Wiraswasta
1 bulan lalu · 18 view · 3 min baca menit baca · Kuliner 36468_99029.jpg
Diana Yanes / Pixabay

Doa dalam Semangkuk Sup

Jack Canfield lahir tahun 1944, tumbuh di keluarga yang pas-pasan. Hingga tiap kali dirinya minta uang ke ayahnya, dengan tegasnya si ayah bilang, “Kamu pikir saya Rockefeller?”

Seringnya mendapat jawaban itu mengafirmasi Canfield kalau hidup itu sulit, sukar, dan harus bersusah payah untuk mendapatkan uang.

Dewasa, Canfield bekerja sebagai penceramah berpenghasilan US$8.000 setahun. Jika kurs masa itu US$1 = Rp1800, maka total pertahun Rp14.400.000. Biaya sewa rumah sederhana di Amerika kala itu berkisar US$600-1.000/bulan, harga mobil di atas US$33.000, dan harga rumah yang bagus di Amerika di atas US$250.000. Dengan pendapatan segitu, Canfield jauh dari yang harapan hidupnya mapan.

Tahun 1990-an, Canfield bertemu seorang pebisnis sukses bernama W. Clement Stone. Ia diajarkan ilmu tentang kekuatan alam bawah sadar. Clement menasihati Canfield membuat target yang sangat tinggi dalam hidupnya, yang suatu saat bakal mengejutkan dapat diraihnya.

Canfield kemudian membuat target: meraih pendapatan US$100.000 per tahun. Padahal ia sama sekali tidak mengetahui cara mewujudkannya. Langkah awalnya adalah hanya terus meyakininya saja sepanjang waktu bahwa targetnya itu akan terwujud. 

Cara afirmasinya adalah menulis angka 00.000 di belakang angka 1 pada selembar uang kertas US$1, menjadi seolah-olah US$100.000. Uang itu ditempelkan pada langit-langit tempat tidurnya, agar setiap saat bangun tidur uang itulah yang pertama kali dilihatnya dan menumbuhkan keyakinan akan memperoleh nominal sebesar itu.

Waktu terus berjalan hingga berbulan-bulan. Realisasinya masih belum tampak. Hingga suatu ketika, saat sedang mandi, Canfield terpikir untuk menulis sebuah buku yang berisi kisah-kisah inspiratif. Langsung diwujudkannya segera idenya itu. 

Keyakinan akan menuai sukses dari buku itu tergambar di depan matanya. Selama setahun buku itu baru rampung, diberi judul Chicken Soup for the Soul. 

Buku itu tidak saja membuat Canfield mendapatkan US$100.000, bahkan lebih. Namanya menjulang karena bukunya berhasil meraup penjualan ratusan juta kopi di seluruh dunia. 


***

Teknik merebus telah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Tujuannya untuk melunakkan makanan hingga mudah disantap dan dicerna. Teknik memasak ini mengakhiri budaya mengolah makanan secara primitif. 

Ada beberapa bahan makanan justru akan menghasilkan rasa dan sensasi baru ketika direbus. Misalkan saja butiran gandum yang akan mengeluarkan kanji hingga membuat kuah menjadi kental. Juga daging sapi atau ayam akan mengeluarkan minyaknya yang bermanfaat bagi kaldu.

Soup atau sup atau sop merupakan makanan rebusan dengan kuah banyak, yang telah dikonsumsi bahkan sejak zaman neolitikum dan menjadi kebiasaan makan masyarakat Mediterania. Sop mewabah sejak kekaisaran Romawi hingga keruntuhannya. Juga ketika Kekaisaran Ottoman di Turki runtuh, kebiasaan makan sop di Mediterania terbawa hingga Eropa.

Dan di Eropa, sop dihidangkan pada momen-momen seremonial, berbeda dengan yang dilakukan masyarakat Mediterian yang menyantapnya kapan saja. Di Eropa, ditambahkan unsur daging untuk penyedap rasanya.

Di Indonesia, sop dibawa oleh Belanda. Seiring perjalanan, masyarakat Indonesia mengadaptasi makan sop dengan nasi dan dihidangkan tanpa waktu tertentu. 

Secara tradisional, sop dibagi menjadi dua jenis: sop bening dan sop kental. Jenis resepnya pun beragam: consomme, creamy soup, puree soup, bisque soup, dan chowder soup.

Consomme: sop identik dengan kuah bening. Untuk menghasilkan kuah bening, disebut juga dengan bouillion, artinya kaldu yang dijernihkan. 

Ada kari daging sapi atau daging ayam yang bisa membuat keruh kuah, dan itu butuh teknik perebusan tersendiri. Daging direbus terpisah sebanyak dua kali. Tujuannya untuk menghilangkan kotoran di rebusan awal. Setelah di rebusan kedua, direbus lagi bersama sayuran serta bumbu, sehingga rasa kaldunya kuat.

Creamy Soup: tak ada warna bening pada kuah ini, karena tujuannya memang untuk membuat sup dengan kuah kental. 

Creamy soup disebut juga sup kental/sup krim dengan kandungan bahan pengental kaldu seperti tepung, cream, maizena, dan lain sebagainya. Rasa gurihnya menjadi kuat, dan cara makannya seperti bubur.

Puree Soup: adalah sup yang dikentalkan dengan menghancurkan sayur-sayuran ke dalamnya tanpa menggunakan bahan pengental lainnya.


Bisque Soup: adalah sup yang dibuat dari shell fish atau kerang laut, dicampur dengan cream. Agar rasa bertambah unik, kadang dicampurkan pula minuman keras seperti brandy. Bisque disajikan dengan disaring lebih dahulu.

Chowder: ialah sup yang agak kental yang biasanya dibuat dari daging-daging binatang laut seperti clams, fish dll, yang dikentalkan dengan menambahkan kentang, susu atau cream. Ada beberapa output dari jenis sup ini: Fish Chowder, Clam Chowder, dan lain-lain.

***

Kekuatan sup terdapat pada kaldu. Tanpa itu tak akan menjadi sup enak. Seperti doa dan harapan, harus punya essence yang kuat. Positif menjadi positif, negatif menjadi negatif. Karena sup adalah makanan yang mudah diserap tubuh dengan ragam zat pada bahan makanannya.

Artikel Terkait