kemdikbud mengantarkan buku-buku ke pelosok. Peristiwa ini sekadar dolan menemui anak-anak yang selalu memiliki tabungan kebahagiaan membaca-menulis yang tidak lekas redup. Selama acara, saya dan teman-teman tentu tidak memamerkan buku elektronik yang bisa bersuara otomatis. Saya lebih merasa terhormat menggunakan mulut bercerita dan disimak anak-anak dengan telinga lugunya. Buku-buku bacaan hadiah pun berjajar di karpet mushola dan dinantikan dengan penuh debar. Sumringah anak-anak menyentuh, mengagumi, membuka, dan bahkan hanya melihat buku-buku “beneran cetak”. Kertas-kertas meninggalkan janji untuk mencintai membaca. Masih ada kertas untuk mengobati segala duka lelah dan patah hati sering kekurangan buku.