Manusia abad kedua puluh semakin membuat gelak tawa karena kelakuannya yang semakin hari semakin terlihat jenaka. Tak peduli apa yang akan orang lain rasakan karena ulahnya, yang penting kepuasan nomor satu ada pada dirinya.

Agaknya, perlu adanya siraman paradigma supaya semakin hari manusia semakin menunjukkan kelasnya. Berbagai macam berita, isu, kasus, hingga fenomena-fenomena yang terjadi setiap hari tidak pernah lepas dari ulah manusia. 

Manusia berakal pasti tahu, mengambil hak orang lain adalah perilaku yang tidak terpuji. Korupsi, contohnya. Mengambil atau menerima yang bukan haknya adalah jelas bukan cerminan pribadi yang semestinya. Anehnya, kenapa hal itu masih terjadi pada diri manusia?

Tidak setuju pada diskriminasi dengan dalih menjunjung tinggi kesetaraan umat manusia, tetapi menolak calon mantunya karena berasal dari suku/ras yang berbeda. Mengetahui bahwa agamanya mengajarkan kebaikan, penuh kasih sayang, dan kelembutan, tapi bertindak penuh kekerasan. Perokok yang mengetahui bahwa rokok itu berbahaya, tetapi masih tetap merokok.

Disonansi Kognisi. Adanya kesenjangan/ketidaksesuaian/gap antara pikiran, keyakinan, sikap dengan perilaku yang ditunjukkan.

Kasus-kasus yang telah disebutkan di atas adalah hanya sebagian kecil dari banyaknya kasus maupun fenomena manusia-manusia jenaka. Sehingga memunculkan pertanyaan besar mengapa mereka terus mempertontonkan kelucuannya. Ada 4 hal yang mendasari itu semua. Antara lain, inkonsistensi logis, nilai-nilai budaya, pendapat umum, dan pengalaman masa lalu.

Inkonsistensi logis terjadi karena banyaknya logika yang muncul pada otak manusia. Dalam perjalanannya, logika-logika yang tumbuh tak memungkiri akan saling mengingkari logika yang lainnya. Perokok mengalami hal ini. Salah satu logika mengatakan bahwa rokok adalah barang yang berbahaya untuk kesehatan, tetapi logika yang lainnya mengatakan rokok adalah pemuas oralnya agar menjadi lebih tenang dan rileks.

Nilai-nilai budaya yang terdiferensiasi di setiap penjuru dunia juga menjadi alasan mengapa disonansi kognisi ini bisa terjadi. Dalam budaya Eropa, sebuah pesta dalam penjamuannya harus mengenakan sendok dan garpu. Berbeda dengan apabila makan di sebuah warung pinggir jalan di Jakarta. Makan tanpa sendok atau garpu alias dengan tangan kosong adalah hal yang lumrah. Disonansi akan terjadi apabila budaya ini ditukar.

Pendapat umum. Disonansi dapat terjadi apabila pendapat yang dianut banyak orang dipaksakan kepada pendapat perorangan yang juga akan menyebabkan terjadinya turbulensi kognisi. Sebagai contoh, seorang remaja yang menyanyikan lagu keroncong. Hal ini dapat menimbulkan disonansi karena pendapat umum percaya bahwa lagu keroncong hanya merupakan kegemaran orang tua.

Jika kognisi tidak konsisten dengan pengetahuan pada pengalaman masa lalu, hal tersebut juga dapat menyebabkan terjadinya disonansi. Orang yang pengalaman masa lalunya mengetahui bahwa hujan tidak akan menyebabkan banjir, setelah ada fenomena banjir karena hujan, itulah yang menyebabkan terjadinya disonansi.

Pada dasarnya, disonansi kognisi akan membuat orang yang mengalaminya merasa resah. Kondisi kesenjangan tersebut mengakibatkan ketidaknyamanan psikologis. Akan selalu berada pada situasi konflik psikis.

Seperti orang yang tidak suka dengan pekerjaannya, tetapi harus bertahan selama bertahun-bertahun karena tuntutan kebutuhan dan kurangnya keberanian untuk mencari pekerjaan lain. Tidak terbayang lelah mentalnya seperti apa karena konflik psikis yang terus terjadi.

Manusia sebagai makhluk berakal, apabila mengalami kerasahan, konflik psikis, ketidaknyamanan secara psikologis, selalu memiliki cara agar disonansi kognisi yang dialami bisa hilang atau setidaknya dikurangi.

Dengan mengubah salah satu elemen kognisi agar sesuai dengan pemikiran. Perokok yang mengatahui rokok itu berbahaya, kemudian masih tetap merokok, untuk menghilangkan disonansi kognisinya, perokok itu dapat dipastikan akan berhenti merokok. Terdengar merdu, karena memang mengubah tingkah laku yang telah menjadi kebiasaan tidaklah mudah.

Juga dengan cara menambah elemen kognisi yang baru agar konsonan dengan elemen kognisi yang lain. Perokok yang masih ingin tetap merokok, padahal sudah mengetahui rokok itu berbahaya, akan menambah elemen kognisinya.

Dengan cara mencari informasi terkait perilaku merokok yang dapat menurunkan disonansi kognisinya. Seperti informasi bahwa ada seorang lansia yang masih tetap merokok dan masih terlihat sehat. Atau informasi bahwa minuman keras lebih mematikan daripada perilaku merokok. Intinya, mereka akan mencari alasan agar perilaku yang dilakukannya masih dianggap normal.

Cara mereduksi disonansi kognisi yang paling sering dilakukan adalah dengan cara rasionalisasi untuk membenarkan diri. Meyakinkan diri sendiri bahwa perilaku yang dilakukan saat ini atau di masa lampau semuanya masuk akal dan dapat diterima. Dengan tujuan agar tercipta kedamaian di hati dan pikiran. Secara refleks, orang akan berusaha mempersempit disonansi kognisi dengan mencara dalih.

Tidak perlu heran mengapa koruptor selalu memiliki alasan ketika masalah korupsi menerpanya. Karena mereka selalu mempersiapkan dalih atas perbuatannya. Karena merekalah manusia jenaka sesungguhnya.