53084_62425.jpg
cinemapoetica.com
Cerpen · 11 menit baca

Doa

Perjalanan dari Semarang menuju Purbalingga tidak menawarkan banyak pilihan transportasi untuknya; ia hanya bisa memilih menggunakan motor yang membuat bokongnya kebas selama enam jam atau duduk dengan tentram menggunakan bus kota. Ia memilih yang kedua.

Itu kesalahannya yang tidak membeli tiket bus dari awal sehingga ia terdampar di terminal Bawen, berlari mengejar bus yang tersisa. Padahal masih banyak bangku kosong dalam bus itu, tapi ia tetap saja terburu-buru. Tidak pakai lama, tubuh berbalut celana kain itu ia hempaskan tepat di kursi belakang supir. Supirnya pun sedang entah ada di mana.

Satu menit, dua menit. Aktivitas dalam bus berjalan monoton. Kepalanya terasa berat. Akhirnya ia memilih menonton musik video dangdut dari televisi mungil bus itu. Video disetel berulang tanpa suara. Apa maksudnya? Apa sekarang sedang zaman orang-orang hanya menikmati visual sang biduan itu tanpa mendengar suaranya? Rasanya kehadiran video dangdut itu sama sekali tidak meredakan sakit kepalanya.

“Selamat siang, maaf mengganggu perjalanan anda. Ya timbangane nganggur rak elok diomongke tanggane, kulo mriki nggolek rezekine nggih. Yen ning Tawang onoooo Lintang, wong ayu[1]....” 

Ia yang sedang memejamkan mata tiba-tiba tersadar. Pengamen bercat rambut pirang ini kelihatannya merendah, sesungguhnya bersuara merdu. Gitar kecilnya menggenjreng dengan nada yang tepat. Andai ia Ahmad Dhani, tentu pengamen itu sudah ia seret untuk bergabung di Republik Cinta.


“Mbak...”

Pengamen itu sudah sampai di depannya. Ternyata ia sudah selesai bernyanyi. Gadis itu tidak menyadarinya karena terlalu sibuk melamun sambil memegangi kening. Ia lalu merogoh koceknya dan menaruh sekeping koin lima ratusan. Logam satu-satunya yang ia temukan. Pengamen itu berterima kasih dan melanjutkan perjalanannya mengulurkan topi pada penumpang yang lain.

Ia hendak memejamkan mata lagi saat suara lain tiba-tiba menyentak. Sakit kepalanya menghebat.

“Ibu-ibu Bapak-bapak... monggo diborong koleksi bukunya. Yang punya anak-anak ada kumpulan rumus, kumpulan pengetahuan umum, kisah nabi-nabi lengkap semua hanya sepuluh ribu rupiah saja. Buat ibu-ibu monggo saya punya satu set perlengkapan dapur lengkap. 

Aneka sendok, garpu, aneka jenis pisau semua ada dalam satu kemasan. Murah sekali hanya sepuluh ribu rupiah, dibuat dari bahan anti karat. Silakan buktikan ya ibu-ibu, ini banyak sekali yang cari di pasaran,” seorang lelaki paruh baya menawarkan dagangannya pada pengunjung dengan kecepatan bicara yang luar biasa. 

Ia mendelik. Entah bagaimana Bapak tersebut berbicara, ia terlihat meyakinkan sekali. Mungkin di masa muda Bapak itu adalah sales. Mekanisme berjualannya seperti biasa. Setelah berpromosi kilat dalam waktu satu menit itu, ia lalu gerak cepat membagikan buku dan satu set peralatan masaknya pada penumpang bus. Setelah itu ia akan mengambil kembali barang-barang tersebut pada penumpang yang tidak berniat membeli. Dan ajaibnya, yang ia ambil kembali tidak banyak. Lebih dari separuh barang-barang jualannya berpindah tangan menjadi milik pembeli.

Gadis itu sebenarnya tertarik. Begitulah wanita, selalu tertarik dengan harga yang murah, meskipun mereka belum terlalu membutuhkan. Prinsip wanita dalam berbelanja didasarkan pada pertimbangan: butuh, tidak butuh tetapi bagus, dan siapa tahu butuh. Apalagi satu set peralatan makan itu, benar-benar menggoda. Intinya ia sudah termakan iklan Bapak penjual buku dan peralatan makan itu.

Tetapi ia tidak membelinya.

Bukan ia pelit. Bukan pula ia tidak punya rasa prihatin. Satu-satunya alasan adalah ia sedang mengencangkan ikat pinggang. Dompetnya sudah lama tipis akibat belum ada pemasukan. Ia baru saja keluar dari sebuah lembaga tempatnya bekerja dan saat ini sedang mencari pekerjaan baru. Apalagi saat ini ia sedang sakit kepala. Tangannya hanya bisa diajak bekerja sama dalam hal memijit kening.

Setelah penampilan pengamen berbakat dan pak tua mantan sales dugaannya, rupanya parade dalam bus belum berakhir. Silih berganti pedagang tahu asin, arem-arem, buah nangka, dan minuman dingin hilir mudik dalam bus. Mata gadis itu berpindah-pindah antara mengamati video dangdut atau mengamati pedagang asongan yang silih berganti. Kepalanya terasa semakin berat. Ia memutuskan untuk melanjutkan tidur.

“Selamat siang penumpang. Kami minta waktunya untuk mendengarkan lagu yang akan kami bawakan saat ini... sebelum anda melanjutkan perjalanan. Satu, dua, tiga.”

Mendengar suara riuh itu matanya terbuka lagi. Kali ini pengamen yang datang bentuknya grup. Empat orang pemuda berdiri di tengah-tengah, membawa alat musik yang berbeda yang berpadu menjadi satu harmoni dalam lagu Menghapus Jejakmu. Lagi-lagi gadis itu terkagum-kagum. Permainan mereka rapi dan seperti profesional! Tentu saja. Sudah berapa ribu jam mereka habiskan untuk berlatih dan turun di jalanan? Tentu mereka lebih dari berpengalaman. Apa semua pengamen di bus ini hampir-hampir tidak ada yang mengecewakan?

Gadis itu agak kecewa ketika grup itu mengakhiri permainan mereka. Cukup menghibur. Namun ketika permainan itu selesai, sakit kepalanya kambuh lagi. Ia meringis. Ketika bungkus permen disodorkan padanya, ia hanya menggeleng. Benar-benar tidak punya uang kecil lagi dan malas mengambil uang yang lain.

“Mbak, ayo toh mangatus ae...,” si pengamen agak memaksa.

Ia menggeleng.

“Mbak...”

“Nggak, mas!” ia menyentak. Kepalanya terasa semakin sakit. Ah, sialaan. Kenapa aku jadi membentak-bentak orang begini, pikirnya. Lagian masnya menyebalkan, memaksa begitu. Semua orang pasti juga sebal kalau dipaksa.

Pengamen itu hanya menatapnya jengkel kemudian berlalu. Dalam hati ia menyenandungkan maaf. Ia tidak mungkin memberi uang besar pada mereka. Ya, ia memang sepelit itu.

“Ya sampai sini dulu kami bisa menemani anda. Yang mau jalan-jalan, hati-hati...yang mau beraktivitas, semoga lancar dan yang mau mencari pekerjaan, semoga dilancarkan,” juru bicara grup pengamen yang kurus itu masih sempat mendoakan penumpang. Gadis itu sedikit terusik. Tak banyak pengamen yang repot-repot berdoa seperti itu. Apa doa pengamen itu tulus ya? Ia merasa agak bersalah telah membentak tadi. Itu karena sakit kepala ini!

Saat pengamen terakhir selesai bertugas, supir bus segera loncat ke tempat duduknya semula. Bus pun melaju. Saat itulah video dangdut tersebut kembali bersuara.

Sekarang gadis itu paham. Kalau suaranya terdengar sejak tadi, penumpang tidak akan mendengar suara pengamen yang sedang mencari rezeki bukan? Dan, astaga, suara video dangdut ini disetel dalam volume maksimal. Ia benar-benar hampir tumbang. Bisa tidak pengamen yang tadi dipanggil lagi saja dan bermain kembali?

***

Sebenarnya ia sudah lama ingin hengkang dari perusahaan tempatnya bekerja. Atasannya terlalu semena-mena. Ia memutuskan untuk mengundurkan diri tepat setelah masa kontraknya habis. Meski berat berpisah dengan teman-teman dan kehidupan yang nyaman, ia tetap pada keputusannya. 

Ia memang pemberani—menurutnya sendiri. Lalu di kota kecil ini ia mengungsi pada teman kuliahnya yang juga kos di sekitar alun-alun Purbalingga dan bekerja di perpustakaan daerah Purbalingga. Hidup jauh dari hiruk pikuk kota pasti membuatnya merasa lebih baik.

“Aku salut,” kata Ningsih, teman gadis itu. “Kamu mau ambil risiko hidup di sini. Ini bukan kota besar, Ar. Kamu perlu beradaptasi lagi.”

“Aku tahu.”

Ningsih tersenyum. “Kalau begitu, selamat menempuh kehidupan baru ya.”

Satu minggu berikutnya ia habiskan untuk mencari dan menyebar surat lamaran kerja ke berbagai instansi. Tak henti-henti. Kadang ia rindu pada Semarang yang ramai, dan lebih banyak pilihan makanannya. Ia juga memendam rindu pada kekasihnya yang bercokol di sana. Tapi ia sudah bertekad untuk tidak mengasihani dirinya sendiri.

Ia kira mendapat pekerjaan semudah yang ia bayangkan. Setelah dua minggu berlalu, ia hanya berhasil menjadi pegawai konter ponsel saja. Awalnya ia masih bisa bertahan, namun lama-kelamaan ia mulai bosan. Ningsih hanya menjadi penyemangatnya di sana.

“Tahu apa yang aneh di sini?” ia berbicara pada kekasihnya melalui video call. “Masa iya lamaranku nggak ada yang nyangkut! Padahal kamu baca CV-ku, kan? Kayaknya udah cukup deh. Tambah lagi, aku berpengalaman banyak lho!”

Kekasihnya tegak menyimak.

“Kamu bekerja di sini saja, bersamaku, ya?” tawarnya lembut. “Kucarikan posisi yang kosong....”

Artika menggeleng. “Aku hanya penasaran, Ko. Apa yang salah. Aku atau orang-orang di kota ini. Kalau dalam satu tahun aku masih belum kembali, nanti aku yang...” ia terdiam.

Ada apa, Ar?”

Gadis itu berpikir keras. Ia lalu menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tidak, tidak mungkin. Tapi mungkin saja. Tanpa sadar ia menggigit bibirnya, sambil melamun.

“Ar? Kamu nggak kesurupan, kan? Kalau iya, kumatikan sekarang nih koneksinya. Ada apa sih?”

Gadis itu tersadar. Ia lalu berkata,”Aku akan kembali ke Semarang, Ko.”

Kekasihnya tersenyum di seberang. Itu ide Artika paling cemerlang yang pernah ia dengar. “Oke, kapan? Kujemput saja, ya?”

“Tidak, aku yang akan ke sana sendiri.”

Ia lalu membeberkan hal yang sejak tadi membelenggu pikirannya. Awal mula ia undur diri dari pekerjaan, lalu memutuskan untuk menumpang pada Ningsih, dan tragedi bus itu. Ia masih menyesalinya sampai sekarang.

“Apa?” kekasihnya berteriak. “Jangan gila, Ar. Kamu kembali bukan untuk menemuiku tapi untuk bertemu kembali pengamen itu? Nggak masuk akal! Bisa jadi mereka pindah-pindah tempat! Usahamu nggak bakal ada hasilnya!”

Artika bergeming. “Bisa jadi. Tapi aku harus pergi, Ko.”

“Dengar. Itu hanya rasa bersalahmu, Ar. Lagipula itu bukan salahmu sepenuhnya. Kamu begitu kan, karena sedang pusing berat. Lagipula, mereka nggak sungguh-sungguh mendoakan, kok! Itu hanya basa-basi mereka pada penumpang.”

“Tahu apa kamu tentang doa?” Artika menyentak. Ia seperti sudah kehilangan akal sehat sekarang. Ya, siapa tahu mereka memang sungguh-sungguh, dan doa itu tembus hingga ke langit? “Aku....”

“Ya, kamu memang makhluk dengan penuh percobaan,” kekasihnya menghela napas, sadar kalau Artika memang gadis keras kepala tetapi tetap saja ia menyayanginya. “Aku akan bantu kamu kalau itu yang kamu mau.”

Artika mengangguk cepat.

***

Entah sudah berapa keputusan gila yang diambilnya, tapi baginya pribadi memang banyak hal yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata sebelum mencobanya sendiri. Ia pun tahu perjalanan ini memang tidak masuk akal. Banyak orang berjalan dari ujung ke ujung dunia demi sebuah pencarian; tetapi pencarian itu biasanya masuk dalam kategori cinta. Maka itulah pengorbanan. Tapi ia? Ia tidak mencari cinta. Ia mencari maaf! Apakah pencarian maaf juga memerlukan pengorbanan?

Belum lagi soal risiko. Bisa jadi Eko benar, grup pengamen itu sudah pindah markas mencari rezeki. Mungkin saja mereka sudah lupa dengannya. Lalu apa yang mereka doakan waktu itu tidak ada hubungannya dengan nasibnya yang belum mendapat pekerjaan tetap lagi. 

Jangan-jangan doa mereka dikabulkan Tuhan, tetapi sekaligus bisa saja tidak dikabulkan—itu karena rasa bersalahnya saja. Semua ini membuatnya penasaran. Ia sungguh hanya ingin tahu. Apa pun yang terjadi di masa depan, ia merasa perlu mengantongi maaf dari mereka. Itu saja sudah cukup. Kejadian itu membayanginya sepanjang waktu.

“Kutemani, ya?” kekasihnya menatapnya gelisah, mengelus anak-anak rambut Artika yang jatuh menjuntai ke wajahnya. Akhir minggu ketika Artika sedang libur, ia menggunakan kesempatan itu untuk pergi ke Semarang lagi menggunakan bus, lalu bertemu Eko sejenak. Ia sudah tidak terlalu khawatir soal uang sekarang.

“Kamu kan bekerja, Ko,” tolak Artika halus. “Lagipula, ini urusanku sendiri.”

“Ya, tapi kamu pacarku. Urusanmu adalah urusanku juga,” kata Eko kukuh. “Aku bisa minta izin bosku sebentar untuk masuk agak terlambat.”

Artika menggeleng. “Tidak harus begitu.”

“Ar, grup pengamen itu nggak lebih cakep dari aku, kan?” Eko bermaksud bercanda tetapi sebenarnya ia serius dengan pertanyaan itu. “Kamu nggak akan minta putus kalau sudah bertemu mereka, bukan?”

Artika tergelak. “Ko, plis. Ini bukan drama atau sinetron.”

“Kalau gitu, aku ikut,” Eko bersikeras. “Aku nggak menerima penolakan, Ar.”

***

Begitulah. Meski Artika memohon untuk tidak mengantarkannya sampai ke Purbalingga, Eko tetap bersikeras mengantar Artika sampai ke terminal Bawen. Keduanya celingukan mencari grup pengamen di sekitar sana. Tidak ada. Yang mereka temui hanya serombongan lelaki sedang duduk menanti kedatangan bis yang lain, asyik dengan urusan masing-masing.

“Aku harus naik bus sekarang,” Artika melihat jam tangannya. “Mungkin mereka...”

“Itu mereka!” teriak Eko beringas. Kalap, ia segera melajukan sepeda motornya menghampiri grup pengamen yang sedang berjalan menuju sebuah bus. Mereka berhenti mendadak, memarkir motor sekenanya, lalu bergegas menghampiri grup pengamen itu.

“Mas, mohon maaf, Mas... kami ingin minta waktunya sebentar...,” Eko terengah-engah. Grup pengamen itu berhenti. Mereka saling memandang.

“Ada apa ya, Mas? Maaf sanget nggih, kami lagi sibuk.. mau manggung,” personel grup berbadan tambun yang menyahut.

“Sebentar saja Mas, minta waktunya sebentar... saja,” Artika memohon dengan sangat. Ia sudah bertemu mereka, semuanya demi pertemuan ini, apa gunanya kalau mereka tidak mau? Wajahnya memelas tanpa diminta. Memohon kebaikan hati mereka.

“Oh, Mbak yang waktu itu,” pentolan grup pengamen yang cungkring melepas kacamata hitamnya dan tersenyum sinis. “Ono opo toh[2], Mbak?”

***

Keempatnya terpana. Setelah Eko meyakinkan kalau pertemuan mereka mungkin saja mengubah nasib seseorang, grup itu sepakat untuk membatalkan konser mereka pada bus kali ini dan berbicara di warung pojok dengan dua pemuda-pemudi aneh itu. Artika menjelaskan segalanya dengan terbata. Pada akhir kalimatnya, ia mohon maaf dengan teramat sangat. Siapa coba, yang masih punya waktu untuk melakukan hal ini di tengah-tengah sibuknya aktivitas manusia? Kelihatannya hanya dia.

“Kami wis biasa dengan banyak reaksi orang waktu ngamen, Mbak,” si gembrot yang ramah ikut tersentuh. “Biasa wae Mbak. Ora dendam, wong jenenge sak ikhlase[3] Mbak. Nek doa kuwi[4], iku memang tradisi. Ikhlas, Mbak. Bener.”

Artika merasa beban di pundaknya agak terangkat. Udara jadi lebih segar sekarang. Ah, ia lega. Lega sekali.

“Aku yo maaf nggih Mbak, nek waktu kuwi rodo mekso[5],” si cungkring yang masih ingat padanya angkat bicara. “Soale Mbak penumpang paling depan. Biasane Mbak, nek sing ngarep ngeke’i, sing mburi bakale podo ngeke’i[6]. Anggapanku wae sih...”

Eko yang mendengar itu hanya manggut-manggut. Oooh, begitu rupanya. Syukurlah ini lancar, tidak ada acara demo atau marah-marah seperti dugaannya.

“Berarti saiki Mbake nganggur?” tembak si cungkring langsung. Artika menggeleng, menjelaskan pekerjaan sementaranya saat ini. 

“Mbak, kok kayake ono sing ngganjel yo. Lha nek wong tuane Mbake mbiyen piye Mbak? Do setuju Mbak pindah kerjo to?[7]”

Artika tersentak. Ia melempar pandang dengan Eko. Mereka tahu sama tahu kalau keputusan itu murni atas tindakan Artika sendiri, yang ditentang habis-habisan oleh orang tuanya. Tanpa sadar ia menggeleng.

Yo wis Mbak, nek Mbak rela jauh-jauh ke sini buat nemuin kita, apa iya Mbak nggak mau nemuin wong tuane Mbak. Dadi enting kabeh ngunu[8] lhooo....”

Kata-kata si cungkring barusan terasa menyengat batinnya. Apa iya masalahnya justru bersumber dari dirinya sendiri, bukannya dari mereka? Lama ia merenung. Grup pengamen itu juga malah ngobrol sendiri bersama Eko, entah membicarakan apa. Bus berikutnya datang, lalu grup itu permisi untuk melanjutkan aktivitas mereka. Artika menyalami mereka dengan hati teraduk.

“Ar, yuk, pulang,” ajak Eko.

“Ko....”

“Ya?”

“Kamu bisa minta izin bosmu untuk datang terlambat nggak, buat nemenin aku ketemu Ibu?”

Eko tersenyum. Ide cemerlang Artika yang ia dengar kedua kali. “Kenapa tidak? Ayo.”

Begitu saja mereka berlalu, menembus terminal Bawen menuju kediaman Artika di daerah Banyumanik. Di dalam bus, giliran si cungkring yang membuang muka, tak sanggup melihat gadis yang sejak pertemuan pertama mereka di bus membuatnya terusik, kini perlahan menghilang kembali.  

1] Ya daripada nganggur nggak enak dilihat tetangga, saya di sini mencari rezeki ya. Ketika di Tawang ada Lintang, seorang yang cantik...

[2] Ada apa sih

[3] Namanya juga seikhlasnya

[4] Kalau doa itu 

[5] Kalau waktu itu agak memaksa

[6] Kalau yang depan memberi, yang belakang juga ikut memberi

[7] Kok ada yang mengganjal ya? Lha orang tuanya Mbak gimana? Pada setuju Mbak pindah kerja kan?

[8] Jadi lega semua gitu