Peneliti
5 bulan lalu · 127 view · 3 min baca · Pendidikan 12339_46609.jpg

Diskusi Etika Profesi Guru

Baru baru ini kita disuguhkan video viral,video seorang siswa memukul gurunya di Gresik, Jawa Timur. Bukan seorang, tapi beberapa anak yang memukul gurunya keroyokan. 

Cerita awalnya, guru yang masih honorer ini melarang anak-anaknya merokok di kelas. Namun, larangan guru ini tidak diterima dengan baik.

Kemudian video viral ini kami diskusikan pada kelas Etika Profesi Guru oleh mahasiswa jurusan Manajemen Pendidikan Islam S1, STIT Al Chaeriyah, Mamuju, Sulawesi Barat.

Dari hasil diskusi yang juga banyak dihadiri teman-teman mahasiswa yang juga berprofesi sebagai pendidik ini sangat menyayangkan kejadian tersebut dan berharap tindakan tersebut tidak terulang lagi di dunia pendidikan. 

Kata Kardi, seorang mahasiswa yang vokal, setelah melihat video tadi, dia melihat guru yang terlalu sabar. Intinya, ketegasan seorang guru sangat diperlukan dalam menghadapi siswanya itu sendiri.


Sejalan dengan Kardi, Sahertian (1994) menulis bahwa seorang guru harus menguasai psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Guru menjadi penanggung jawab dalam pemberian disiplin. 

Lebih lanjut, Sahertian menambahkan jika guru harus menjadi contoh disiplin di sekolah. Apabila guru tidak mampu menegakkan disiplin di sekolah, maka sekolah akan menjadi seperti kincir yang tidak berair.

Menurut kami, kincir yang tidak berair bisa diartikan guru yang tanpa wibawa. Oleh karena itu, mereka, mahasiswa, juga membuat beberapa poin yang akan dijadikan rekomendasi, baik bagi siswa, guru, dan orangtua siswa atau masyarakat.

Bagi siswa, mereka boleh 'berbangga' dengan Undang-Undang Perlindungan Anak, di mana pemerintah telah memperhatikan hak sebagai seorang anak. Namun, di sisi lain, mereka juga harus bisa mematuhi peraturan-peraturan di sekolah yang telah diterapkan. 

Bagi guru, guru diminta lebih tegas dalam mengambil keputusan atau dalam menangani anak-anak atau siswa. Sekolah juga harus bisa lebih disiplin menerapkan aturan. 

Orang tua sebagai perwakilan dari masyarakat diharapkan lebih memperhatikan akhlak anaknya. Apalagi lingkungan pergaulan bermain dan belajar anaknya.

Lebih lanjut, seorang mahasiswa yang bernama Harintan menyatakan bahwa setiap orang punya karakter masing-masing. Seperti seorang anak, mereka tidak bisa diprediksi. Karakter mereka berbeda-beda sehingga penerapan etika atau akhlak tidak bisa langsung diterima apalagi diterapkan. 

Tantangan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa ini harus semakin profesional Karena semakin berat dalam menghadapi anak-anak, atau siswa ke depan dalam mengajarkan adab kalau tidak mau dianggap gagal.

Bagaimana adab ke guru hari ini? BERANI.

Bagaimana adab atau tingkah laku siswa ke guru hari ini? Katanya, anak-anak semakin berani pada orang yang lebih tua. Mereka tidak sopan lagi. Ini kemudian menjadi pertanyaan bersama. Mau metode pengajaran yang dulu atau sekarang? 


Dulu orang tua kita dikerasi, bahkan dipukul. Tapi, tidak ada yang melawan bahkan mereka yang dipukul jadi 'orang' bisa sukses karena 'kekejaman' guru.

Padahal, konsep belajarnya mungkin sama dengan daftar sederhana Freire (2007), menyusun daftar antagonisme pendidikan gaya bank atau 'Banking concept'. 

Konsep bank menurut Paulo Freire adalah cara guru yang memandang bahwa mengajar itu seperti orang yang memasukkan uang ke bank. Uang dimasukkan ke bank akan mendapatkan bunga. 

"Guru mengajar, murid belajar. Guru mengatur, murid diatur. Guru sebagai subjek proses belajar, murid obyeknya... " Konsep seperti ini tidak manusiawi (dehumanisasi) karena tidak terjadi dialog sehingga subjek didik tidak menemukan dirinya.

Walau (mungkin) sukses sebagai anak didikan gurunya yang (mungkin) menemukan diri dan jati dirinya.

Sekarang, anak didik sudah dilembuti  atau mungkin guru sudah menggunakan teori Freire tapi malah (tambah) melawan dan melunjak. Apalagi dengan adanya undang-undang dan pasal HAM yang bisa menjerat pelaku atau guru yang memukul siswanya.

Memilih metode cara pengajaran guru dulu atau sekarang menjadi blunder. Tidak menutup kemungkinan jika dulu ada (banyak) siswa yang menjadi korban kekerasan guru karena dipukul namun tidak berani melapor. Tapi, sekarang guru juga ada (banyak) menjadi korban kekerasan dari siswa.

Padahal, menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan sejatinya merupakan daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup, yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya (Hermino, 2013:2).

Baiklah, kelas kita tutup dengan PR besar, sebagai guru yang beretika D=dan berprofesi guru. Bagaimana guru lebih beretika sebagai guru agar bisa menjadi contoh nyata bagi siswanya.


Guru biasa = "Mengatakan"
Guru yang baik = "Menerangkan"
Guru yang superior = "Mendemonstrasikan"
Guru yang hebat = "Memberi Inspirasi"
(Peter, 1986:120 dalam Sahertian, 1994).

Terima kasih: Kardi Calon Ketua BEM, Rahmah guru yang bijak, Iis yang suka diskusi. Harintan atas idenya, Jusmia yang cemerlang, Asia yang blak-blakan, Ammoz so fotografer andalan, Dan Pak Ahmad atas traktirannya. Luv U, all.

Artikel Terkait