Sosial Relations
1 bulan lalu · 199 view · 3 menit baca · Ekonomi 99608_85883.jpg

DMPA Sebagai Solusi Ekonomi Yang Lestari

Perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) memiliki konsesi yang berbatasan langsung dengan masyarakat. Mayoritas mereka adalah masyarakat agraris yang memanfaatkan hasil bumi untuk bertahan hidup. Mereka bertani dengan cara yang tak lestari, yakni dengan melakukan pembakaran lahan. 

Di tengah kekeliruan massif itu, hadir ide Desa Makmur Peduli API  (DMPA), sebagai solusi. 

DMPA adalah program pemberdayaan masyarakat di sekitar konsesi, yang bertujuan meningkatkan perekonomian masyarakat dengan cara yang lestari. Peristiwa kelam kebakaran hutan Sumatera yang terjadi pada 2015 menjadi alasan terbentuknya program DPMA ini.

Melalui program DMPA yang digagas APP Sinar Mas ini diharapkan masyarakat bisa tetap melakukan kegiatan bertani tanpa membakar. Program ini kali pertama digulirkan pada tahun 2016 di seluruh Regional. Dengan 6 pilar utamanya DMPA terus berkarya memajukan masyarakat Indonesia.

PT. Bumi Andalas Permai yang merupakan bagian dari APP Sinar Mas berkomitmen memajukan program DMPA ini. Tercatat pada tahun 2016 hingga 2018 sudah banyak masyarakat yang merasakan dampak positif dengan adanya program DMPA ini.

Tidak sedikit desa yang telah merasakan program DMPA ini, diantaranya Desa Bukit Batu, Desa Simpang Heran, Desa Pangkalan Sakti, Desa Banyu Biru, Desa Srijaya Baru, Desa Nusakarta, Kampung Sungai pedade, Kampung Bagan rame, Kampung Bagan tengah, dan Desa Suka Mulya.

Sejak digulirkan program DMPA, masyarakat mendapat bantuan mesin pertanian berupa handtraktor. Dengan mesin ini masyarakat bisa membuka lahan secara mekanis tanpa  membakar. Selain itu, masyarakat juga mendapatkan 'Bantuan Saprodi' yang dipinjamkan oleh perusahaan melalui Lembaga Desa. misalnya melalui Koperasi Desa, Badan Usaha Milik Desa, Gapoktan, dll.

Program DMPA Di Kabupaten OKI yang merupakan binaan dari PT. Bumi Andalas Permai memiliki berbagai komoditi usaha, seperti budi daya padi, budi daya jagung, ternak sapi, ternak kambing, industri rumah tangga (pembuatan kelempang), hortikultura.

 Hasil dari usaha program DMPA ini di pasarkan di sekitar desa atau pun kantin perusahaan.

Pihak Perusahaan juga ikut membantu masyarakat mencari peluang pasar yang potensial. Masyarakat sangat terbantu dengan hadirnya program DMPA di desa mereka.

"Dulu masyarakat Desa banyak yang membuka lahan dengan cara dibakar. Alasan masyarakat melakukan kegiatan pembukaan lahan dengan cara dibakar, yaitu: hemat biaya karena hanya dengan satu batang korek api bisa membuka lahan puluhan hektare. Masyarakat juga yakin bahwa seresah atau bekas tanaman yang dibakar menjadi unsur hara yang kembali ke tanah sehingga hasil pertanian akan bagus," tutur Aji Ikhsan, salah satu petani unggulan di Desa Bukit Batu. Alasan-alasan ini umum dilakukan mengingat kurangnya pemahaman tentang budi daya yang lestari.

Melalui program DMPA, perusahaan berkewajiban mengarahkan masyarakat untuk melakukan budi daya tanaman yang lestari. Hal ini terdapat dalam salah satu pilar DMPA, yaitu 'Transfer Teknologi kepada masyarakat'. 

Pihak Perusahaan mengajak masyarakat beralih dari yang semula membuka lahan dengan membakar, kini masyarakat membuka lahan dengan handtraktor.

Selain itu perusahaan juga menggandeng pihak eksternal, yaitu komunitas bernama Ga Ge Go Organik (3GO). Praktisi yang merupakan penggiat sistem budidaya tanaman organik. 

Eko Prayitno adalah salah satu praktisi (3GO). Beliau mengajak dan mendamping masyarakat Desa Bukit Batu, Desa Simpang Heran dan Desa-Desa Lainnya untuk melakukan budi daya pertanian secara organik.

3GO yang difasilitasi oleh perusahaan untuk melakukan pendampingan kepada masyarakat petani. kurang lebih selama satu minggu proses pendampingan ini.

Selama proses pendampingan ini masyarakat diajarkan bagaimana cara memproduksi dan mengaplikasikan bahan-bahan organik untuk pertanian mereka. Misalnya, Pesnab, POC, Kompos, Kalium, Pakan ternak Organik, dan lainnya.

Tidak hanya itu, masyarakat juga didampingi mencari komposisi bahan yang dibutuhkan, cara pembuatan, dan pengaplikasiannya di lapangan.

Eko Prayitno menuturkan bahwa kemauan dan respon masyarakat untuk belajar sangat bagus sekali, dan sumber daya alam yang ada sangat mendukung untuk dilakukannya sistem pertanian dengan cara organik.

Masa tanam padi pada Oktober 2018 telah dilakukan dengan perlakuan budi daya organik melalui pendampingan 3GO yang difasilitasi oleh perusahaan. Pada  Februari 2019 panen mengalami peningkatan.

Hal ini disampaikan langsung oleh Muhammad Gunawan selaku Community devlopment Distrik Air Sugihan yang menyatakan bahwa dengan adanya program DMPA dan kerja sama pendampingan dari tim 3GO, hasil panen tahun ini meningkat dari hasil panen sebelumnya. tahun lalu hasil panen lebih kurang hanya berkisar 60% sekarang meningkat menjadi 85%.

Hal ini disambut baik oleh pihak masyarakat dan pemerintah. Masyarakat dan pemerintah setempat sangat berterimakasih kepada pihak perusahaan. Pihak perusahaan telah membantu masyarakat meningkatkan perekonomian masyarakat dan membantu merubah kebiasaan masyarakat. 

Kebiasaan  yang semula masyarakat bertani dengan pola bakar. kini masyarakat bisa bertani dengan cara yang lestari.

Hutan Indonesia adalah paru-paru dunia. Alangkah indahnya kehidupan yang akan datang, Tampa adanya polusi udara.

 Mari kita Lestarikan Lingkungan Tampa Asap.