Semenjak meraih trofi terbaik sealam semesta (baca : trofi emas EPL), pasukan berwarna kebanggaan merah tersebut belum pernah meraih trofi bergengsi lagi selain FA dan Community Shield yang dianggap sebagian kaum sebagai trofi kaleng. Tim tersebut terakhir kali menjuarai liga inggris pada tahun 2004, terhitung 17 tahun yang lalu, umur yang cukup untuk seorang anak mendapatkan KTP.

Meskipun masih dalam genggaman Arsene WengerMereka tidak lagi meraih kejayaan yang sama seperti musim sebelum mendapatkan trofi emas, pencapaian tertinggi Le Professeur setelahnya hanya mampu meraih posisi runner – up pada musim 2015/2016. Pengabdian sejak 1996 harus berakhir pada tahun 2018, tidak ada lagi Arsene FC, sebuah guyonan dari gooners mengingat betapa lamanya Wenger melatih. Bersama Arsenal, Wenger berhasil meraih 3 trofi EPL, 7 trofi FA Cup, dan 7 trofi Community Shield.

                Secercah harapan kemudian muncul dari sosok yang berhasil membawa Sevilla hattrick UEL beruntun, Unai Emery. Unai Emery didatangkan Arsenal pada tahun 2018 setelah menjalani musim yang gemilang bersama PSG yakni berhasil meraih 6 trofi domestik. Capaian tertinggi kala menukangi Arsenal adalah membawa pulang medali perak UEL setelah kalah dari Chelsea.  Puncaknya, kegagalan Emery dalam meraih kemenangan interval Oktober – November mencoreng riwayat kepelatihannya, Emery harus merelakan dirinya ditendang manajemen. Nampaknya para gooners harus kembali bersabar dan menyimpan kembali harapan tersebut.

Cerita bersama Unai Emery resmi ditutup, Gooners harus membuka harapan baru bersama Freddie Ljungberg. Manajemen resmi menunjuk Ljunberg sebagai pelatih interim sembari manajemen mencari suksesor yang tepat untuk mengembalikan aura kejayaan Arsenal. Nahas, bukan kejayaan yang didapat, Ljungberg hanya bertahan 22 hari setelah menjalankan 6 pertandingan dengan hanya meraih 1 kemenangan, 3 hasil imbang, dan sisanya berakhir kekalahan.

Tepat sehari kemudian, Arsenal menunjuk Mikel Arteta. Arteta sendiri tidak memiliki pengalaman sebagai juru racik tim, satu – satunya hal yang bisa Arteta catatkan pada kolom pengalaman kerja adalah sebagai asisten Pep Guardiola di Manchester City.

Penunjukan tersebut memberikan sedikit angin segar bagi Gooners meskipun pada dua laga awal gagal memberikan hasil maksimal ; imbang melawan Bournemoth dan takluk kontra Chelsea. Namun, 10 laga kemudian Arteta berhasil melakukan unbeaten dimulai dari mengalahkan Manchester United 2 – 0 pada awal tahun 2020.

Lambat laun Gooners benar – benar menaruh hati pada legenda mereka, setelah Arteta berhasil menaklukan Manchester City pada semifinal Piala FA yang membuat mereka melaju ke partai final Piala FA yang mempertemukan rival sekota mereka, Chelsea.

Banyak yang sangsi jika Arteta akan berhasil menaklukan Frank Lampard, terlebih pada dua pertemuan pertama Arteta melawan Chelsea dimana keduanya gagal dimenangkan oleh Arteta. Namun, bola memiliki bentuk bundar, yang selalu menggelinding dengan bebas tanpa menghiraukan apapun, latar belakang, dan tidak juga dengan statistik. Bola bersifat dinamis, segala sesuatu selama dalam 90 menit dan sebelum terdengar bunyi peluit, sah sah saja jika semuanya tidaks sesuai angan dan prediksi. Que sera sera, Arteta berhasil meyakinkan Gooners, Pundit, dan juga suara yang meragukan dirinya. Auba mengangkat trofi yang sempat terjatuh, Arteta mengangkat Arsenal untuk berlaga di kompetisi eropa, sekalipun menduduki peringkat 8 pada tangga klasemen. Tidak lama kemudian, Arsenal berhasil meraih kemenangan pada Community Shield melawan Liverpool selaku juara liga.

Dua trofi kurang dari satu tahun, menukangi Arsenal dari pertengahan musim, dan menyegel tiket kompetisi eropa sepertinya cukup membuat Gooners jatuh hati. Harapan tentang kejayaan yang telah lama sirna sepertinya telah ditemukan kembali. Doa – doa yang mereka panjatkan seolah – olah telah terkabulkan. Mereka kembali dalam tingkat percaya tinggi tertinggi dalam beberapa musim terakhir. Optimis sekaligus jumawa bergabung menjadi satu dalam diri mereka ketika menatap musim 2020/2021 yang akan bergulir.

 Dan bola itu bundar, apapun bisa terjadi, termasuk salah prediksi....

Arsenal mengawali musim 2020/2021 dengan inkonsistensi yang cukup tinggi. Sampai dengan paruh musim, presentase kemenangan mereka tidak menyentuh 50% yakni hanya 42,1% (8x menang, 3x imbang, 8x kalah). Statistik Arsenal menjadi lebih baik ketika paruh kedua, yakni : 10 kali kemenangan, 4 kali hasil imbang, dan 5 kali kekalahan. Secara keseluruhan, pada musim ini Arteta berhasil melakoni 58 pertandingan dengan rinchian : 31 kali kemenangan, 10 kali hasil imbang, 17 kali kekalahan. Tentu hal ini sangat bertolak belakang dengan optimisme Gooners yang begitu tinggi pada awal musim.

 Teranyar, meskipun “berhasil” duduk pada posisi 8 di akhir musim, selisih satu poin di bawah rival sekota, Tottenham Hotspur, dan satu tingkat diatas klub legendaris, Leeds United, nyatanya Arsenal gagal bermain di kompetisi antar negara UEFA musim depan meskipun UEFA baru saja merilis kompetisi “kasta ketiga”, UEFA Conference League.

Bola itu masih sama berbentuk bundar, menggelinding bersama harap dan doa kesana kemari dengan bebasnya. Mereka berdoa dalam hari yang panjang, tumbuh cahaya harapan setelah lewat masa kejayaan, dan mereka tetap setia dalam penantian. Mereka berdoa, larut dalam pengharapan, meraih kemenangan, tumbuh secercah harapan, lalu segenap mimpi terpatahkan. Dan berdoa lagi, berharap lagi, akankah siklus tersebut akan berputar abadi?