Pembahasan tentang sensitifitas agama sepertinya tidak akan pernah punah di negara Indonesia ini. Selalu menjadi hot Isu untuk digoreng dan di santap semua warga negara. Sebenarnya tidak mengapa bila tujuannya agar bisa saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

Tetapi jika nantinya hanya memecah belah dan merusak persatuan, sebaiknya ditinggalkan.

Saya jadi ingat sewaktu masih kerja sebagai sales di kota Manado. Kebetulan diantara rekan-rekan kerja satu tim, saya seorang yang beragama muslim dan sisanya mayoritas beragama nasrani.

Pernah ketika kami sedang berkunjung di kabupaten kepulauan Siau, provinsi Sulawesi Utara. Untuk melakukan penjualan di lokasi tersebut dalam jangka waktu beberapa minggu. 

Semua kebutuhan dari mulai logistik hingga akomodasi memang ditanggung oleh perusahaan, namun biaya tersebut tidak cukup sehingga kami berencana untuk mencari tempat yang lebih murah.

Salah satu rekan kerja kami ternyata memiliki keluarga dan rumah di daerah tersebut. Akhirnya untuk menghemat biaya agar bisa dialihkan pada kebutuhan lainnya, kami semua setuju untuk menginap di rumahnya.

Orang tua dari teman kami pun sangat ramah dan bersedia memberikan kami tempat tinggal dan fasilitasnya. Ketika sedang asik mengobrol, tiba-tiba saja saya dilemparkan pertanyaan oleh ibu dari teman saya, “Kamu muslim?” Dengan santai dan tanpa basa-basi saya langsung menjawab, “iya, tante” Kemudian itu dia mengangguk dan langsung melanjutkan pembicaraan yang lain.

Hal seperti ini bukan sesuatu yang baru untuk saya, dalam pergaulan pun sering berhadapan dengan kondisi serupa. Sekarang pertanyaanya adalah apakah saya harus tersinggung dengan pertanyaan semacam itu? Atau saya harus teriak-teriak di media sosial dan mengatakan bahwa mereka intoleran? Tentu saja tidak.

Karena saya tahu pertanyaan tersebut bukan untuk menyudutkan saya, melainkan sebaliknya untuk mengkonfirmasi hal-hal apa yang harusnya dilakukan atau tidak ketika bersama atau berada dengan saya.

Walaupun pada akhirnya saya selalu mengatakan bahwa tidak masalah untuk melakukan hal seperti biasanya, sekalipun ada saya di situ. Misalkan seperti memasak daging babi, melaksanakan ibadah di rumah, dsb. Namun saya juga menegaskan bahwa saya tidak bisa membersamai dalam kegiatan-kegiatan tersebut.

Kita harus sepakat bahwa agama itu merupakan bagian dari identitas seseorang. Yang nantinya akan menjelaskan tentang seseorang itu sendiri. Sama halnya dengan latar belakang suku, budaya, bahasa, usia, status pernikahan, dll.

Untuk apa coba? Bukan untuk mengklaim mana yang terbaik atau pun dijadikan sebagai bahan sebagai bentuk penghakiman kepada orang lain. Tetapi sebaliknya supaya kita yang mungkin nggak saling tahu atau baru mengenal, bisa lebih mudah memposisikan diri serta mengerti bagaimana bentuk perlakuan dan sikap terbaik yang harus kita ambil.

Contohnya dalam berkomunikasi saja, antara orang jawa yang lembut dengan orang timur yang mungkin lebih keras. Kalau kita nggak tahu latar belakangnya, mungkin yang ada malah men-judge dengan mengatakan orang-orang timur itu kasar semua, padahal tidak demikian.

Tapi coba kalau sebelumnya kita sudah berkenalan dan tahu bahwa orang tersebut memiliki cara pandang serta karakter dan kebiasaan yang berbeda dengan kita. Maka kita bisa saling memahami dan menggunakan cara paling tepat agar tetap bisa terhubung satu-sama lain.

Dan bukan hanya itu saja.

Coba kamu bayangkan, seandainya kamu seorang karyawan baru di sebuah perusahaan. Kemudian kamu ingin mengadakan sebuah acara hajatan dan mengundang seluruh rekan kerja hingga atasan.

Tapi kamu tidak tahu kalau atasan dan beberapa teman kamu itu beragama hindu. Karena nggak pernah nanya. Udah stalking medsosnya juga nggak ada informasi mengenai agamanya apa.

Karena itu juga kamu tidak perlu khawatir menghidangkan aneka macam masakan, diantaranya terhidang juga daging sapi. Padahal menurut keyakinan umat hindu, sapi adalah binatang yang suci dan sangat disakralkan.

Kira-kira yang terjadi selepas itu apa? Bisa-bisa kamu dipecat dan dicap tidak toleransi. “Pergi sana ke gurun, nggak cocok tinggal di NKRI”

Apa salahnya menanyakan agama seseorang jika tujuannya baik untuk kemaslahatan dan menciptakan kerukunan. Lah, dasar negara kita saja menjunjungnya sebagai hal nomor satu yang harus dipenuhi. Terus kenapa dipermasalahkan?

Hey! Jangankan tanyain agama seseorang, kucing aja kalo punya agama pasti bakalan di tanya agamanya apa sebelum dipelihara.

Dari pada sibuk membahas hal-hal yang nggak subtansi, mendingan cari hal lain yang benar-benar urgent dan butuh perhatian lebih banyak. Sepantasnya yang perlu kita terapkan saat ini adalah membuka selebar-lebarnya ruang publik untuk agama itu sendiri.

Memberikan kesempatan untuk agama dan penganutnya agar bisa tampil dan diterima dengan akal dan pikiran yang dingin. Dengan batasan-batasan yang wajar tentunya.

Kita sadar bahwa konflik antar agama itu sangat rentan terjadi, maka jangan pernah juga kita menutup diri dan buat agama menjadi hal yang eksklusif dan sensitif jika dibahas. Khususnya di Indonesia yang sangat beragam keyakinan agama dan budaya ini.

Tapi sebaliknya kita perbanyak edukasi dan bebagai informasi kepada masyarakat untuk saling kenal dan lebih dekat satu sama lainnya.