It is not the strongest of the species that survives nor the most intelligent. It is the one most adaptable to change“ -- Charles Darwin. 

Petikan Charles Darwin yang sarat dengan kebijakan dalam positivisme distraksi dan disrupsi pandemik Covid-19. Charles Darwin menjelaskan bahwa spesies yang bertahan adalah yang mampu beradaptasi. Bukan sebaliknya, yang cerdas atau yang kuat, tapi keras kepala.

Adaptasi adalah kunci utama dalam pandemi Covid-19. Kita berupaya untuk mampu beradaptasi dengan distraksi dan disrupsinya. Secara leksikal atau makna kamus, disrupsi dan distraksi hampir sama maknanya, yaitu gangguan atau usikan.

Covid-19 berhubungan erat dengan sifat virus yang viral atau mudah menyebar. Virus ditemukan di hampir setiap ekosistem di Bumi dan merupakan jenis entitas biologis yang paling banyak jumlahnya.

Maka dari itu, distraksi dan disrupsinya juga besar dan bersifat massal. Dengan kata lain, jika sudah berpandemik, maka biosfera bumi telah diwabahi, dan siap dengan adaptasi distraksi dan disrupsinya. 

Kedua kata tersebut (disrupsi dan distraksi) harus dipahami dengan arif dan bijaksana serta menggunakan akal sehat. Memahaminya jangan menggunakan teologi fatalistik ataupun pemahaman apatis lainnya yang emosional dan sektarian. 

Khususnya jika dihubungkan dengan azab, kesombongan bertuhan, keangkuhan doa tanpa usaha, tawakal yang tak etis ataupun tafsir aneh-aneh yang tidak logis dan ngawur.

Bijak juga untuk mematuhi karantina dan social distancing (jeda berkumpul) ataupun himbauan positivisme pemakain alat bantu kesehatan semisal masker dan cairan sanitizer serta prosedur dan panduan lainnya.

Kesadaran masyarakat dan pemerintah diperlukan dalam dua hal pokok, yaitu: beradaptasi terhadap disrupsi dan distraksi pandemi Covid-19 serta berusaha memotong viralnya pandemik ini.

Karena sifat dari Covid-19 adalah droplet viralist (penyebaran via percikan) pada cecair batuk dan flue pada, maka sangat diuntungkan jenis adaptasi distraksi dan disrupsinya yang simpel dengan memakai masker dan cairan sanitizer.

Bayangkan jika viralnya berjenis airborne aerial viralist (via hantaran udara bebas), maka bisa dibayangksn penduduk bumi memakai masker mahal yang dilengkapi dengan saringan udara.

Be disruptive, or you will be disrupted", begitu kira-kira benang merahnya, jangan keras kepala, beradaptasilah!

Untuk itu diperlukan kesadaran kolektif dari  pemerintah dan masyarakat untuk terus berusaha beradaptasi dari disrupsi  dan distraksi Covid-19.

Fenomena distrupsi dan distraksi akan berimbas pada kesetimbangan sekat sosial yang munculkan hal-hal yang bersifat antisosial seperti karantina dan social distancing (jeda berkumpul).

Kejayaan berserikat dan berkumpul pada social gathering terusik sementara. Ini juga diperlukan kebijakan bertahap dan bertanggungjawab dalam membuat sekat-sekat dan jarak berserikat serta berkumpul. 

Antisosial tersebut akan dan pasti berimbas pada neraca laba-rugi, komunikasi interpersonal dan transaksional serta roda perekonomian dan ketahanan berserikat baik temporal atau jangka panjang. 

Distraksi and disrupsi Covid-19 terhadap sekat sosial memunculkan situasi di mana telah terjadi perubahan-perubahan yang sangat cepat.

Distraksi dan disrupsi Covid-19 mengubah “cara-cara lama” dengan “cara-cara baru”,  yang berimbas pada perubahan fundamental berbagai sendi kehidupan, mengacak-acak pola tatanan lama. 

Dan, itu perlu kemampuan beradaptasi, seperti misalnya semua serba jarak jauh atau long distance choices  dengan pemanfaatan internet. 

Dalam sebuah distraksi dan disrupsi hanya  menyisakan dua pilihan, berubah atau punah! Adagium berubah atau punah tampaknya juga berlaku di dunia virologi sebagai imbas dari fenomena disrupsi dan distraksi.

"How to make a deal for adaptation of self disruption and self distraction?" merupakan salah satu kata kunci “bertahan hidup” yang diajarkan Covid-19 pada masa sekarang dan untuk peningkatan adaptasi virologi di masa mendatang. 

Ketika dampak  disrupsi semakin nyata, janganlah kita masih terlilit pola pikir  keras kepala dan kaku fatalistik,  bahwa hal tersebut terjadi “di luar sana” dan “masih jauh” ataupun "takdir Tuhan".

Ketika pandemi ditetapkan setelah memenuhi tiga kondisi: menculnya penyakit baru pada penduduk, menginfeksi manusia dan berdampak fatal, maka bersiaplah untuk beradaptasi.

Pemanfaatan media sosial sebagai inovasi teknologi  pada era kini sudah menjadi suatu keniscayaan dalam menggalang adaptasi dan survival yang disebabkan oleh disrupsi dan distraksi Covid-19.

Ia sebagai kanal  yang berperan dalam mengoptimalkan diseminasi yang perlu terus diikuti dengan dengan konten-konten positivisme di tengah keras kepalanya pemahaman fatalistik tentang Covid-19.

Dalam kaitannya dengan sekat sosial akibat usikan Covid-19 tersebut, transformasi pola komunikasi  dari pola komunikasi linier menjadi  pola komunikasi yang simetris yang real time sangat efektif sebagaimana ciri fase interactive communication era dalam penggalangan kesadaran terhadap pandemi 

Ia menjadikan  tuntutan engangement masyarakat meningkat sehingga  peran strategis pemanfaatan media sosial oleh pemerintah dan masyarakat yang menjadi sakah satu jawaban atas keterasingan antisosial pada disrupsi dan distraksi Covid-19.

Khalayak tidak lagi obyek pasif, namun dapat berperan menjadi produsen informasi (prosumer).

Masyarakat sebagai khalayak tidak lagi pada posisi objek yang dideterminasi media massa arus utama, tetapi lebih jauh dapat berperan memproduksi berita dan membentuk opini publik via platform media sosial.

Melalui media sosial memungkinkan pengguna berinteraksi, berbagi dan berkomunikasi yang membentuk ikatan sosial secara virtual dalam masyarakat jejaring (networking society) yang ditandai dengan munculnya jurnalisme warga (citizen journalisms) dalam sebuah keterasingan social distancing akibat usikan Covid-19.

Fenomena ini menempatkan media sosial sebagai garda terdepan dalam komunikasi antisosial sebagai imbas usikan Covid-19 sekaligus berperan membentuk opini publik yang positif tentang Covid-19.