Daripada minta maaf, lebih baik membusuk di penjara...

Kata-kata adalah doa. Kata-kata manusia adalah sebuah mimpi. Kata-kata itu dibicarakan bukan hanya untuk saat ini. Kata-kata itu mencakup waktu masa lalu, masa kini, dan juga untuk masa depan. 

Terkadang, di dalam berkata-kata, kita tidak sadar bahwa apa yang kita katakan di masa kini adalah cerminan di masa lalu, dan memimpikan masa depan.

Kata-kata itu adalah sebuah kekuatan yang tidak kecil. Melalui kata-kata, kita mendidik. Guru mengajar dengan kata-kata. Orang tua mendidik anak-anaknya dengan kata-kata. Bahkan di beberapa negara, sudah sangat populer didikan dengan kata-kata, tanpa rotan atau ban pinggang. 

Berbicara tentang ini, kita tentu bisa saja berdebat panjang. Akan tetapi, kata-kata ini memiliki khasiat yang sangat baik. Kata-kata bisa digunakan untuk mendidik.

Melalui kata-kata, kita bercerita. Cerita hidup itu dirangkai melalui kata-kata. Seorang muda, menceritakan hari esoknya dengan menggebu-gebu, tentu melalui setiap kata-kata yang keluar, baik secara tertulis, lisan, maupun absraksi di otak.

Anak muda yang memiliki rencana untuk masa depan merangkaikannya dengan kata-kata dan mengkonkretkan segala sesuatunya. Melalui kata-kata, mereka menciptakan masa depan mereka. Mereka menentukan cerita hidup mereka. 

Melalui kata-kata, orang tua menceritakan masa lalu mereka juga dengan semangat. Dulu, mereka mendapatkan pencapaian ini dan itu. Tidak ada yang berlebihan jika kita mengatakan bahwa kata-kata adalah sebuah rangkaian kisah hidup.

Melalui kata-kata, kita menjelajahi khazanah kebudayaan dan kekayaan literatur. Puisi dan prosa adalah susunan kata-kata yang memiliki keindahan tersendiri. Birama dan irama dalam kata-kata tercermin di dalam pantun.

Pun di dalam lagu, kata-kata tentu digunakan untuk memberi makna dari sebuah kesenian dan kebudayaan. Seni dan budaya di Indonesia dirangkai bukan hanya dengan tabuhan musik, melainkan kata-kata yang indah. Kebudayaan dan sejarah bangsa ini pun dirangkai dalam kata-kata.

Melalui kata-kata, kita menceritakan tentang cinta. Cinta kepada pasangan dan lawan jenis pasti dilantunkan dalam kata-kata. Surat cinta berisi kata-kata. Melalui kata-kata, kita juga bisa menggugah dan menggaet hati dari pasangan kita, yang kita kasihi.

Melalui kata-kata, kita juga bisa berdoa. Doa dengan kata-kata, bukan dengan bahasa lain. Bahkan orang tunawicara, tunarungu, atau mereka yang memiliki keterbatasan pun tetap bisa berkomunikasi dengan kata-kata. 

Kata-kata tidak selalu sesuatu yang terucap dari mulut. Kata-kata itu adalah abstraksi. Ini adalah filsafat mengenai penggunaan kata-kata.

Sebenarnya masih banyak sekali kegunaan kata-kata secara positif yang bisa kita gunakan. Masih terlalu banyak rahasia kata-kata yang dapat kita kembangkan dengan positif. Akan tetapi, kita melihat bagaimana dampak buruk dari sebuah kata-kata.

Kata-kata juga bisa menjadi kutukan, bagi mereka yang tidak bertanggung jawab menggunakan karunia berbahasa yang diberikan oleh Tuhan. Kata-kata yang mereka keluarkan berupa sumpah serapah, kasar, dan menghina orang lain. Orang-orang semacam ini adalah orang yang tidak bisa bertanggung jawab menggunakan kata-kata mereka.

Kata-kata digunakan untuk memaki, mencela, menghina, dan merusak adalah kata-kata yang tidak patut diperdengarkan. Mereka yang tidak terdidik adalah orang yang tidak bisa berkata-kata dengan baik dan sesuai kaidah kebudayaan yang ada di tempat tertentu.

Kasarnya kata-kata yang diucapkan mencerminkan seberapa rendahnya kualitas hidup mereka. Kualitas hidup itu diindikasikan dari kata-kata. Makin kita tahu bagaimana berkata-kata dengan baik, di sanalah kita dilihat derajatnya.

Omong kosong jika kita manusia hidup tanpa penilaian. Maka penilaian orang dan diri mengenai kita, khususnya dalam berkata-kata, adalah penilaian yang harus kita pertimbangkan juga.

Saya ingin mengangkat dua tokoh yang tidak bisa mengendalikan kata-katanya. Dia adalah Bahar Smith dan Anies. Kenapa kedua orang ini? Karena dari kedua orang inilah kita belajar bagaimana kata-kata itu bisa memakan orang hidup-hidup, menelan mereka bulat-bulat, dengan kata-kata yang mereka ucapkan sendiri.

Bahar Smith pernah menantang dan berkata bahwa lebih baik dipenjara sampai busuk. Lebih tepatnya dia berkata, “lebih baik membusuk di penjara daripada minta maaf kepada Jokowi.”

Bahar Smith adalah orang yang menghina Presiden Joko Widodo dengan makian yang sangat kasar. Kata-kata orang tercermin dari sikapnya. Tidak tanggung-tanggung, Bahar dilaporkan dalam kasus penganiayaan anak.

Untuk penghinaan presiden, hukumannya mungkin tidak seberat penganiayaan anak di bawah umur. Lihat saja tuntutan jaksa bisa sampai 6 tahun, artinya itu sudah sangat lama. Di sini saya sadar bahwa kata-kata Bahar Smith sudah didengar dan dijawab langsung. Dia akan 6 tahun ada di penjara.

Bagaimana dengan Anies Baswedan? Janji tolak reklamasi hanya sebatas lip service alias tidak ada kelanjutannya. Secara mudah, kita bisa melihat bahwa Anies ini munafik.

Dia pun berdalih mengatakan bahwa penolakan reklamasi dan IMB itu dua hal yang berbeda. Bagaimana logikanya? Kalau saya tanya mengenai IMB yang ada di pulau reklamasi, bagaimana jawabnya?

Semoga saja artikel ini membuat kita lebih berhati-hati dalam berkata-kata.