Semoga ini bisa menjadi rekomendasi buku tasawuf tokoh (FIP).

Beberapa hari yang lalu, teman saya, Fiqram Iqra Pradana yang tinggal di Mamuju, ibu kota provinsi Sulawesi Barat, melalui chat WhatsApp (WA) mengajak saya “ngobrol di live Instagram(IG)” untuk membincangkan buku tentang wali Imam Lapeo yang saya tulis.

Saya yang sedang berada di desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat tentu saja sangat senang atas ajakannya. Sebelumnya, bedah buku yang sedianya akan dilaunching di kafe Libertaria, Yogyakarta, akhirnya batal karena Korona.

Setelah gagal di Jogja itu, saya memang berencana melaunching. Namun, saya belum menemukan waktu yang tepat, dan masih bingung ingin mengajak siapa menjadi penyelenggara.

Saya hanya baru me-launching buku dengan "simpel" di acara halal bihalal keluarga kami, Annangguru Sanah dan Kanne Abbas, setelah lebaran Idul Fitri lalu atas dorongan keluarga di dunia virtual, zoom.

Walau bukan buku baru lalu, karena buku Imam Lapeo ini merupakan cetak ulang yang pernah terbit di tahun 2013 pada penerbit yang berbeda. Namun, saya tetap excited, karena peminat buku ini masih banyak. 

Mungkin, karena ketokohan beliau, tokoh yang saya tulis adalah seseorang yang dianggap sebagai bagian dari wali pitu atau tujuh wali, konsep wali milik masyarakat Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) secara umum.

Saya kemudian bertanya ke Fiqram; temanya apa, apa yang ingin dibahas. Lalu Fiqram membalas, katanya, seputar buku saya, Imam Lapeo.

“Ow iye, proses kreatif (pembuatan) buku Imam Lapeo, dan lain-lain di?”

“Kecerdasan spiritual Imam Lapeo?”

Saya terhenyak membaca balasan Fiqram, kecerdasan spiritual Imam Lapeo, sesuatu yang tinggi sekali di benakku. Sesuatu yang penuh spirit, mistik, dan sangat religius walau memang itu Imam Lapeo BGT. 

Imam Lapeo adalah seorang wali kampung yang lahir di Pambusuang, menjadi Imam di desa Lapeo, dan menjadi Kadi Tappalang, Sulawesi Barat di masa hidupnya. Saat ini makam beliau tetap ramai dikunjungi peziarah-peziarah.

Maka benarlah pengertian wali menurut Chambert-Loir (2009) yang mengatakan bahwa wali adalah seseorang yang selain mempunyai bakat (spiritual) sejak lahir kemudian mempelajari dan menekuni laku spiritual, juga dianugerahi dengan kekuatan-kekuatan supernatural. Kekuatan-kekuatan ini berkonsentrasi pada wujudnya dan setelah meninggal kekuatan itu ada pada makamnya.

Walau di Lapeo itu sendiri, bukan hanya makam Imam Lapeo yang ramai dikunjungi orang, namun juga masjid peninggalan beliau dan rumah beliau, boyang kayyang.

Rumah itu yang kini ditempati oleh anak, cucu, dan cicit juga ramai dikunjungi orang. Selain karena peziarah-peziarah tadi ingin bersilaturrahmi dengan keturunan langsung Imam Lapeo, mereka juga ingin minta didoakan seperti Imam Lapeo mendoakan orang-orang yang dulu datang kepadanya.

Rabu malam pun tiba

Diskusi Buku; Ngobrol seputar pengalaman penulis dalam meneliti dan mengumpulkan sumber data buku Imam Lapeo wali dari Mandar, Sulawesi Barat. Bersama Zuhriah (penulis buku) dan Fiqram Iqra Pradana (Host). #MenggelitikOtakEPS.5. Live [email protected]_brain @zuhriaholic. Rabu, 15 Juli 2020 (20.00 Wita – Selesai).

Begitu redaksi e-flyer yang diberikan oleh Fiqram padaku, pagi hari. Saya dengan semangat 45 membagikan e-flyer tadi ke beberapa media sosialku seperti status WA, FB, dan IG yang ditanggapi beberapa orang, baik sanak keluarga, sahabat, teman, dan kolega untuk ikut bergabung.

Saya melalui hari dengan cepat, karena di siang hari, saya menemani sahabat saya sewaktu kuliah di Jogja. Ia adalah Ana dosen Arkeologi Unhas. Kami ke Pamboang, Majene; kami memang baru bertemu lagi setelah bertahun-tahun lamanya.

Malam pun tiba, setelah melakukan ritual Magrib, dan makan malam yang sangat mengenyangkan, jam delapan kurang saya menyalakan data di hape. Acara diskusi buku akan dimulai. Sebelumnya, Fiqram sudah menanyakan kesiapanku untuk OTW IG.

Di IG Mana_brain, Fiqram sudah live. Manabrain yang mengusung tagline healthy brain for healthy life merupakan institut yang dibentuk oleh Fiqram. 

Manabrain adalah sebuah NGO yang bergerak di bidang SDM berdasarkan aplikasi ilmu Neurosains mutakhir. Di kontennya di IG, Mana_brain banyak melakukan eksploirasi terhadap kecerdasan manusia dari berbagai bentuk, jenis, dan macam. Salah satu caranya menggali potensi kecerdasan tadi melalui diskusi dengan ringan, gampang, dan nyaman alias santuy bersama seorang narasumber.

Tampak Fiqram tampil dengan performance yang sangat profesional, memakai kemeja. Ia memang bekerja di bank, Mamuju setiap lima hari kerja, dan pembawa acara TVRI Mamuju di hari sabtu-minggu. Ia juga masih membaca buku dengan menjadi resentor buku di sebuah pegiat literasi, Resensi, dan juga masih sempat melakukan “terapi otak” pada orang-orang.

Ketika aku masuk di live IG, Mana_brain, Fiqram menyapa dengan ramah. Aura spiritualitas terpancar dari dirinya. Saya tersenyum, saya jadi bersemangat. 

Walau di sela-sela diskusi, saya sempat beberapa kali, tidak mendengar suara Fiqram karena jaringan timbul-tenggelam, but overall, itu bukan masalah yang berarti. Diskusi buku tetap bisa berjalan lancar.

Pada diskusi kali ini, Fiqram yang dulu juga pernah belajar tasawuf ketika kuliah S1 banyak bertanya ke saya mengenai banyak hal, mulai dari apa perbedaan buku ini dan dulu dan sampul buku yang lebih kontemporer.

Mengapa saya menulis tentang Imam Lapeo. Bagaimana peziarah Imam Lapeo sampai hari ini. Apa jenis tasawuf atau tarekat Imam Lapeo. Siapa saja yang bisa disebut sebagai wali. Dan sebagainya, sampai pada kehidupan spiritual hari ini.

Rasanya seperti bukan diskusi, hanya ngobrol-ngobrol biasa di warung kopi. Terkadang kami bercanda, terkadang kami serius. Perbincangan yang berlangsung sejam itu akhirnya berakhir. 

Padahal, ngobrol dengan Fiqram dengan konsep Manabrain punya sangat menyenangkan. Saya pribadi membuka kembali kenangan sewaktu kuliah dan menyusun tesis yang telah menjadi buku ini. 

Saya pribadi juga membagi spiritual ala saya seorang yang tidak begitu "religius dan kaku" dalam beragama. Mungkin karena leluhur kami merupakan penganut Islam tradisional dan kami ingin selalu berada dalam naungan spiritual yang seperti ini, amin.

Terima kasih, Fiqram, Manabrain, sudah mengundang kami menjadi pemateri di acara menggelitik otaknya. Semoga di kesempatan lain kita bisa berdiskusi lebih banyak hal lagi dengan tema yang berbeda. Mungkin dengan tema zikir yang bisa bikin terbang ke langit ke tujuh.