Jumat, 20 Desember 2019, santri dan pengurus pondok pesantren waria, berjumlah 40 orang, melakukan kegiatan kunjungan silaturahmi ke tokoh agama, yaitu ke kediaman KH. Musthafa Bisri atau yang biasa dipanggil dengan nama Gus Mus di pondok pesantren Raudlatut Thalibin, Desa Leteh, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Tujuan silaturahmi kepada tokoh agama adalah untuk menjalin silaturahmi dan menambah saudara. Kemudian untuk mendengar tausiah dari Gus Mus sebagai orang yang dianggap memiliki pengaruh bagi masyarakat muslim mayoritas di Indonesia.

Di samping itu, tujuan silaturahmi ke Gus Mus adalah untuk ikut serta mengikuti pengajian yang biasa dilakukan Gus Mus bersama warga masyarakat di setiap jumat pagi di kediamannya.

Keikut-sertaan menjadi jemaah pengajian Gus Mus, karena tausiah (ceramah) Gus Mus dikenal oleh publik dengan tausiyah yang menenteramkan hati, menyejukkan, dan tanpa menghakimi. 

Pengajian di pesantren Gus Mus dilaksanakan pada jam 08.30-09.30 WIB setiap Jumat dengan jumlah jemaah pengajian “mungkin” mencapai 1000 orang atau lebih, baik laki-laki maupun perempuan dari berbagai kalangan, mulai orang tua hingga anak muda.

Tulisan ini merupakan catatan selama mengikuti pengajian bersama Gus Mus dan catatan tausiyah ketika Gus Mus bertemu dengan kawan-kawan santri pesantren waria.

Manusia Selalu Merasa Benar, yang Lain Disalahkan

Dengan menggunakan penjelasan berbahasa Jawa, pengajian bersama Gus Mus menggunakan Kitab tafsir Al-Ibriiz karya Gus Mus, yaitu pada QS. Al-Baqarah ayat 204 yang artinya;

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.”

Dari ayat tersebut, Gus Mus memulai dengan menjelaskan bahwa istilah kafir itu ada dua jenis. Pertama, kafir yang percaya kepada Tuhan tetapi menyembah kepada yang lain. Seperti mengejar jabatan dan kedudukan hingga melakukan korupsi, bekerja untuk mencari uang hingga melalaikan kehidupan akhirat, dan bentuk-bentuk pemujaan lainnya selain kepada Allah.

Kedua, kafir yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Kata Gus Mus, kafir yang demikian dapat dengan mudah ditemui di sekitaran kita. Contohnya adalah orang yang dengan mudah “menuduh” atau memberikan label atau cap kepada orang lain dengan “munafik”. Padahal, menurut Gus Mus, orang munafik itu tidak bisa dilihat dengan kasat mata.

Baca Juga: Islam dan Waria

Gus Mus juga menjelaskan bahwa zaman sekarang kerusakan terjadi di mana-mana. Kerusakan tersebut tidak hanya berbentuk kerusakan fisik, seperti jalan aspal yang rusak atau bangunan yang terkena bencana alam, tetapi kerusakan yang lebih parah adalah kerusakan mental.

Kerusakan mental dapat dilihat pada banyaknya para pejabat atau calon anggota dewan atau calon kepala desa yang melakukan pencitraan ketika mencalonkan. Tetapi ketika amanah diemban, ia melakukan korupsi di mana-mana, sampai pada korupsi pembangunan jalan umum.

Menurut Gus Mus, korupsi bagi sebagian orang memang sebuah bentuk kenikmatan. Tetapi  sebenarnya kenikmatan tersebut adalah kenikmatan yang menyesatkan karena mencuri uang rakyat yang seharusnya untuk rakyat tetapi untuk pribadi.

Gus Mus melihat bahwa tidak sedikit orang membangun rumah mewah lebih dari satu bukan untuk kebutuhan, melainkan karena gengsi atau investasi yang bertujuan duniawi semata. Sehingga melalaikan kehidupan akhirat, padahal uang pembangunan rumah mewah bersumber dari jalan yang tidak halal seperti korupsi.

Korupsi menjadi persoalan yang tidak akan kunjung selesai, karena setiap koruptor makin berkeinginan untuk terus mencari cara bagaimana agar perbuatannya tidak terjerat hukum. Karena setan akan terus menggoda manusia untuk selalu berada di jalan yang sesat. Orang yang demikian inilah yang dibodohi oleh setan dan termakan oleh kepentingan dunia.

Meskipun koruptor dijerat dengan berbagai pasal yang menunjukkan bahwa perbuatannya salah, tetapi orang tersebut tidak mengakui bahwa perbuatannya adalah bentuk kesalahan besar.

Pada konteks yang lebih besar, menurut Gus Mus, zaman sekarang banyak manusia yang tidak mengakui dirinya bersalah, bahkan berlomba-lomba mencitrakan dirinya sebagai orang yang benar dan anti-kesalahan, anti-dosa, dan anti-maksiat.

Sehingga orang-orang yang merasa benar tersebut mewartakan kepada orang lain yang dianggap dirinya salah sebagai sesat dan kafir.

Anggapan bahwa hanya dirinya benar dan orang lain salah inilah yang disebut oleh Gus Mus sebagai orang-orang yang tidak sabar, cepat marah, dan menang sendiri.

Hanya Allah yang Berhak Menilai Manusia Salah & Benar 

Selesai mendengarkan pengajian, jemaah pengajian mulai bersalaman ke Gus Mus, dan jemaah yang lain mulai pulang meninggalkan pesantren Raudlatut Thalibin.

Rombongan dari pesantren waria tetap berada di posisi di ruang utama kediaman Gus Mus. Beberapa menit kemudian, Gus Mus datang menghampiri rombongan santri pesantren waria dengan senyum dan sapa.

Setelah Gus Mus bertanya, kapan datang dan berapa jumlah rombongan, kemudian Gus Mus memberikan tausiah kepada santri pesantren waria.

Menurut Gus Mus, manusia adalah mahluk Allah yang diberi oleh Allah akal, hati, dan nurani. Menjadi manusia adalah nikmat, anugerah Allah, dan bentuk syukur yang tertinggi. Tetapi sayangnya banyak manusia yang menjadi manusia tidak bersyukur dirinya menjadi manusia.

Kurangnya rasa syukur kepada Allah adalah krisis yang dialami oleh manusia, karena tidak bisa memanfaatkan anugerah Allah sebaik-baiknya. Bentuk pengingkaran rasa syukur manusia kepada Allah adalah ketika manusia menyalahkan manusia lain.

Ketika ada manusia yang menyalahkan manusia lain karena perbedaan (dalam konteks ini perbedaan identitas gender dan orientasi seksual), maka manusia yang demikian tidak menggunakan nuraninya dalam melihat manusia.

Karena pada hakikatnya, nurani itu jujur karena nurani terbentuk dari cahaya. Nurani inilah milik manusia yang paling tinggi nilai kemanusiaannya.

Menurut Gus Mus, menyalahkan manusia lain karena dianggap berbeda, maka orang yang demikian inilah yang “berani” merusak Indonesia, tindakan yang demikian itu kurang benar atau kurang tepat. Karena Indonesia adalah rumah bersama.

Indonesia adalah rumah bersama disampaikan oleh Gus Mus dengan nada tinggi kepada kawan-kawan waria, dengan penjelasan bahwa semangat nasionalisme sekarang mengalami krisis (krisis nasionalisme), karena dirusak oleh kepentingan manusia lain dengan arogan dan tidak sabar.

Kami kemudian menyampaikan tentang tragedi penutupan paksa yang dilakukan oleh sekelompok manusia yang mengatasnamakan Islam oleh Front Jihad Islam (FJI), di awal tahun 2016, dengan alasan bahwa dalam Islam tidak ada istilah waria.

Menurut Gus Mus, Islam mengenal istilah “Khuntsa” (manusia dengan jenis kelamin ganda). Ketika ada sekelompok orang yang mengaku sebagai Islam, tetapi menyalahkan umat Islam yang lain, maka orang tersebut perlu dipertanyakan keislamannya.

Gus Mus melanjutkan bahwa orang Islam yang demikian inilah yang “kurang” ngaji yang mendapat pengetahuan Islam dengan cepat dan mudah melalui Internet dan Google, dan bukan melalui pencarian ilmu yang panjang ke kiai di pondok pesantren.   

Di sini saya menyimpulkan, bahwa sebenarnya Gus Mus merangkul mereka yang berbeda. Dengan arti yang lain, Gus Mus merangkul kawan-kawan waria untuk hidup bersama di bumi Indonesia.  

Doa Gus Mus untuk Waria

Di bagian akhir tausiah, Gus Mus menyampaikan bahwa pemerintah seharusnya melindungi rakyatnya. Sehingga ketika masyarakat (waria) mengalami penindasan dari sekelompok umat Islam, pemerintah hadir dan mengintervensi agar sekelompok Islam tidak melakukan pengrusakan rumah ibadah bagi waria.

Gus Mus kemudian menyampaikan bahwa akan menelepon pemerintah terkait di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dalam hal ini bupati, agar melindungi waria untuk bebas melakukan kegiatan keagamaan di pesantren waria Al-Fattah Kotagede tanpa perasaan takut.

Gus Mus kemudian menutup pertemuan silaturahmi ini dengan pembacaan doa keselamatan untuk santri waria agar kuat menjalani kehidupan dan menjadi manusia yang sabar.

Di sini saya menemukan pemahaman, bahwa pemerintah yang bertanggung jawab penuh atas perlindungan kepada masyarakat waria di Yogyakarta. Sayangnya, perlindungan dari pemerintah belum sepenuhnya terlaksana dengan baik.

NB: Terima kasih kepada Minhatul Maula yang menjadi penerjemah dari bahasa Jawa ke Bahasa Indonesia.