Jangan biarkan pikiran kosong, kira-kira seperti itu, bahkan dalam ketidakmampuan bergerak mencari arti seseorang harus terbuka dalam memperbincangkan apa yang menjadi keluh kesah menimpa batinnya selama ini. Ia tak bisa berjalan menyendiri, atau pergi ke tebing yang memiliki jurang tinggi untuk merefleksikan pikiran, tentu jadi malah mengundang niat bunuh diri.

Itu adalah tindakan yang tak baik, karena seseorang membutuhkan gandengan perspektif dari kawan-kawan juga untuk memperkuat perencanaan dan wacana jalan hidup kedepannya, karena bagaimanapun setiap permasalahan membutuhkan jalan keluar dan dorongan. Ia memiliki cabang dan berbagi adalah kunci. 

Setiap manusia memiliki suatu permasalahan yang tidak semuanya bisa diselesaikan secara pribadi, dibutuhkan ruang imajiner tanpa batas, yaitu tempat berkumpulnya para pemikir dalam satu meja panjang yang berisikan 5, 6, sampai 10 orang dalam satu meja bahkan bisa lebih jika memungkinkan demi memancing gagasan cemerlang penuh pencerahan, maka dibukalah satu kegiatan produktif, sebuah upaya melahirkan inspirasi itu dengan diskusi Pemacu ide.

Kita telah melihat dan menyaksikan di zaman yang tengah disibukkan dengan fenomena meriahnya viral di sosial media, sering sekali aktifitas itu bisa berdampak buruk pada besarnya waktu hingga terbuang dengan sia-sia. manusia kini berpaling pada pembicaraan, bila berkumpul maka masing-masing sibuk dengan gadget yang ia pegang. 

Suatu pandangan yang apabila diperhatikan sangat mengganggu, hilangnya kesempatan untuk bertukar pikiran dikala mata terus meratap gadget adalah kegiatan fana, tak ada paket data, wifian pun jadi, maka ketika ingin nongkrong sama kawan-kawan yang dicari bukan fokus menggali gagasan melainkan ada WiFi atau enggak ? 

Bangsa kita tengah menghadapi krisis yang berkepanjangan, ketika film bioskop diriuhkan dengan film hantu tapi banyak mesumnya maka orang tak takut pada hantu melainkan mencari di google siapa artis dan perannya, maka itu sudah menandakan bahwa konsumsi rakyat perlahan sudah mulai kacau, tak ada orang yang ingin menjadi cerdas dan orang sibuk memilih untuk mencari kepuasan nafsu belaka daripada menjadi kritis. 

Rupa-rupanya krisis itu semakin diperparah lagi dengan ramainya ajang saling lomba pamer kemewahan di sosial media, tak ada yang upload makan di warteg, tak ada yang upload foto ketika sedang menyebrang pulau dengan perahu, dan malah banyak yang lomba ketawa-ketiwi bikin boomerang instagram dengan makan di restoran mahal. Pertanyaan mau dibawa nasib bangsa ini ? Apakah kita ingin terus diperbudak oleh sosial media ?

Setiap tokoh, guru, dan pendidik yang memiliki tanggung jawab besar pada masa depan bangsa akan merasa keresahan yang begitu menggalaukan, tiap malam berpikir dan merasa terbebani bila ada muridnya yang tak mampu berpikir kritis terhadap dunia disekitarnya, seorang guru akan merasa tertekan bahkan sesak bila melihat muridnya sibuk dengan gadget daripada buku, bermalam-malam, berbulan-bulan, bertahun-tahun pendidik berjuang menguras pikiran bagaimana muridnya agar candu kepada buku dan membaca bukan sibuk mencari viral di dunia maya. 

Melihat keterpurukan tersebut menyebabkan keresahan dan timbullah sebuah inspirasi yang menggerakkan, seseorang akan berpikir sama bahwa ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, atau jangan dianggap nanti pasti berubah. jika diberi kesempatan ijinkan saya mengajukan saran kepada salah satu pertelevisian Indonesia yang mungkin jenuh dengan menyiarkan mars partai atau siaran sensasi gosip, dan hebdaklah mengisi kekosongan tayangan tersebut dengan revolusi penggerak bangsa berbasis literasi.

Saya merasa betapa pentingnya dibuat "Indonesia Literacy Club", yaitu tempat kumpulnya para pencinta buku dan penulis berdiskusi memikirkan minat baca Indonesia, bagaimana agar minat baca masyarakat kita meningkat, bukan sekedar diadakan seminar, foto-foto share di Facebook berharap banyak like, lalu besoknya udah lupa, maka takkan ada kesadaran literasi melainkan kesadaran ajang pamer dengan menggunakan topeng literasi, karena sudah banyak di wilayah kita yang sibuk bikin seminar bukannya dipedesaan melainkan di hotel mewah agar bisa foto cantik. 

Literasi tidak seperti itu, literasi bukan tempat ajang pamer atau sekedar pencitraan, literasi itu menumbuhkan dan menyadarkan, walau besar peluang banyak para calon wakil daerah yang menggunakan literasi sebagai topeng politik kampanye untuk menggaet suara di pilkada. Indonesia Literacy Club yang spesifik memperjuangkan minat baca masyarakat. 

Kalau Indonesia Lawyers Club berfokus pada hukum maka Indonesia Literacy Club berfokus pada minat baca masyarakat. Jadi semacam ada pemberontakan berbasis literasi, karena sering kita baca-baca di media massa bahwa opini dan esai yang ditulis para waria itu rata-rata berjiwa pemberontak, takkala seperti membaca karya-karya esai dari Albert Camus, kita sebagai pembaca akan terbakar dan membara merasakan energi tulisan itu hidup justru takkala penulis mampu membuat pembaca tercengang seraya memberontak kepada mereka yang serakah dan sering menindas rakyat bawah. 

Secara pribadi dan pengalaman membaca, Ada 2 pilihan dalam menciptakan esai yang enak dibaca, menulis secara memberontak dan Menulis sebagaimana esensi hujan, yang jatuh meneduhkan pembaca, setiap penulis memiliki prinsip masing-masing.

Namun jika berkaca dari penulis Indonesia saya lebih terinspirasi dan mengenak oleh Goenawan Mohamad dan Bambang Sugiharto, lebih struktural dan tersistem, mengawang namun tak meninggalkan logika dan data, dan meracik kutipan Goenawan Mohamad ini yang harus diperdalami dalam setiap diskusi maupun perkuliahan, kenapa tulisan itu memiliki energi yang menyengat.